FOMO Marketing: Strategi Berjualan dengan Memanfaatkan Psikologi Manusia

FOMO Marketing: Strategi Berjualan dengan Memanfaatkan Psikologi Manusia

Fear of Missing Out (FOMO), ketakutan terhadap ketinggalan pengalaman atau kejadian yang menarik, bukan hanya menjadi aspek dalam kehidupan sosial.

Namun, turut menjadi instrumen kuat dalam strategi pemasaran.

Dalam era digital dan terkoneksi ini, bisnis memanfaatkan FOMO untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan dan mendorong terjadinya penjualan.

Artikel ini akan membahas bagaimana bisnis dapat dengan cermat memanfaatkan fenomena FOMO dalam strategi marketing mereka.

8 Ide Mengoptimalkan FOMO Marketing

  1. Penawaran Terbatas dan Flash Sale

Membuat penawaran dengan batasan waktu atau ketersediaan jumlah tertentu dapat menciptakan urgensi untuk segera membeli. Strategi ini tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga merangsang FOMO di antara konsumen.

  1. Event Eksklusif dan Peluncuran Produk

Mengadakan event atau perilisan produk dengan undangan terbatas menciptakan atmosfer eksklusivitas. Pelanggan yang hadir akan merasa istimewa. Konsumen lain pun mungkin merasa tertinggal dari pengalaman unik tersebut.

  1. Kampanye “Hanya untuk Pelanggan Terpilih”

Mengirimkan penawaran eksklusif atau akses ke konten tertentu kepada pelanggan yang telah berlangganan (subscriber/member) dapat meningkatkan rasa loyalitas. Ini sekaligus menghadirkan FOMO di antara pelanggan potensial.

  1. Pemanfaatan Media Sosial

Gunakan platform media sosial untuk membuat konten yang memancing perasaan FOMO.

Berbagi cuplikan eksklusif, ulasan positif, atau pengumuman penting di media sosial memiliki kesempatan viral dengan cepat serta menciptakan keinginan untuk ikut serta.

  1. Testimoni dan Studi Kasus

Memanfaatkan testimoni pelanggan atau studi kasus yang menyoroti pengalaman positif dapat menjadi pemicu FOMO. Melihat orang lain menikmati suatu produk maupun layanan bisa mendorong orang lain untuk “menyicipinya”.

  1. Penggunaan Bahasa dan Desain yang Memotivasi

Pemilihan kata-kata yang memotivasi tindakan cepat, seperti “Segera dapatkan!” atau “Terbatas untuk 100 pembeli pertama!” dapat merangsang FOMO. Desain yang menekankan urgensi juga dapat meningkatkan efek ini.

  1. Ciptakan “Kebanggaan Pemilik”

Membuat produk atau layanan yang diidentifikasi sebagai sesuatu yang hanya dimiliki kelompok tertentu akan menciptakan rasa kebanggaan dan eksklusivitas.

Orang-orang mungkin merasa tertinggal jika tidak menjadi bagian dari komunitas ini.

  1. Analisis Data dan Personalisasi

Cobalah maksimalkan data konsumen untuk mengirimkan penawaran yang disesuaikan dengan preferensi dan perilaku masing-masing pelanggan. Penawaran yang dipersonalisasi dapat lebih efektif memicu FOMO karena sesuai dengan keinginan individu.

Studi Kasus FOMO Marketing: Apple

Salah satu contoh perusahaan terkemuka yang berhasil memanfaatkan FOMO dalam strategi pemasaran mereka ialah Apple.

Sebagai perusahaan teknologi, Apple secara konsisten menggunakan elemen FOMO dalam peluncuran produk mereka.

Berikut adalah beberapa elemen FOMO yang pernah mereka terapkan:

  1. Secrecy dan Teaser

Sebelum setiap peluncuran produk utama, Apple dikenal karena adanya kerahasiaan tingkat tinggi.

Mereka merilis teaser yang misterius dengan tagline yang memicu rasa ingin tahu dan ekspektasi tinggi sehingga menciptakan ketertarikan besar di kalangan konsumen.

