6 Teknik Marketing Memanfaatkan Psikologi Manusia, Patut Dicoba!

6 Teknik Marketing Memanfaatkan Psikologi Manusia, Patut Dicoba!

Di tengah dunia yang dipenuhi dengan berbagai pilihan produk dan layanan, para praktisi marketing terus berupaya mencari cara terbaik demi menarik perhatian konsumen.

Salah satu strategi yang terbukti ampuh mendorong penjualan ialah memanfaatkan psikologi manusia.

Sebagai rekomendasi, berikut 6 contoh teknik marketing yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menciptakan koneksi emosional dengan konsumen!

  1. Urgensi dan Scarcity: Membuat Waktu Berbicara

Suatu hari, Anda melihat iklan yang menyatakan, “Penawaran terbatas! Hanya untuk 24 jam!”

Tanpa sadar, Anda merasa tertarik dan ingin segera memanfaatkan kesempatan tersebut.

Teknik ini bekerja dengan menciptakan rasa urgensi dan kelangkaaan (scarcity). Tujuannya sederhana: memotivasi konsumen untuk bertindak cepat sebelum kesempatan itu hilang.

Apple secara teratur menggunakan strategi ini dalam peluncuran produk baru mereka.

Misalnya, saat launching iPhone terbaru, mereka sering menyertakan pernyataan, seperti “Hanya tersedia untuk pre-order selama 24 jam” atau “Stok terbatas”.

Hal tersebut menciptakan kesan urgensi di antara konsumen sehingga mendorong mereka untuk segera melakukan pembelian agar tidak kehilangan kesempatan.

  1. Otoritas: Membangun Kepercayaan Melalui Figur

Ketika seorang ahli di bidangnya memberikan saran atau menyampaikan testimoni, itu bukan sekadar kata-kata.

Praktisi marketing yang cerdas, tahu bagaimana menggunakan otoritas ini untuk membangun kepercayaan konsumen.

Mereka menyertakan testimoni dari pakar, sertifikasi, atau pengakuan dari lembaga-lembaga terkemuka untuk meyakinkan bahwa produk atau layanan yang ditawarkan memang patut dipertimbangkan.

Pepsodent sering menampilkan iklan dengan penjelasan dari dokter atau ahli kesehatan gigi yang merekomendasikan pasta gigi mereka.

Dengan melibatkan otoritas medis, Pepsodent berusaha membangun kepercayaan konsumen terhadap keefektifan produk mereka dalam menjaga kesehatan gigi.

  1. Social Proof: Menggugah Kepercayaan Lewat Pengalaman Orang Lain

Ketika kita melihat teman atau keluarga menggunakan produk maupun layanan tertentu dengan sukacita, kita cenderung merasa lebih percaya diri untuk mencoba hal yang sama.

Para pegiat marketing menggunakan social proof (bukti sosial) dengan menampilkan ulasan positif, testimoni, atau statistik penjualan untuk membuktikan bahwa banyak orang telah membuat pilihan yang bijak.

TripAdvisor merupakan contoh platform yang memanfaatkan social proof secara efektif.

Ulasan dan peringkat dari wisatawan sebelumnya memberikan gambaran langsung tentang pengalaman yang bisa diharapkan pengunjung lainnya.

Terbukti, restoran atau hotel dengan ulasan positif lebih cenderung menarik perhatian dan kepercayaan potential buyer.

  1. Reciprocity: Memberi Sebagai Cara Membangun Hubungan

Pernahkah Anda menerima sampel produk gratis atau diskon khusus sebagai ucapan terima kasih atas suatu pembelian?

Ini adalah contoh dari prinsip reciprocity.

Teknik ini ditandai dengan adanya insentif khusus untuk menciptakan hubungan timbal balik dengan konsumen, meningkatkan loyalitas dan memotivasi mereka untuk kembali berbelanja.

Sephora, e-commerce di bidang kecantikan dan perawatan kulit, memiliki program loyalitas yang memberikan hadiah gratis, sampel produk, dan diskon eksklusif kepada para membernya.

Dengan memberikan insentif kepada pelanggan, Sephora menciptakan feedback yang kuat, sehingga pelanggan merasa dihargai dan lebih mungkin untuk kembali berbelanja di toko tersebut.

  1. Kepentingan Pribadi: Pesan yang Menyentuh Hati

Orang-orang marketing yang sukses tahu bahwa setiap konsumen adalah individu dengan nilai dan kebutuhan yang unik.

Mereka menyesuaikan konten pemasaran yang meningkatkan keterlibatan (engagement), membangun ikatan emosional, dan membuat pelanggan merasa diperhatikan.

Contoh nyata implementasi strategi ini ditunjuukan Nike dengan menawarkan layanan NikeiD yang memungkinkan pelanggan untuk menyesuaikan sepatu mereka sendiri.

Nike memasukkan elemen personal, seperti warna, gaya, dan pesan khusus. Dengan demikian, pelanggan merasa bahwa sepatu yang mereka beli tidak hanya sesuai dengan gaya yang diimpikan, tetapi juga mencerminkan kepribadian unik mereka.

  1. Efek Baader-Meinhof: Dari Tidak Tahu Menjadi Tahu Terus-Menerus

Pernahkah Anda menyaksikan iklan suatu produk, dan tiba-tiba Anda mulai melihatnya di mana-mana?

Ini disebut efek Baader-Meinhof atau sering disebut “Frequency Illusion.”

Para ahli marketing menggunakan prinsip ini dengan menampilkan produk secara konsisten guna menciptakan brand awareness yang lebih tinggi bahkan menyetir terjadinya sebuah tren baru.

Coca-Cola berhasil menciptakan efek Baader-Meinhof melalui branding yang konsisten. Logo merah dan putih yang khas dan campaign iklan yang sering muncul di berbagai media telah membuat merek ini dikenali di seluruh dunia.

Melalui konsistensi ini, Coca-Cola berhasil membuat konsumen melihat brand mereka di banyak tempat.

Di balik gemerlap warna-warni iklan dan tawaran menggiurkan, terdapat rahasia psikologi manusia yang memainkan peran penting dalam keputusan pembelian kita.

Marketing bukan hanya tentang produk atau layanan, tetapi juga tentang memahami dan terhubung dengan psikologi konsumen.

Serba-Serbi STP Marketing: Definisi dan Contoh Penerapannya

Serba-Serbi STP Marketing: Definisi dan Contoh Penerapannya

Dalam dunia yang semakin kompetitif, semua perusahaan mencari cara untuk berlomba meraih perhatian dan kepercayaan konsumen.

Salah satu pendekatan atau model yang terbukti efektif bagi pondasi pengembangan strategi marketing ialah teori STP, singkatan dari Segmentasi, Targeting, dan Positioning.

Apa yang Dimaksud Teori STP?

  1. Segmentasi (Segmentation)

Segmentasi merupakan proses membagi pasar menjadi segmen atau kelompok yang lebih kecil berdasarkan karakteristik yang sama.

Langkah ini bertujuan agar lebih memahami kebutuhan, preferensi, dan perilaku konsumen di setiap segmen.

Dengan memahami perbedaan dalam segmen pasar, perusahaan dapat menciptakan strategi pemasaran yang lebih terfokus dan relevan.

Terdapat beberapa kriteria yang digunakan dalam melakukan segmentasi, antara lain:

  • Demografi: Mencakup faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, pendapatan, dan status perkawinan.
  • Geografi: Terkait dengan lokasi geografis, seperti negara, kota, atau wilayah tertentu.
  • Psikografis: Melibatkan aspek-aspek seperti nilai-nilai, gaya hidup, dan kepribadian konsumen.
  • Perilaku: Melibatkan kebiasaan belanja, loyalitas terhadap brand, penggunaan produk, dan kebiasaan konsumen lainnya.

Misalnya, apabila sebuah perusahaan pakaian ingin menerapkan segmentasi, mereka dapat membagi pasar berdasarkan usia dan gaya hidup. Segmen tertentu mungkin ditujukan untuk remaja dengan gaya kasual, sementara segmen lain bisa saja ditargetkan bagi kalangan profesional muda dengan gaya formal.

  1. Targeting

Setelah melakukan segmentasi, langkah berikutnya adalah menentukan segmen mana yang akan menjadi target utama.

Beberapa metode targeting melibatkan:

  • Penilaian potensi pasar: Mengukur ukuran dan potensi pertumbuhan setiap segmen.
  • Analisis daya saing: Menilai tingkat persaingan di setiap segmen dan apakah perusahaan memiliki keunggulan kompetitif di segmen tersebut.
  • Evaluasi sumber daya: Mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan untuk memasuki dan mempertahankan segmen tertentu.

Targeting membantu perusahaan untuk mengalokasikan sumber daya dengan lebih efisien dan fokus pada kelompok konsumen yang memiliki minat serta kebutuhan yang paling relevan.

Contoh, perusahaan mungkin memilih untuk menargetkan segmen pasar remaja yang tertarik pada teknologi tinggi dan memiliki daya beli yang cukup.

  1. Positioning

Positioning berkaitan dengan cara perusahaan memposisikan produk atau brand di benak konsumen, dalam konteks perbandingan dengan kompetitor.

Elemen positioning umumnya meliputi:

  • Atribut Produk: Menyoroti fitur dan karakteristik khusus produk yang membedakannya dari pesaing.
  • Harga: Menentukan posisi produk dalam kisaran harga pasar, apakah itu sebagai produk mewah atau menengah.
  • Kualitas: Menciptakan persepsi tentang kualitas produk, apakah itu sebagai produk premium atau pilihan yang terjangkau.
  • Nilai Tambah: Menyoroti added-value, seperti layanan pelanggan yang unggul atau program membership.

Contoh, jika sebuah perusahaan elektronik ingin memposisikan produknya sebagai yang paling inovatif di pasar, mereka dapat fokus pada fitur canggih, teknologi terkini, dan pengalaman pengguna yang unik untuk membedakannya dari produk kompetitor.

Studi Kasus: Implementasi Strategi STP pada Produk Smartphone

  1. Segmentasi

Deskripsi:

Sebuah perusahaan teknologi mengidentifikasi beberapa segmen pasar berdasarkan kebutuhan dan preferensi konsumen.

Segmen-segmen ini mencakup profesional yang memerlukan kinerja tinggi, pecinta fotografi yang mengutamakan kualitas kamera, serta pengguna yang mencari nilai lebih dan fitur berkualitas dengan harga terjangkau.

Contoh:

Melalui analisis segmentasi, perusahaan mengenali bahwa ada pangsa pasar yang signifikan untuk setiap segmen tersebut.

  1. Targeting

Deskripsi:

Perusahaan memilih segmen yang paling konsisten dengan kekuatan dan keunggulan produk mereka.

Contoh:

Dalam hal ini, perusahaan memutuskan untuk menargetkan segmen profesional yang membutuhkan kinerja tinggi. Ini didasarkan pada kekuatan perusahaan dalam menghadirkan inovasi dan teknologi canggih.

  1. Positioning

Deskripsi:

Perusahaan menciptakan strategi dan konten marketing yang menempatkan brand mereka sebagai penyedia smartphone premium untuk kebutuhan profesional yang membutuhkan kinerja dan fungsionalitas tinggi.

Contoh:

Kampanye pemasaran menekankan daya tangguh, keunggulan kamera, dan fitur-fitur canggih yang mendukung produktivitas, serta membangun brand image sebagai pilihan utama bagi para profesional.

Hasilnya…

Dengan menggabungkan strategi STP, perusahaan berhasil menciptakan smartphone yang sangat diinginkan oleh segmen profesional.

Penjualan meningkat, dan konsumen di segmen ini mengidentifikasi brand tersebut sebagai pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam hal kinerja dan fungsionalitas.

Melalui integrasi Segmentasi, Targeting, dan Positioning, perusahaan dapat merancang strategi pemasaran yang lebih terarah, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan pelanggan.

Implementasi yang efektif dari teori STP akan membantu perusahaan untuk tetap relevan dan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan maupun preferensi konsumen seiring waktu.

Branding, Marketing, dan Selling: Serupa Tapi Tak Sama

Branding, Marketing, dan Selling: Serupa Tapi Tak Sama

Pernahkah Anda memperhatikan kalau istilah branding dan marketing seringkali digunakan secara bergantian?

Ketika berbincang tentang keduanya, sebagian dari kita—biasanya—akan berbicara seputar memperoleh penjualan dan uang lebih banyak.

Loh, bukannya itu berarti kita harusnya ngomong mengenai selling (sales)?

Bingung? Ya, kami tidak menyalahkan Anda.

Begini masalahnya…

Dalam dunia bisnis, aktivitas branding, marketing, dan selling merupakan trio yang saling mempengaruhi. Namun, masing-masing memiliki perbedaan yang perlu kita pahami.

Izinkan kami membantu menguraikan perbedaan di antara ketiganya sehingga Anda dapat memilih untuk mengembangkan bisnis di aktivitas yang mana terlebih dahulu.

Apa Perbedaan Branding, Marketing, dan Selling?

  1. Branding

Definisi

Branding mencakup rangkaian kegiatan yang dirancang untuk membangun dan memelihara citra merek (brand image) suatu produk atau perusahaan.

Hal ini kerap melibatkan elemen-elemen seperti logo, warna, gaya penulisan, dan nilai-nilai yang diusung oleh merek.

Contoh

Salah satu role-model dari keberhasilan sebuah branding adalah Apple.

Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga mengkomunikasikan gaya hidup inovatif dan eksklusif melalui desain minimalis, kualitas produk, serta pengalaman pengguna yang unik.

Adapun contoh di platform digital dan media sosial, perusahaan teknologi seperti Google membangun brand identity dengan konsistensi dalam penggunaan logo, warna, maupun gaya grafis dalam setiap konten yang mereka bagikan.

  1. Marketing

Definisi

Marketing adalah serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk mempromosikan, mendistribusikan, dan menjual produk atau layanan. Di dalamnya termasuk penelitian pasar, periklanan, public relations, dan strategi pemasaran untuk mencapai target pasar.

Contoh

Kampanye iklan Coca-Cola merupakan contoh yang baik dari strategi pemasaran yang sukses.

Mereka tidak hanya fokus pada rasa minuman, tetapi juga membangun emosi positif dan ikatan sosial melalui sejumlah iklan yang kreatif.

Beriklan di Facebook dan Instagram juga dikategorikan sebagai aktivitas marketing. Baik dalam bentuk gambar produk yang menarik, deskripsi yang wow, dan tautan (link) yang mengundang calon customer untuk mengekliknya.