  1. Peluncuran Eksklusif

Acara peluncuran produk Apple sering kali bersifat eksklusif dengan undangan terbatas. Hanya sejumlah kecil orang yang beruntung yang dapat melihat produk tersebut secara langsung.

Hal ini menciptakan rasa eksklusivitas dan keterbatasan, yang turut membangkitkan FOMO di antara para penggemar Apple.

  1. Penawaran Pre-Order Terbatas

Apple seringkali memberikan penawaran pre-order dengan jumlah terbatas. Konsumen yang berminat diminta untuk segera melakukan pemesanan agar tidak ketinggalan.

Ini menciptakan urgensi dan keinginan untuk segera berpartisipasi.

  1. Konten Media Sosial

Apple menggunakan media sosial dengan bijak sebelum merilis produk.

Mereka menampilkan cuplikan dan gambar yang memancing rasa FOMO di antara para pengikut mereka. Konten teaser ini menciptakan perbincangan online dan curiosity yang tinggi di tengah konsumen.

  1. Desain dan Presentasi yang Menarik

Pada saat peluncuran, Apple memastikan presentasi produknya dirancang dengan indah dan menarik.

Desain yang diperhatikan dengan baik akan memberikan kesan eksklusivitas dan unggul. Dengan demikian, berpotensi memicu keinginan untuk memiliki produk tersebut.

Pemanfaatan FOMO dalam strategi pemasaran telah membantu Apple menciptakan buzz yang besar untuk setiap produk baru yang diluncurkan.

Perusahaan ini secara konsisten memahami psikologi konsumen dan kekuatan FOMO untuk menciptakan dampak yang signifikan dalam perilaku pembelian.

Dengan menggabungkan elemen FOMO ke dalam strategi marketing, bisnis dapat menciptakan keterlibatan (engagement) yang kuat dan meningkatkan loyalitas pelanggan.

Menulis Copywriting Ciamik dengan Formula FAB

Menulis Copywriting Ciamik dengan Formula FAB

Copywriting, dalam dunia pemasaran, dikenal sebagai seni menulis dengan tujuan memotivasi pembaca atau pendengar untuk mengambil tindakan tertentu.

Tindakan ini bisa berupa pembelian produk, mendaftar layanan, menginstal aplikasi, atau bahkan sekadar mengisi formulir.

Di balik setiap iklan, slogan, atau tulisan pemasaran yang sukses, terdapat seni copywriting yang memukau.

Apa itu Formula FAB?

Ada banyak teknik dalam membuat copywriting yang menjual. Salah satunya, FAB.

Formula FAB (Feature-Advantage-Benefit) merupakan pendekatan dalam copywriting yang memecah pesan menjadi tiga elemen utama: fitur, keuntungan, dan manfaat.

Dengan merinci setiap elemen ini, copywriter dapat menyusun pesan yang lebih persuasif dan memahami dengan jelas mengapa pembaca harus tertarik atau membeli produk atau layanan yang ditawarkan.

  1. Fitur (Feature)

Fitur adalah karakteristik khusus, ciri fisik, atau atribut dari suatu produk atau layanan. Ini sering kali berfokus pada spesifikasi teknis atau aspek yang dapat diukur secara objektif.

Contoh:

  • Smartphone terbaru dengan kamera resolusi tinggi, penyimpanan besar, dan baterai tahan lama.
  • Deterjen dengan bahan ramah lingkungan.
  • Pelatihan kebugaran dengan layar sentuh interaktif.
  1. Keuntungan (Advantage)

Keuntungan, dalam konteks ini, adalah cara fitur tersebut memberikan nilai tambah maupun keunggulan dibandingkan dengan produk atau layanan serupa.

Advantage menjawab pertanyaan, “Mengapa fitur ini penting?”