  1. Selling

Definisi

Secara sederhana, selling atau sales berarti kegiatan penjualan secara langsung produk atau layanan kepada pelanggan.

Aktivitas yang dilakukan meliputi proses negosiasi, closing penjualan, hingga membangun hubungan pelanggan (customer relationship) untuk meningkatkan penjualan dan kepuasan konsumen.

Contoh

Penjualan mobil di sebuah dealer adalah bentuk nyata dari kegiatan penjualan. Salesperson berinteraksi langsung dengan pelanggan, menjelaskan fitur produk, dan menciptakan argumen penjualan untuk mempengaruhi keputusan pembelian.

Keterkaitan Antara Branding, Marketing, dan Selling

Meskipun memiliki peran yang berbeda, keterkaitan antara branding, marketing, dan selling sangat penting untuk mencapai kesuksesan bisnis secara menyeluruh.

  1. Branding sebagai Dasar

Branding menciptakan pondasi bagi seluruh strategi pemasaran dan penjualan.

Identitas merek (brand identity) yang kuat akan memberikan panduan dalam menentukan pesan yang akan disampaikan dalam kegiatan marketing dan bagaimana berinteraksi dengan pelanggan.

Dengan sendirinya, hal itu dapat menciptakan konsistensi dan kepercayaan di tengah konsumen.

  1. Marketing untuk Membangun Kesadaran

Aktivitas pemasaran bertujuan untuk membangun kesadaran (awareness) dan minat (interest) konsumen terhadap produk atau layanan yang kita tawarkan.

Tanpa strategi pemasaran yang baik, konsumen mungkin tidak menyadari atau tertarik pada apa yang ditawarkan oleh perusahaan.

  1. Selling sebagai Implementasi

Proses penjualan mengonversi minat menjadi tindakan nyata (action). Seorang salesperson harus mampu mengkomunikasikan nilai produk, mengatasi keberatan, dan membangun hubungan dengan pelanggan demi mencapai target penjualan.

  1. Feedback Loop yang Kontinu

Keterkaitan ini menciptakan suatu siklus umpan balik yang berkelanjutan. Pengalaman pelanggan yang dirasakan selama proses penjualan dapat memberikan masukan berharga untuk meningkatkan strategi pemasaran dan bahkan memperbarui elemen branding jika diperlukan.

  1. Tujuan Bersama untuk Kesuksesan

Meskipun memiliki fokus yang berbeda, branding, marketing, dan selling bekerja menuju tujuan bersama, yaitu meningkatkan keuntungan dan pertumbuhan bisnis. Keberhasilan satu aspek seringkali bergantung pada keberhasilan aspek lainnya.

Branding, marketing, dan selling telah menjadi tiga komponen kunci dalam ekosistem bisnis yang saling melengkapi.

Dengan memahami peran masing-masing dan bagaimana mereka berinteraksi, perusahaan dapat merancang strategi yang lebih efektif untuk membangun brand image yang kuat, meningkatkan kesadaran pasar, dan meraih keberhasilan penjualan.

Evolusi Marketing 1.0 Hingga 5.0: Menjelajahi Perubahan Paradigma Pemasaran

Evolusi Marketing 1.0 Hingga 5.0: Menjelajahi Perubahan Paradigma Pemasaran

Pemasaran, sebagai disiplin bisnis yang terus berkembang, telah mengalami evolusi signifikan sepanjang waktu.

Dari pemasaran yang berfokus pada produk hingga pendekatan yang mencakup teknologi tinggi dan nilai-nilai kemanusiaan. Perubahan tersebut mencerminkan transformasi mengenai cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan.

Apa saja evolusi marketing yang sudah dan sedang terjadi? Mari kita jelajahi!

Marketing 1.0: Puncak Era Produk

Pada awal Revolusi Industri hingga pertengahan abad ke-20, Marketing 1.0 menempatkan perhatian pada produk.

Produsen berusaha menciptakan produk berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Strategi pemasaran lebih berorientasi pada berbagai fitur produk serta mengutamakan target penjualan.

Ford Model T bisa dibilang menjadi simbol pada era ini. Dengan memperkenalkan mobil yang terjangkau bagi masyarakat umum, Henry Ford mengubah industri otomotif yang berfokus pada efisiensi dan standardisasi produk.

Marketing 2.0: Pergeseran ke Pelanggan

Dengan masuknya tahun 1950-an, pergeseran besar terjadi menuju Marketing 2.0.

Perusahaan mulai memahami pentingnya memahami keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Pemasaran menjadi lebih berorientasi pada pengembangan merek (branding) dan membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Konsep nilai pelanggan menjadi kunci dalam memandu strategi pemasaran.

Contoh strategi marketing yang menerapkan pendekatan ini yaitu ketika Coca-Cola meluncurkan kampanye “Share a Coke”. Mereka mencetak nama-nama pelanggan pada kemasan produk. Strategi ini bertujuan membangun koneksi emosional dengan pelanggan dan meningkatkan keterlibatan (engagement) mereka.

Marketing 3.0: Nilai untuk Masyarakat

Masuk ke awal abad ke-21, Marketing 3.0 memperkenalkan konsep nilai bagi masyarakat.

Perusahaan tidak hanya berusaha memberikan nilai kepada pelanggan, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan lingkungan. Faktor etis dan keberlanjutan menjadi bagian integral dari strategi pemasaran.

TOMS Shoes pernah berada di tahap ini melalui kampanye “One for One”. Setiap pasang sepatu yang dibeli akan mendonasikan satu pasang lagi kepada anak-anak yang membutuhkan. Ini adalah contoh pemasaran dengan nilai-nilai sosial yang kuat.

Marketing 4.0: Revolusi Digital

Dengan pertumbuhan teknologi digital pada pertengahan 2010-an, Marketing 4.0 muncul sebagai respons terhadap perubahan paradigma.

Digital Marketing menjadi fokus utama, dengan perusahaan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), big data, dan Internet of Things (IoT) untuk memahami perilaku pelanggan. Interaksi secara real-time dan personalisasi pengalaman sesuai preferensi pelanggan menjadi kunci keberhasilan.

Banyak perusahaan ternama yang telah melalui tahap ini. Misalnya, Spotify yang menggunakan algoritma untuk menganalisis preferensi musik pengguna dan membuat playlist yang disesuaikan. Metode ini akan menciptakan pengalaman mendengarkan musik yang sangat personal dan meningkatkan retensi pelanggan.

Marketing 5.0: Manusia dan Teknologi Berpadu

Saat ini, kita berada dalam era Marketing 5.0, yang masih dalam pengembangan.

Pemasaran tidak lagi hanya tentang teknologi, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan. Konsep ini mencoba menggabungkan kecerdasan buatan dan teknologi tinggi dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

Dengan kata lain, para pakar marketing menggunakan teknologi untuk meningkatkan interaksi manusiawi dan memberikan pengalaman yang mendalam.

Era Marketing 5.0 menyoroti pentingnya keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai manusiawi. Meskipun kecerdasan buatan memberikan wawasan yang mendalam tentang perilaku pelanggan, penggunaannya harus bijak untuk menjaga aspek manusiawi dalam interaksi bisnis.

Pemasaran tidak hanya tentang menghasilkan keuntungan tetapi juga tentang membangun hubungan yang bermakna bersama pelanggan.

Gojek, sebagai platform layanan berbasis teknologi, pernah sukses menggabungkan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Kampanye “Pulang dengan Selamat” menyoroti komitmen Gojek demi meningkatkan keselamatan pengendara dan penumpang, yang tentunya menciptakan dampak positif di tengah masyarakat.

Namun, sekali lagi penting untuk dicatat, konsep Marketing 5.0 ini masih berkembang. Perusahaan mungkin berada pada tahap yang berbeda dalam mengadopsi pendekatan ini.

Seiring perubahan pasar dan teknologi, evolusi marketing akan terus berlanjut. Keberhasilan sebuah perusahaan tergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Kesimpulan

Evolusi marketing dari 1.0 hingga 5.0 mencerminkan perubahan signifikan dalam cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan.

Dari orientasi pada produk hingga integrasi nilai-nilai kemanusiaan, pemasaran terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Pemahaman dan penerapan konsep-konsep ini penting bagi perusahaan yang ingin tetap relevan dan berhasil di era bisnis yang terus berubah ini. Dengan memahami perjalanan evolusi marketing, perusahaan dapat lebih baik menavigasi dinamika pasar dan membangun strategi pemasaran yang efektif di masa depan.

4 Elemen Landing Page Sederhana

4 Elemen Landing Page Sederhana

Banyak orang menyangka, bisnis itu wajib punya website.

Nggak salah, sih. Dengan website, kita bukan sekadar jualan produk, melainkan bisa sekaligus mengedukasi dan memperoleh data calon pembeli.

Tapi biasanya bikin website itu lama dan butuh biaya banyak.

Karenanya, para pebisnis mulai beralih dari membuat website, jadi “hanya” membangun Landing Page atau halaman penjualan (Sales Page).

Landing Page punya banyak keunggulan tersendiri. Di antaranya proses pembuatan yang relatif mudah dan cepat, semua informasi produk dapat disajikan dalam satu halaman, serta wadah yang tepat ketika menjalankan Facebook dan Instagram ads.

Hmmm…

Bagaimana ya membuat landing page yang baik itu?

Setidaknya ada 4 elemen dasar yang harus ada dalam landing page bisnis kamu. Berikut ulasannya!

Bagian #1: Apa

Di bagian ini, utarakan siapa kamu dan produk atau jasa yang ditawarkan.

Berikan penjelasan secara lugas. Bila perlu, tambahkan foto produk.

Awali bagian dengan memberi Headline, lalu sambung dengan sub-headline.

Bentuk headline bisa bermacam-macam. Misalnya, memakai format pertanyaan:

Apakah Anda mau menurunkan berat badan dalam 7 hari?

Apakah Anda siap menjadi jutawan hanya dengan 3 langkah berikut?

Kamu juga bisa mencoba format pernyataan (statement), bercerita, maupun bentuk lain yang menerangkan nama dari produk kita.

Bagian #2: Kenapa

Selanjutnya, jabarkan mengapa orang-orang harus membeli produk atau jasa yang kamu tawarkan.

Pada bagian ini, kamu bisa bercerita mengenai:

  • Fitur-fitur yang terdapat di produk tersebut.
  • Kualitas produk yang dijual.
  • Kenapa produk kamu lebih unggul dibandingkan kompetitor.
  • Dampak bagi konsumen setelah membeli produk kamu.
  • Masalah apa yang dapat diselesaikan melalui produk itu.

Fitur dan manfaat produk, itu intinya.

Bagian #3: Harus

Biasanya, bagian ini disebut juga dengan OFFER.

Mereka yang sudah paham mengapa harus membeli produk kamu, pasti mau tahu dong berapa biaya yang akan dikeluarkan.

So, pertajamlah bagian ini.

Dengan begitu, pelanggan semakin paham konsekuensi yang diperoleh ketika mereka “berkorban” sesuatu bagi bisnismu.

Contohnya:

  • Kalau kamu jualan, pelanggan wajib tahu ada uang yang mesti dikucurkan.
  • Kalau kamu menawarkan lead magnet, pelanggan tahu bahwa mereka harus menyerahkan alamat email.
  • Kalau kamu meminta orang untuk instal aplikasi, pelanggan sadar bahwa mereka akan mengeluarkan kuota dan melakukan sign up.

Bentuk dari Offer ini juga bermacam-macam, antara lain:

  • Harga coret-coret
  • Garansi
  • Bonus
  • Paket bundling
  • Testimonial
  • Scarcity (diskon berakhir pada tanggal sekian, senin harga naik, stok tinggal X, dan sebagainya)

Nggak ada bonus dan garansi? Minimal banget kamu mencantumkan harga.

Bagian #4: Bagaimana

Sudah tahu produk beserta keunggulannya.

Sudah tahu harga dan penawaran bonusnya.

Kemudian apa?

Jangan lupa bikin CTA alias Call-to-Action.

Jelaskan dengan singkat dan mudah bagaimana pelanggan dapat memperoleh produk kamu. Contohnya:

  • Buatkan tombol “order” yang terhubung dengan CS melalui Whatsapp
  • Ajak pelanggan mengisi form, dan sediakan form untuk mengisi nama dan alamat email

Dengan empat komposisi di atas, kamu sudah bisa membuat landing page yang simpel dan menjual. Agar semakin banyak trafik yang masuk, iklankan lewat Mastah.id yuuk.

5 Ide Digital Marketing untuk UMKM di Tahun 2021

5 Ide Digital Marketing untuk UMKM di Tahun 2021

Tahun 2021 terasa berat, ya?

Covid 19 belum selesai. Banyak karyawan kena PHK. Tidak terhitung UMKM yang terpaksa gulung tikar.

Namun, mudah menyerah dan putus asa bukanlah karakter seorang pemilik bisnis, sekecil apa pun bisnis yang Anda miliki.

Para pelaku UMKM masih mempunyai segudang kesempatan untuk bangkit dan terus berkembang. Salah satu caranya, tentu dengan mengoptimalkan digital marketing.

Bagaimana teknik dan strategi yang tepat bagi UMKM dalam menjalankan digital marketing, khususnya di tahun 2021?

Berikut ini 5 ide sederhana memaksimalkan digital marketing dari Mastah.id!

  1. Gunakan Video Marketing

Kehadiran Instagram Reels, yang disinyalir sebagai respons atas melejitnya TikTok, semakin menunjukkan betapa pentingnya konten video.

Tidak perlu sungkan mengekspos isi dapur usaha, mengenalkan para staf kepada follower, maupun bercerita mengenai latar belakang berdirinya usaha Anda.

Bittersweet by Najla pernah membuktikan kekuatan dari online video marketing ketika mempromosikan produknya yang berhadiah emas dan sejumlah uang.

  1. Buatlah Akun Google My Business

Salah satu tips digital marketing yang simpel dan gratis ialah membuat akun di Google My Business.

Di sana, Anda dapat mencantumkan profil usaha, foto produk dan toko fisik, alamat beserta rutenya, jam buka, nomor telepon, hingga blog.

Fitur-fitur yang tersedia sangat berguna untuk memaksimalkan SEO lokal. Artinya, Anda lebih berpeluang besar merangkul orang-orang di sekitar jangkauan kilometer tertentu apabila usaha Anda tampil di Google My Business.