Contoh:

  • Kamera resolusi tinggi memungkinkan Anda mengambil foto yang tajam dan jelas, bahkan dalam kondisi pencahayaan yang rendah.
  • Bahan deterjen ramah lingkungan mengurangi dampak negatif pada alam sekitar.
  • Layar sentuh interaktif pada pelatih kebugaran memberikan pengalaman latihan yang lebih menarik dan efektif.
  1. Manfaat (Benefit)

Dalam formula FAB, yang dimaksud Manfaat adalah dampak positif yang akan dirasakan oleh pengguna atau pelanggan dari fitur dan keuntungan yang ditawarkan.

Manfaat membantu menjawab pertanyaan, “Bagaimana produk atau layanan ini akan meningkatkan hidup saya?”

Contoh:

  • Dengan kamera yang superior, Anda dapat menangkap momen berharga dengan kualitas yang memukau, menciptakan kenangan yang tak terlupakan.
  • Menggunakan deterjen ramah lingkungan membantu Anda berkontribusi pada pelestarian lingkungan sekaligus memberikan kepuasan moral dalam setiap cucian.
  • Pengalaman latihan yang lebih menarik dan efektif dengan layar sentuh interaktif membuat proses dalam menjaga kebugaran tubuh jadi semakin menyenangkan dan motivatif.”

Mengapa Formula FAB Penting?

Formula FAB membantu mengkomunikasikan nilai produk atau layanan secara lebih persuasif dan relevan dengan kebutuhan pembaca.

Dengan merinci fitur, keuntungan, dan manfaat, copywriter dapat menjelaskan dengan jelas bagaimana produk tersebut dapat memenuhi keinginan atau masalah target audiens.

Ada beberapa keunggulan yang dimiliki formula FAB dalam membuat copywriting, di antaranya:

  1. Klarifikasi Pesan

Formula FAB membantu mengklarifikasi pesan dengan memecahnya menjadi elemen-elemen yang terukur. Ini memungkinkan pembaca atau pelanggan untuk dengan jelas memahami nilai produk atau layanan.

  1. Orientasi pada Pengguna

FAB memusatkan perhatian pada manfaat yang dirasakan oleh pengguna atau pelanggan. Dengan demikian, pesan menjadi lebih relevan dan bersifat pengguna, meningkatkan kemungkinan respon positif.

  1. Diferensiasi dari Pesaing

Dengan menyoroti fitur, keuntungan, dan manfaat unik, Formula FAB membantu produk atau layanan untuk membedakan diri dari pesaing di pasar yang sering kali memiliki fitur serupa.

  1. Penekanan pada Nilai

Formula FAB menekankan nilai produk atau layanan dengan menghubungkan fitur teknis dengan keuntungan dan manfaat yang dapat dirasakan. Ini membantu menciptakan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai yang ditawarkan.

  1. Pemahaman Lebih Baik oleh Pembaca

Dengan menyajikan informasi secara terstruktur, pembaca lebih mungkin untuk memahami pesan dengan lebih baik. Fitur memberikan konteks, keuntungan memberikan alasan, dan manfaat memberikan dampak langsung pada kehidupan pembaca.

  1. Mendorong Tindakan

Fokus pada manfaat membantu menciptakan keinginan dan motivasi bagi pembaca atau pelanggan untuk mengambil tindakan lebih lanjut, seperti melakukan pembelian atau mendaftar membership.

  1. Memahami Kebutuhan Audiens

Melalui analisis manfaat, copywriter dapat memahami lebih baik kebutuhan, keinginan, atau masalah yang dihadapi oleh audiens. Ini memungkinkan mereka menyusun pesan yang lebih personal dan relevan.

  1. Pengaruh Emosional

Dengan merinci manfaat, Formula FAB memungkinkan copywriter untuk membangun pengaruh emosional. Pembaca cenderung meresapi pesan dengan lebih baik ketika mereka dapat memvisualisasikan bagaimana suatu produk akan memperbaiki atau memperkaya kehidupan mereka.

  1. Pendekatan Struktural

Formula FAB memberikan struktur yang jelas dalam penyusunan pesan. Ini membantu copywriter menghindari kebingungan atau ketidakjelasan dalam menyampaikan pesan kepada audiens.