Google juga menyajikan fitur rating dan review yang dapat diisi oleh siapapun. Sebuah peluang untuk menaikkan nilai brand melalui testimoni positif dari para pelanggan.

Survei dari Bright Local pada tahun 2020 menyebuatkan bahwa lebih dari 86 persen orang mempercayai ulasan online seperti mereka meyakini rekomendasi temannya.

  1. Manfaatkan Website sebagai Penghubung

Bisnis Anda mempunyai produk sendiri, bukan reseller maupun dropshiper?

Kami sarankan, bangunlah website sendiri. Biarkan agen dan distributor Anda yang masing-masing berjualan di marketplace manapun.

Mengapa?

Pertama, karena marketplace adalah pasar online yang terlalu padat oleh toko yang saling banting harga.

Kedua, website sendiri merupakan rumah yang bebas Anda rombak sesuka hati. Hanya Anda yang berhak mengatur struktur, desain, dan isinya.

Di samping menampilkan produk, Anda dapat memperkaya website dengan menulis blog maupun konten marketing lainnya.

Bisnis Anda pun akan tampak lebih profesional serta lebih dekat dengan pelanggan. Tinggal menunggu waktu hingga penjualan dan brand awareness usaha Anda meningkat.

  1. Omnichannel

Apa tuh?

Kesalahan sebagian UMKM dalam digital marketing, salah satunya, hanya mengandalkan satu channel.

Merasa cukup hanya bermain di Instagram.

Merasa cukup sekadar punya website.

Merasa cukup bersenang-senang membuat video di TikTok.

Setiap platform mempunyai karakter yang berbeda, dan tentu saja behavior penggunanya berbeda pula.

Terlalu banyak memilih platform juga kurang tepat.

Manfaatkan dua hingga tiga platform yang saling terhubung.

Misalnya, Anda menggunakan Instagram dan TikTok untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya. Berikutnya, arahkan mereka ke website apabila ingin mengenal atau membeli produk.

  1. Berkolaborasi dengan Agensi Digital

Berbeda dengan perusahaan besar, UMKM biasanya dipimpin oleh seorang CEO alias Chief Everything Officer.

Dia yang memikirkan masa depan bisnis. Dia yang memproduksi. Dia yang memasarkan. Dia yang mencatat keuangan. Dia pula yang packing dan kirim barang.

Mau hire pegawai, tapi khawatir nggak sanggup menggaji.

Sedangkan digital marketing merupakan pekerjaan tim. Tidak cukup hanya dikerjakan satu orang.

Di titik ini, tidak ada salahnya Anda bekerja sama dengan agency digital.

Mereka umumnya berisi tim yang ahli di bidang masing-masing. Mulai dari desainer grafis, copywriter, advertiser, hingga customer service.

Biayanya bisa beragam. Di Mastah.id sendiri, sebagai perusahaan jasa digital marketing di Jakarta, menerapkan biaya yang nilainya setara apabila Anda mempekerjakan satu orang digital marketing specialist.

Harga yang tergolong murah, dibandingkan Anda merekrut beberapa orang untuk keahlian yang berbeda-beda.

Mastah.id pun akan menyajikan laporan yang detail, valid, dan jelas mengenai aktivitas digital marketing Anda secara berkala.

Sudah siap Go Online? Mastah.id siap menemani usaha Anda!

Digital Marketing untuk UMKM: Urgensi, Tips, dan Strategi

Digital Marketing untuk UMKM: Urgensi, Tips, dan Strategi

Di samping pesatnya pertumbuhan teknologi, kehadiran pandemi Covid-19 turut mempercepat transformasi digital.

Seluruh aspek kehidupan terkena dampaknya. Tidak terkecuali para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Hanya mereka yang cepat beradaptasi, yang akhirnya sanggup bertahan.

Sayangnya, Kementerian Koperasi dan UMKM mencatat, baru 16% dari 64 juta UMKM di Indonesia yang sudah Go Digital.

“Jika bisnis Anda tidak muncul di internet,” ujar Bill Gates si Pemilik Microsoft, “…maka bisnis Anda akan gulung tikar.”

Sebenarnya, seberapa penting digital marketing (pemasaran daring) bagi para pelaku UMKM? Kemudian, bagaimana tips dan strategi memasarkan produk secara online sehingga mampu mendongkrak penjualan?

Mastah.id merangkum jawabannya dalam artikel berikut hanya untuk Anda!

A. Urgensi Digital Marketing

Allan Dib, penulis buku “The One-Page Marketing Plan” pernah mengungkapkan,

Banyak pemilik usaha menipu dirinya sendiri dengan berpikir, jika produk mereka bagus, maka orang-orang pasti membeli. Padahal sejarah dipenuhi oleh berbagai produk yang luar biasa, tetapi gagal dijual. Produk yang bagus, bahkan super sekalipun, tidaklah cukup. Marketing harus menjadi salah satu aktivitas utama Anda bila ingin sukses.

Sebagaimana offline, marketing secara online telah menjelma sebagai hal mutlak demi mengembangkan bisnis. Berikut ini 3 alasan dan pentingnya digital marketing bagi bisnis UMKM!

  1. Pengguna Internet Terbesar

Masyarakat tanah air telah menjadi bagian penting dari transformasi digital dunia.

Bagaimana tidak? Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa atau setara 73,7 persen dari total populasi.

Data yang dirilis oleh HootSuite dan We Are Social itu juga menyebut, sekitar 96,4 persen atau 195,3 juta orang Indonesia mengakses internet melalui smartphonenya. Mereka rata-rata menghabiskan waktu selama 8 jam 52 menit untuk berselancar di dunia online.

Jumlah tersebut tentu merupakan “komoditas” yang sayang dilewatkan.

Bayangkan apabila Anda mampu menjangkau 1 persen saja dari total pengguna internet di Indonesia. Lalu, mereka membeli produk Anda, menyukainya, lantas beralih sebagai konsumen yang loyal.

hootsuite we are social 2021

  1. Mampu Bersaing dengan Bisnis Besar

Tidak semua. Namun, banyak bisnis kecil telah terbukti berhasil “melawan” raksasa melalui digital marketing. Mereka tetap survive dan sustain dalam jangka waktu lama.

“Hal terbaik tentang digital marketing adalah…,” menurut Ann Smarty, “bahwa kecerdasan dan kreativitas selalu bisa menang dari anggaran pemasaran yang besar.”

Entah sudah berapa banyak produk yang viral hanya bermodalkan kreativitas di TikTok maupun Instagram. Dana yang dikeluarkan mungkin hampir tidak ada, tetapi mampu mengalahkan brand dengan nilai investasi besar.

  1. Data yang Lebih Terukur

Pernahkah Anda menghitung…

Dari sekian brosur yang disebar, berapa persen yang dibaca oleh pelanggan.

Selanjutnya, berapa persen orang yang akhirnya membeli karena brosur itu.

Lalu, berapa banyak brosur yang ujungnya menumpuk di tong sampah.

Pemasaran ala tradisional tidak mempunyai kemampuan membaca data yang terukur secara valid dan real time. Akibatnya, banyak pelaku UMKM yang beroperasi mengandalkan asumsi belaka.

Perusahaan-perusahaan besar itu dapat terus maju karena mereka memanfaatkan data, sedangkan kita sekadar bermodalkan, “Kayanya yang begini cocok, deh.”

Gubrak!

Digital marketing menawarkan beragam metrik yang valid demi mengukur tingkat keberhasilan aktivitas pemasaran Anda. Data-data tersebut bahkan dapat dilihat saat itu juga, tidak perlu menunggu besok atau seminggu mendatang.

Data yang terukur akan menghasilkan strategi yang tepat dan menciptakan peluang keberhasilan yang lebih tinggi.

jasa facebook ads jakarta
source: neilpatel.com

B. Tips dan Strategi Berjualan Online

Sudah memantapkan diri beralih ke digital?

Bagus!

Waktunya kita berbicara sedikit mengenai tips dan strategi dalam mengoptimalkan digital marketing.

Sebagaimana kata Joe Chernov, “Marketing yang baik membuat perusahaan tampak cerdas. Marketing yang luar biasa justru membuat konsumen merasa cerdas.”

Ini artinya, butuh cara khusus agar kita tidak sembarangan menjalankan aktivitas marketing.

  1. Buka Toko Online-mu!

Langkah termudah yang dapat Anda lakukan sejak awal ialah membangun “rumah”, baik di marketplace maupun bikin website sendiri.

Marketplace atau e-commerce sudah banyak menjamur. Mulai dari Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Lazada, BliBli, dan masih banyak lagi.

Layanannya GRATIS.

Penggunaannya pun mudah, tinggal mengatur profil toko dan memasukkan produk kita.

Bedanya, Anda seperti membuka lapak di pasar. Saingannya buaaanyak dan biasanya adu banting harga.

Pilihan lainnya, bangunlah website sendiri apabila Anda mempunyai cukup uang.

Di sana, Anda bebas membangun branding, mengedukasi pelanggan lewat blog, dan tentu saja menampilkan produk.

  1. Aktifkan Media Sosial

Jadilah lebih dekat dengan konsumen melalui media sosial.

Bukan sekadar menawarkan produk, tetapi ajaklah mereka ke dalam komunitas Anda. Bawa mereka menjadi bagian dari aktivitas bisnis Anda, bukan lumbung uang semata.

Buffer, perusahaan jasa manajemen media sosial, menyampaikan bahwa sekitar 37 persen konsumen memutuskan membeli suatu produk setelah melihat di media sosial.

Buatlah akun di Instagram, Facebook, Twitter, TikTok, maupun Youtube. Definisikan siapa target pasar Anda. Kemudian, selamat bersenang-senang membuat konten yang relevan dan meningkatkan engagement dengan mereka.

  1. Tampil di Google My Business

Hasil pencarian Google akan memprioritaskan daftar Google My Business.

Akibatnya, banyak orang yang tidak perlu scrolling atau mengeklik website tertentu. Mereka sudah memperoleh informasi yang dibutuhkan melalui panduan alamat atau deskripsi singkat di Google My Business.

Google My Business juga menyediakan fitur rating dan review yang dapat menaikkan brand Anda apabila dipenuhi testimoni positif.

Ssst…

Survei dari Bright Local pada tahun 2020 menunjukkan, lebih dari 86 persen orang mempercayai ulasan online seperti mereka meyakini rekomendasi temannya.

bikin google my business

  1. Ceritakan Kisah Anda

Di era keterbukaan ini, konsumen menyukai interaksi yang tidak dibuat-buat.

Mereka ingin tahu siapa Anda. Berceritalah dan terbuka mengenai bisnis Anda, para staf di belakang layar, maupun nilai-nilai yang ditawarkan perusahaan.

Para pelaku UMKM dapat bercerita tentang perjuangan mereka membangun bisnis dari nol. Ketika belum memiliki apa-apa.

Atau…

Betapa beratnya membuka usaha di wilayah pelosok dengan akses internet terbatas dan infrastruktur jalan yang kurang memadai.

Anda bisa mencoba buat video-video pendek. Lalu, mengunggahnya di Instagram Story, YouTube, hingga TikTok.

Di Amerika sana, lebih dari 85 persen pengguna internet lebih memilih video dibandingkan konten gambar biasa, loh.

  1. Periklanan Digital

Masih ada modal tersisa?

Tidak ada salahnya Anda menjajal iklan digital, seperti Facebook/Intagram Ads dan Google Ads.

Jangan lupa pula mengoptimalkan Search Engine Optimization (SEO), meskipun cara ini membutuhkan waktu yang lebih lama.

Beriklan secara digital membuka kesempatan memperoleh jangkauan pasar yang lebih luas dan meningkatkan penjualan dalam waktu relatif lebih cepat.

Kalaupun belum mencapai target closing, kontak atau lead yang masuk dapat menjadi aset untuk Anda follow up secara berkala.

***

Dunia digital merupakan dunia yang dinamis. Para pelaku UMKM yang bermain di dunia tersebut harus mau terus belajar dan memperbarui pengetahuan maupun strateginya. Anda wajib beradaptasi dengan cepat. Taktik yang berhasil bulan ini, belum tentu berhasil pula di bulan depan.

Website Sepi? Ini 5 Tips Mudah Datangkan Traffic

Website Sepi? Ini 5 Tips Mudah Datangkan Traffic

Bisnis Anda sudah mulai go online? Sudah bikin website?

Bagus!

Tapi itu belum cukup…

Bagaimana mau menghasilkan penjualan, jika website kita tidak ada yang mengunjungi?!

Ibarat buka toko di pinggir jalan, lalu berharap orang datang begitu saja tanpa menjalankan aktivitas MARKETING.

Nggak ada sales yang sebar brosur.

Nggak ada teriakan-teriakan yang mengajak, “Boleh kak, promo kuenya beli 2 gratis 1. Silakan mampir…”

Di artikel kali ini, Mastah.id akan sedikit sharing mengenai Traffic Website: Mengapa traffic itu penting dan bagaimana langkah mendongkrak traffic website?

Mengapa Traffic itu Penting?

Secara sederhana, traffic website merujuk pada setiap orang yang masuk ke dalam website kita.

Kegiatan masuk tersebut direkam sebagai kunjungan (visit).

Traffic ini dihitung berbeda dari masing-masing halaman (page) pada website Anda. Itu artinya, setiap halaman berdiri independen.

Contohnya…

Mastah.id memiliki dua halaman: Home dan Kontak.

Apabila Anda masuk ke halaman Home, maka terhitung 1 traffic.

Selanjutnya apabila Anda masuk ke halaman Kontak, maka terhitung pula 1 traffic meskipun dari pengunjung yang sama.

Tidak peduli halaman mana yang dituju, selama ada pengunjung, maka data merekamnya sebagai traffic.

Website dengan traffic yang tinggi memiliki setidaknya 3 keuntungan berikut:

  1. Menaikkan kesempatan closing sehingga turut menghasilkan potensi penjualan dari total jumlah pengunjung.
  2. Meningkatkan brand awareness dan exposure sehingga orang-orang semakin mengenal produk dan layanan Anda.
  3. Memperoleh revenue dari iklan sponsor. Manfaat ini biasanya dirasakan oleh portal berita. Mereka menyediakan slot banner iklan dengan tarif tertentu.

Setelah memahami pentingnya traffic website, bagaimana langkah berikutnya untuk mendatangkan lebih banyak pengunjung?