  1. Pembuatan Pesan yang Konsisten

Dengan menggunakan Formula FAB, copywriter dapat memastikan konsistensi pesan di seluruh kampanye pemasaran. Ini penting agar audiens memahami dan mengingat pesan dengan lebih baik.

8 Formula Copywriting yang Ampuh Memikat Pelanggan

8 Formula Copywriting yang Ampuh Memikat Pelanggan

Jika Anda ingin memahami seni dan ilmu di balik pesan-pesan yang membuat orang tak bisa menahan diri untuk membeli suatu produk atau jasa…

Maka, selamat datang di dunia copywriting!

Copywriting merupakan seni menulis dengan tujuan persuasif.

Setiap diksi kata digunakan untuk memotivasi pembaca atau pendengar agar mengambil tindakan tertentu, seperti membeli produk, mendaftar, atau mengunjungi situs web.

Terdapat berbagai formula maupun teknik yang dapat digunakan dalam membuat copywriting yang powerful.

Berikut adalah 8 formula yang kerap digunakan oleh para copywriter profesional:

  1. AIDA: Attention, Interest, Desire, Action

Attention (Perhatian):

Tarik perhatian pembaca dengan headline atau kalimat pembuka yang kuat.

Contoh: “Bukan Lagi Mimpi! Temukan Rahasia Kulit Sehat dalam 7 Hari!”

Interest (Minat):

Bangkitkan minat pembaca dengan menjelaskan manfaat produk atau layanan.

Contoh: “Dengan formula eksklusif kami, kulit Anda akan merasakan kelembutan dan kilau yang belum pernah Anda alami sebelumnya.”

Desire (Keinginan):

Kembangkan keinginan pembaca dengan menyoroti nilai unik (unique selling proposition) dan keunggulan produk.

Contoh: “Bayangkan memiliki kulit yang bersinar sepanjang waktu, tanpa masalah kering atau kusam.”

Action (Tindakan):

Ajak pembaca untuk mengambil tindakan tertentu, seperti membeli, mendaftar, atau menghubungi.

Contoh: “Pesan sekarang dan mulailah perjalanan menuju kulit yang sempurna! Diskon 20% hanya untuk pemesanan hari ini.”

  1. Problem-Agitate-Solution (PAS):

Problem (Masalah):

Identifikasi masalah atau kebutuhan pembaca.

Contoh: “Apakah rambut Anda sering rusak dan kusam?”

Agitate (Menggambarkan Lebih Detail):

Gambarkan masalah dengan lebih detail, memicu emosi dan keinginan untuk solusi.

Contoh: “Jangan biarkan rambut yang rusak menghancurkan penampilan Anda. Rambut yang kusam dapat membuat Anda kehilangan kepercayaan diri.”

Solution (Solusi):

Tawarkan produk atau layanan sebagai solusi yang efektif untuk masalah tersebut.

Contoh: “Temukan keajaiban formula perbaikan rambut kami yang telah terbukti mengembalikan kilau dan kelembutan rambut. Introducing Hair Revive!”

  1. Feature-Advantage-Benefit (FAB):

Feature (Fitur):

Identifikasi fitur-fitur produk atau layanan.

Contoh: “Teknologi anti-gores terbaru.”

Advantage (Keuntungan):

Jelaskan bagaimana fitur-fitur tersebut memberikan keuntungan atau nilai tambah.

Contoh: “Memberikan perlindungan ekstra terhadap goresan dan kerusakan.”

Benefit (Manfaat):

Fokus pada manfaat konkret yang akan dirasakan oleh pembaca.

Contoh: “Dengan teknologi anti-gores kami, smartphone Anda akan tetap mulus dan tampak baru setiap saat.”

  1. Before-After-Bridge (BAB):

Before (Sebelum):

Gambarkan situasi atau masalah sebelum menggunakan produk atau layanan.

Contoh: “Sebelum menggunakan produk kecantikan kami, kulit Anda mungkin kering dan tanpa kehidupan.”

After (Setelah):

Deskripsikan bagaimana hidup atau situasi akan menjadi lebih baik setelah menggunakan produk atau layanan.

Contoh: “Setelah mengaplikasikan serum kami, kulit Anda akan terhidrasi sepanjang hari, memberikan kilau sehat yang memukau.”

Bridge (Jembatan):

Hubungkan keduanya dan tunjukkan bagaimana produk atau layanan merupakan solusi untuk perubahan tersebut.

Contoh: “Dengan penggunaan teratur, Anda dapat mencapai kulit yang Anda impikan. Temukan perubahan yang luar biasa dengan produk kami.”

  1. Problem-Promise-Proof-Proposal (PPPP):

Problem (Masalah):

Identifikasi masalah atau kebutuhan.

Contoh: “Mengalami kesulitan tidur?”

Promise (Janji):

Berikan janji bahwa produk atau layanan dapat mengatasi masalah tersebut.

Contoh: “Janji kami, tidur nyenyak setiap malam dengan SleepWell – suplemen tidur terbaik.”

Proof (Bukti):

Sertakan bukti, seperti testimoni atau data, yang mendukung janji tersebut.

Contoh: “92% pengguna mengaku ada peningkatan kualitas tidur setelah meminum SleepWell.”

Proposal (Tawaran):

Ajak pembaca untuk mengambil tindakan dengan menawarkan tindakan spesifik.

Contoh: “Segera pesan SleepWell sekarang dan nikmati tidur yang berkualitas setiap malam.”

  1. The 4 Cs: Clear, Concise, Compelling, and Credible

Clear (Jelas):

Pastikan pesan Anda mudah dipahami.

Contoh: “Produk kami membantu menyegarkan napas Anda dengan cepat dan efektif.”

Concise (Ringkas):

Sederhanakan dan singkatkan pesan agar tidak membingungkan.

Contoh: “Hanya dalam 3 langkah, dapatkan napas segar sepanjang hari.”

Compelling (Mempesona):

Buat pesan menarik dan memikat pembaca.

Contoh: “Tingkatkan rasa percaya diri Anda dengan napas segar yang memikat.”

Credible (Kredibel):

Gunakan bukti atau otoritas untuk membangun kepercayaan.

Contoh: Direkomendasikan oleh dokter gigi terkemuka sebagai solusi terbaik untuk masalah napas tidak sedap.”

  1. The 5 W’s and H: Who, What, When, Where, Why, How

Who (Siapa):

Jelaskan siapa yang akan mendapatkan manfaat dari produk atau layanan.

Contoh: “Bagi mereka yang mencari kenyamanan dan gaya sepanjang hari.”

What (Apa):

Jelaskan apa produk atau layanan tersebut.

Contoh: “Sepatu olahraga terbaru dengan teknologi penyangga kaki yang inovatif.”

When (Kapan):

Tunjukkan kapan produk atau layanan dapat digunakan atau diperlukan.

Contoh: “Ideal untuk kegiatan lari, berjalan, atau berolahraga sepanjang hari.”

Where (Di mana):

Jelaskan di mana pembaca dapat memperoleh produk atau layanan.

Contoh: “Dapatkan sekarang di toko-toko olahraga terkemuka atau online.”

Why (Mengapa):

Gambarkan mengapa pembaca membutuhkan produk atau layanan tersebut.

Contoh: “Karena kenyamanan dan performa terbaik Anda adalah prioritas kami.”

How (Bagaimana):

Berikan informasi tentang cara menggunakan produk atau layanan.

Contoh: “Temukan keunggulan teknologi penyangga kaki kami yang membuat setiap langkah Anda jadi nyaman.”

  1. The Problem-Action-Result (PAR) Framework:

Problem (Masalah):

Identifikasi masalah atau tantangan yang dihadapi.

Contoh: “Masalah kulit berminyak dan berjerawat?”

Action (Tindakan):

Gambarkan tindakan yang diambil untuk mengatasi masalah.