Berikut ini 5 tipsnya dari Mastah.id

5 Tips Mudah Meningkatkan Traffic Website

  1. Paid Advertising

Paid advertising alias iklan berbayar merupakan cara termudah untuk mendatangkan traffic.

Tapi tentunya Anda harus merogoh dompet.

Beberapa jenis paid advertising yang bisa Anda jajal, antara lain:

  1. Search Ads. Melalui iklan ini, halaman website Anda akan tampil di halaman pencarian google ketika orang mengetikkan sebuah kata kunci.
  2. Social Media Marketing. Beriklan di media sosial bukan hanya mampu mendongkrak traffic, melainkan juga meningkatkan engagement dan brand awareness.
  3. Display Advertising. Iklan tipe ini tampil di tempat tertentu di dalam website, biasanya berbentu banner ads atau video ads.

  1. Promosikan Website di Media Sosial

Dengan pengguna aktif mencapai jutaan user per hari, media sosial menjadi wadah efektif untuk mempromosikan apa pun.

Termasuk website kita.

Platform seperti Facebook dan Instagram cocok bagi website di bidang e-commerce, food & beverages, kecantikan, hingga berita terkini.

Sedangkan platform semisal LinkedIn lebih tepat diisi dengan konten seputar tips, pekerjaan, maupun kabar terbaru mengenai industri dan perusahaan tertentu.

Jangan lupakan pula Twitter, YouTube, bahkan TikTok.

Banyaklah bereksperimen sampai menemukan platform yang paling sesuai dengan model bisnis Anda.

  1. Guest Blogging

Mengunjungi blog atau website orang lain, kemudian memberikan komentar di sana sangat berguna untuk menaikkan traffic website kita.

Karenanya, penting bagi Anda maupun tim marketing masuk dalam komunitas blog.

Para member biasanya punya ikatan kuat untuk saling mengunjungi blog masing-masing, sebab cara demikian juga akan mendongkrak nilai kunjungan blog mereka.

Saat mereka komentar di website Anda, rajinlah untuk membalasnya.

Tidak hanya itu, Guest Blogging pun memiliki keuntungan berupa memperluas jaringan pribadi, menunjukkan pada Anda traffic yang benar-benar tertarget, serta memperbaiki ranking website di SERP (search engine result pages).

Ditambah, nilai backlink dan online authority website kemungkinan besar ikut naik.

  1. Wawancara Tokoh Penting

Old but gold.

Cara ini mungkin terkesan kuno.

Namun masih dipakai hingga sekarang dalam bentuk yang beragam, dan hasilnya cukup memuaskan.

Public figure maupun tokoh penting lainnya selalu mengundang traffic.

Dalam konteks website, cobalah berkolaborasi dengan mereka dalam suatu wawancara eksklusif, mengadakan webinar, atau mengisi podcast.

Kemudian masukkan ke dalam website Anda demi menarik traffic lebih banyak.

  1. Pastikan Website Anda Responsive

Bukan hanya sibuk mengajak orang supaya berkunjung, perhatikan pula kondisi dapur kita.

Percantik desain website Anda.

Rapikan posisi teks dan gambar.

Percepat loading halaman.

Susun konten sesuai kategori masing-masing.

Terlebih, pastikan tampilan website tidak berantakan ketika dibuka melalui device yang berbeda, baik di PC maupun mobile.

***

Menaikkan traffic website bukanlah proses yang instan.

Butuh ketekunan, disiplin, dan kesabaran.

Kecuali, Anda punya cukup banyak uang untuk jor-joran dalam Paid Advertising, hehe.

5 Tren Digital Marketing di Tahun 2021

5 Tren Digital Marketing di Tahun 2021

Bagi para pemilik bisnis atau orang marketing, selalu menarik rasanya memperhatikan tren digital marketing di masa lalu dan masa depan.

Termasuk tahun 2021 ini…

Tiada alasan lain kecuali untuk menyusun strategi pemasaran berdasarkan perkembangan teknologi dan tren yang tengah berlangsung.

Dilansir dari berbagai sumber, Mastah.id menemukan setidaknya ada 7 tren digital marketing di sepanjang tahun 2021, yaitu:

  1. Artificial Intelligence
  2. Omnichannel Marketing
  3. Video Marketing
  4. Social Media Stories
  5. Geofencing Technology

Bagaimana penjelasan sederhana dari masing-masing tren tersebut?

Yuk, lanjutkan scrolling-nya!

  1. Artificial Intelligence

Tahun 2021-2022 diprediksi jadi momentum The Rise of AI, Masa Kebangkitan Artificial Intelligence.

AI bukan lagi sekadar istilah keren-kerenan.

Menurut Gartner, perusahaan riset teknologi asal Amerika Serikat, fitur AI sudah tersedia di hampir seluruh software baru sepanjang tahun 2020.

Berikut ini alasan utama mengapa sejumlah perusahaan mengandalkan AI dalam bisnis mereka:

Kecerdasan buatan dikenal sanggup menganalisis perilaku konsumen dan pola pencarian di internet, serta memanfaatkan data dari media sosial maupun blog untuk membantu bisnis memahami bagaimana konsumen menemukan produk dan layanan mereka.

Karenanya, bisnis yang mengadopsi kecerdasan buatan, berpeluang besar dalam memangkas pengeluaran staf dan mempercepat pertumbuhan perusahaan.

AI sudah banyak diimplementasikan dalam produk digital.

Contoh yang paling terlihat ialah penggunaan AI sebagai Chatbot.

Dalam praktiknya, Chatbot akan menjadi perangkat lunak yang memproses bahasa secara alami.

Dilengkapi AI, Chatbot dapat menguraikan apa yang diinginkan pelanggan dan membuat mereka seakan-akan sedang mengobrol dengan manusia sungguhan.

  1. Omnichannel Marketing

Bisnis Anda sudah punya akun Instagram, tapi belum punya website?

Atau sebaliknya, punya website tetapi nggak bikin akun media sosial?

Lupakan gaya lama ini!

Tren menunjukkan, banyak perusahaan kini menerapkan model omnichannel marketing.

Yaitu…

Metode pemasaran yang mengandalkan banyak platform sekaligus.

Mulai dari website, media sosial, messenger, email, sampai toko fisik.

Semua platform saling terhubung dengan menampilkan konten yang selarasa dan saling melengkapi.

Dengan demikian, konsumen dapat menemukan brand Anda dengan mudah di platform manapun.

Dibandingkan dengan satu channel, pemasaran yang memanfaatkan banyak channel cenderung mempunyai tingkat engagement dan jumlah pembelian hingga 250% lebih tinggi, loh!

  1. Video Marketing

YouTube, TikTok, dan Instagram Reels menunjukkan video marketing telah menjelma sebagai media pemasaran paling penting.

Bukan hanya kini, mungkin sampai 5-10 tahun mendatang.

Seberapa penting video marketing bagi bisnis Anda?

Coba perhatikan data ini:

  • 70% konsumen mengaku pernah membagikan sebuah video dari brand tertentu (Wyzowl)
  • 72% bisnis mengaku video marketing telah meningkatkan conversion rate mereka. (Wyzowl)
  • 52% konsumen mengakui bahwa menonton video membuat mereka lebih percaya diri untuk membeli sesuatu. (Invodo)
  • 65% eksekutif bisnis mengunjungi website calon vendor dan 39% di antaranya segera menelepon setelah menonton video. (Forbes)

Video marketing sejauh ini juga menjadi cara paling top untuk memperkenalkan produk dan layanan terbaru.