Contoh: “Ambil langkah pertama menuju kulit yang bersih dengan mencoba produk perawatan kulit kami.”

Result (Hasil):

Tunjukkan hasil positif atau manfaat setelah mengambil tindakan tersebut.

Contoh: “Rasakan perubahan luar biasa dalam beberapa minggu. Kulit bebas minyak dan jerawat, memberikan kepercayaan diri baru.”

Penting untuk dicatat bahwa keberhasilan copywriting juga bergantung pada kreativitas, penyesuaian dengan audiens, dan pengujian terus-menerus untuk menemukan apa yang paling efektif.

Sertakan pula unsur keaslian (authentic) dan relevansi untuk memastikan pesan Anda dapat terhubung dengan pembaca secara lebih personal.

Branding, Marketing, dan Selling: Serupa Tapi Tak Sama

Branding, Marketing, dan Selling: Serupa Tapi Tak Sama

Pernahkah Anda memperhatikan kalau istilah branding dan marketing seringkali digunakan secara bergantian?

Ketika berbincang tentang keduanya, sebagian dari kita—biasanya—akan berbicara seputar memperoleh penjualan dan uang lebih banyak.

Loh, bukannya itu berarti kita harusnya ngomong mengenai selling (sales)?

Bingung? Ya, kami tidak menyalahkan Anda.

Begini masalahnya…

Dalam dunia bisnis, aktivitas branding, marketing, dan selling merupakan trio yang saling mempengaruhi. Namun, masing-masing memiliki perbedaan yang perlu kita pahami.

Izinkan kami membantu menguraikan perbedaan di antara ketiganya sehingga Anda dapat memilih untuk mengembangkan bisnis di aktivitas yang mana terlebih dahulu.

Apa Perbedaan Branding, Marketing, dan Selling?

  1. Branding

Definisi

Branding mencakup rangkaian kegiatan yang dirancang untuk membangun dan memelihara citra merek (brand image) suatu produk atau perusahaan.

Hal ini kerap melibatkan elemen-elemen seperti logo, warna, gaya penulisan, dan nilai-nilai yang diusung oleh merek.

Contoh

Salah satu role-model dari keberhasilan sebuah branding adalah Apple.

Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga mengkomunikasikan gaya hidup inovatif dan eksklusif melalui desain minimalis, kualitas produk, serta pengalaman pengguna yang unik.

Adapun contoh di platform digital dan media sosial, perusahaan teknologi seperti Google membangun brand identity dengan konsistensi dalam penggunaan logo, warna, maupun gaya grafis dalam setiap konten yang mereka bagikan.

  1. Marketing

Definisi

Marketing adalah serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk mempromosikan, mendistribusikan, dan menjual produk atau layanan. Di dalamnya termasuk penelitian pasar, periklanan, public relations, dan strategi pemasaran untuk mencapai target pasar.

Contoh

Kampanye iklan Coca-Cola merupakan contoh yang baik dari strategi pemasaran yang sukses.

Mereka tidak hanya fokus pada rasa minuman, tetapi juga membangun emosi positif dan ikatan sosial melalui sejumlah iklan yang kreatif.

Beriklan di Facebook dan Instagram juga dikategorikan sebagai aktivitas marketing. Baik dalam bentuk gambar produk yang menarik, deskripsi yang wow, dan tautan (link) yang mengundang calon customer untuk mengekliknya.

  1. Selling

Definisi

Secara sederhana, selling atau sales berarti kegiatan penjualan secara langsung produk atau layanan kepada pelanggan.

Aktivitas yang dilakukan meliputi proses negosiasi, closing penjualan, hingga membangun hubungan pelanggan (customer relationship) untuk meningkatkan penjualan dan kepuasan konsumen.

Contoh

Penjualan mobil di sebuah dealer adalah bentuk nyata dari kegiatan penjualan. Salesperson berinteraksi langsung dengan pelanggan, menjelaskan fitur produk, dan menciptakan argumen penjualan untuk mempengaruhi keputusan pembelian.

Keterkaitan Antara Branding, Marketing, dan Selling

Meskipun memiliki peran yang berbeda, keterkaitan antara branding, marketing, dan selling sangat penting untuk mencapai kesuksesan bisnis secara menyeluruh.

  1. Branding sebagai Dasar

Branding menciptakan pondasi bagi seluruh strategi pemasaran dan penjualan.

Identitas merek (brand identity) yang kuat akan memberikan panduan dalam menentukan pesan yang akan disampaikan dalam kegiatan marketing dan bagaimana berinteraksi dengan pelanggan.

Dengan sendirinya, hal itu dapat menciptakan konsistensi dan kepercayaan di tengah konsumen.

  1. Marketing untuk Membangun Kesadaran

Aktivitas pemasaran bertujuan untuk membangun kesadaran (awareness) dan minat (interest) konsumen terhadap produk atau layanan yang kita tawarkan.

Tanpa strategi pemasaran yang baik, konsumen mungkin tidak menyadari atau tertarik pada apa yang ditawarkan oleh perusahaan.

  1. Selling sebagai Implementasi

Proses penjualan mengonversi minat menjadi tindakan nyata (action). Seorang salesperson harus mampu mengkomunikasikan nilai produk, mengatasi keberatan, dan membangun hubungan dengan pelanggan demi mencapai target penjualan.

  1. Feedback Loop yang Kontinu

Keterkaitan ini menciptakan suatu siklus umpan balik yang berkelanjutan. Pengalaman pelanggan yang dirasakan selama proses penjualan dapat memberikan masukan berharga untuk meningkatkan strategi pemasaran dan bahkan memperbarui elemen branding jika diperlukan.

  1. Tujuan Bersama untuk Kesuksesan

Meskipun memiliki fokus yang berbeda, branding, marketing, dan selling bekerja menuju tujuan bersama, yaitu meningkatkan keuntungan dan pertumbuhan bisnis. Keberhasilan satu aspek seringkali bergantung pada keberhasilan aspek lainnya.

Branding, marketing, dan selling telah menjadi tiga komponen kunci dalam ekosistem bisnis yang saling melengkapi.

Dengan memahami peran masing-masing dan bagaimana mereka berinteraksi, perusahaan dapat merancang strategi yang lebih efektif untuk membangun brand image yang kuat, meningkatkan kesadaran pasar, dan meraih keberhasilan penjualan.

Bongkar Strategi Guerilla Marketing dan Keuntungan di Baliknya

Bongkar Strategi Guerilla Marketing dan Keuntungan di Baliknya

Guerilla Marketing (pemasaran gerilya) telah menjadi sorotan dalam dunia bisnis yang mampu mengubah cara sebuah brand berinteraksi dengan konsumen.

Bukan lagi sebatas iklan konvensional, Guerilla Marketing turut merambah wilayah tak terduga sekaligus kreatif dalam menarik perhatian audiens.

Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu Guerilla Marketing, keuntungannya, dan beberapa contoh yang memukau dalam dunia nyata. Enjoy!

Apa Itu Guerilla Marketing?

Secara sederhana, Guerilla Marketing adalah pendekatan metode pemasaran yang inovatif, tidak konvensional, dan seringkali memanfaatkan sumber daya terbatas.

Strategi ini bertujuan menciptakan kesan yang mendalam terhadap target pasar tanpa bergantung pada metode pemasaran tradisional.

Lupakan sejenak tentang memasang iklan di televisi nasional, koran, majalah, baliho, atau papan-papan reklame berukuran besar.

Teknik Guerilla Marketing kerap mengandalkan kreativitas, kejutan, dan kecerdasan untuk memancing awareness dalam skala yang lebih kecil, namun lebih signifikan.

Dalam sejarahnya, tidak ada penemu atau pencipta tunggal dari hadirnya teori Guerilla Marketing. Konsep ini muncul sebagai respons terhadap perubahan dalam dunia pemasaran yang semakin dinamis dan penuh dengan pesaing.