Siapkan budget untuk bikin video, ya.

  1. Social Media Stories

Berawal dari Snapchat, kini platform media sosial satu per satu mulai memperkenalkan fitur Stories.

Instagram, Whatsapp, dan Facebook tak mau kalah.

Bahkan YouTube yang jelas-jelas seluruh kontennya berisi video, tetap menghadirkan fitur ini.

Pada dasarnya, Stories memperdaya sifat FOMO (fear of missing out) pada manusia.

Karena dapat menghilang dalam waktu cepat, hanya bertahan 24 jam, fitur Stories justru biasanya lebih banyak ditonton daripada konten biasa.

Manusia selalu ingin menjadi yang pertama tahu.

Manusia selalu ingin menjadi yang pertama nge-share.

Manusia selalu ingin menjadi yang pertama nonton.

Untuk mendorong interaksi, cobalah beberapa cara berikut ketika meng-upload Stories:

  • Gunakan fitur polling pada Instagram Stories
  • Tambahkan link yang mengarah ke website kita
  • Masukkan tag lokasi
  • Mention brand lain atau follower Anda
  • Sesekali bikin live video
  • Buat call-to-action yang jelas
  1. Geofencing Technology

Pernah nggak sih, lagi main ke suatu tempat, lalu mendapat notifikasi dari KFC di wilayah itu?

Inilah yang disebut dengan Geofencing Technology. Metode pemasaran ini memungkinkan bisnis kita untuk menargetkan calon konsumen di daerah tertentu.

Tren metode ini diperkirakan akan terus tumbuh.

Nilai pasarnya dapat mengalami lonjakan hingga 2,4 miliar US Dolar pada tahun 2023.

Salah satu cara mudah memanfaatkan teknologi ini ialah dengan mengoptimalkan Local SEO.

Daftarkan bisnis Anda di Google My Business memakai nama brand yang dilengkapi kata kunci tertentu.

Misal, Bakso Enak H. Dudung Malang.

Ketika ada wisatawan yang sedang pergi ke Malang, kemudian mencari keyword “bakso enak” di Google, bukan tidak mungkin toko Anda yang akan pertama kali muncul.

Masih ada banyak lagi tren digital marketing di tahun ini, yang sebagian besar diprediksi akan semakin berkembang pada tahun mendatang.

Kuncinya, jangan pernah berhenti mengeksplorasi, apalagi keras kepala dengan satu metode. Ciayo!

6 Rekomendasi Buku Tentang Social Media Marketing

6 Rekomendasi Buku Tentang Social Media Marketing

Selama beberapa tahun terakhir, media sosial menjadi tempat yang tepat untuk memasarkan produk.

Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, hingga platform video yang sekarang tengah naik daun TikTok.

Masing-masing platform punya karakternya sendiri.

Masing-masing platform juga punya algoritma tersendiri yang senantiasa berubah-ubah.

Alhasil, butuh strategi khusus dan berbeda-beda agar brand kita bisa menang di setiap platform tersebut.

Mau mendalami Social Media Marketing, tapi masih bingung belajar dari mana?

Berikut ini, Mastah.id kasih 6 rekomendasi supaya kamu dapat lebih paham mengenai Social Media Marketing. Yuk, sama-sama belajar!

  1. BREAK THROUGH THE NOISE

Konon, konten video lebih banyak disukai dan dibagikan oleh para pengguna media sosial, dibandingkan gambar atau foto biasa.

Namun, bagaimana cara membuat konten video yang shareable?

Break Through The Noise akan mengajarkan kita membuat konten video untuk mempromosikan bisnis.

Buku yang dikarang oleh Tim Staples ini juga memuat 9 aturan supaya video kita menjadi viral dan menarik perhatian banyak orang (The 9 Rules to Capture Global Attention).

Cocok sekali buat kamu yang lagi fokus membuat konten di TikTok, Youtube, IGTV, maupun platform video lainnya.

  1. CONTAGIOUS; Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Populer

Di samping meningkatkan penjualan, para pemilik bisnis ingin sekali konten mereka VIRAL di dunia maya.

Mungkin kamu juga seperti itu.

Bermimpi brand dan produk kita jadi buah bibir netizen.

Jonah Berger melalui buku ini akan menjelaskan 6 hal kunci yang menjadi syarat agar sebuah gagasan, produk, atau apa pun itu selalu dibicarakan orang-orang di luar sana.

Keenam hal tersebut, yaitu…

Baca sendiri ya bukunya, hehe.

  1. START WITH WHY

“Mengapa?”

Mengapa kamu memilih Instagram sebagai media pemasaran?

Mengapa kamu sangat ingin membuat video di TikTok?

Mengapa kamu mau beriklan di Facebook?

Walaupun tidak spesifik membahas Social Media Marketing, buku yang ditulis oleh Simon Sinek ini akan mengajak kita berpikir kembali tentang alasan di balik setiap keputusan dan langkah yang diambil.

Ketika tujuan bergelut di media sosial sudah lebih clear, biasanya kita jadi lebih mudah menyusun milestone, mengukur progress, serta mengevaluasi setiap capaian.

  1. INFLUENCE; The Psychology of Persuasion

Marketing selalu tentang bagaimana mempengaruhi orang lain.

Termasuk lewat media sosial.

Robert B. Cialdini, Profesor Psikologi di Arizona State University, akan menjabarkan 6 prinsip supaya tim marketing dan sales kamu menjadi lebih persuasif.

Menariknya, buku ini merupakan riset panjang yang dilakukan selama 35 tahun.

Bahkan Robert tidak segan-segan melamar sebagai sales penjual mobil dan pramusaji untuk menguji hipotesisnya.

Siap baca dan praktikkan?

  1. THIS IS MARKETING

Tidak ada seorang ahli yang tidak menguasai teknik dasar.

Terkadang, orang menjadi hebat justru karena melatih teknik dasarnya dengan konsisten.

Karenanya, sebelum jauh mengelola media sosial, tim pemasaran juga sudah harus menguasai teori dasar marketing secara umum.

Buku yang disusun inspirator ulung, Seth Godin, ini berisi seluk-belum dunia marketing.

Mulai dari cara membangun kepercayaan, membidik target pasar, hingga seni memposisikan diri.

Godin juga mengungkapkan alasan mengapa cara terbaik untuk mencapai tujuan pemasaran ialah dengan membantu orang lain.

Wawasan dan contoh kasus dalam buku ini akan sedikit membuat kamu menyusun ulang strategi marketing yang selama ini diterapkan.

Wow, segitunya, loh!

  1. NON OBVIOUS: How to Predict Trends and Win The Future

Membaca tren yang sedang berkembang merupakan salah satu tugas utama para pengelola media sosial.

Berdasarkan pembacaan tersebut, maka strategi konten bisa disusun.

Melalui buku ini, Rohit Bhargava memaparkan 15 tren di masa depan, yang terbagi dalam 5 kategori.

Penulis juga akan mengajarkan cara memprediksi tren. Modal yang baik untuk mempercepat pertumbuhan media sosial bisnismu.

Di antara keenam buku di atas, sudah ada yang pernah kamu baca?