Namun, ada beberapa tokoh dan kontributor yang terkenal karena membawa gagasan ini kepada publik.

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan pengembangan konsep pemasaran Guerilla adalah Jay Conrad Levinson.

Levinson merilis buku berjudul “Guerilla Marketing” pada tahun 1984, yang membahas strategi pemasaran alternatif yang lebih kreatif dan hemat biaya. Buku ini menjadi sangat populer dan menjadi dasar untuk memahami Guerilla Marketing.

Keuntungan Guerilla Marketing

  1. Kreativitas yang Tak Terbatas

Taktik pemasaran dengan metode Guerilla memberikan kebebasan tanpa dibatasi besaran anggaran.

Pada akhirnya, inovasilah yang menjadi kunci. Melalui ide-ide yang brilian, sebuah brand dapat membangun kampanye yang unik dan tak terlupakan.

  1. Biaya Lebih Efektif

Dibandingkan dengan kampanye iklan tradisional, Guerilla Marketing dapat dilaksanakan dengan biaya yang lebih rendah. Taktik sederhana seperti street art atau flash mob bisa menciptakan dampak besar tanpa menguras sumber daya.

  1. Keterlibatan Konsumen

Guerilla Marketing kerap menciptakan engagement yang tinggi bersama konsumen. Dengan menciptakan pengalaman yang berbeda, perusahaan dapat membangun hubungan yang lebih erat antara produk dan audiensnya.

  1. Viralitas

Konten-konten Guerilla Marketing cenderung lebih mudah menyebar secara viral melalui media sosial. Ketika konsumen merasa terkesan, mereka cenderung ingin berbagi pengalaman secara organik, yang secara tidak langsung akan memperluas jangkauan kampanye.

Contoh Pemasaran Guerilla dalam Dunia Nyata

  1. Flash Mob oleh T-Mobile

T-Mobile, perusahaan telekomunikasi asal Jerman, pernah menggelar campaign flash mob bertajuk “Life’s for sharing” pada 2010 silam.

Setelah sukses mengadakan flash mob di Liverpool Street Station, mereka melanjutkannya secara konsisten selama 1,5 tahun di beberapa lokasi lain.

Aksi ini melibatkan ratusan penari yang menampilkan dance spontan di tengah keramaian. Hasilnya, T-Mobile memperoleh viralitas yang tinggi di YouTube dan liputan televisi. Flash mob pertama di Liverpool Street Station pun ikut meningkatkan penjualan hingga 52 persen.

  1. Street Art oleh Nike

Pada 2019 lalu, Nike menggandeng AKQA (agensi periklanan asal Inggris) untuk mengembangkan Air Max Graffiti Stores.

Keduanya berkolaborasi dengan sejumlah seniman graffiti di Sao Paulo demi mengubah dinding-dinding di area perkotaan menjadi kanvas iklan yang kreatif. Langkah ini dilakukan dalam rangka memperkenalkan sepatu baru Air Max milik Nike.

Contagious, konsultan kreatif yang berlokasi di London, menganugerahi AKQA’s Graffiti Stores for Nike tersebut sebagai World’s Best Strategy. Campaign ini juga sukses menerima penghargaan dari Grand Clio dan Cannes Lions International Festival of Creativity.

  1. Real Beauty Sketches oleh Dove

Sejak lama, Dove sering menjalankan campaign yang memberikan ruang bagi para perempuan untuk bercerita mengenai kecantikan menurut perspektif masing-masing.

Termasuk pada 2013 ketika Dove meluncurkan kampanye “Real Beauty Sketches”.

Aksi tersebut melibatkan konsumennya, terutama para wanita, dengan mengadakan kontes sketsa di jalan-jalan kota. Mereka bebas menggambarkan diri sendiri dan merayakan keunikan individu.

Dove terbilang berhasil dalam mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam membahas isu mengenai kecantikan di berbagai versi dan citra tubuh yang positif.

Evolusi Marketing 1.0 Hingga 5.0: Menjelajahi Perubahan Paradigma Pemasaran

Evolusi Marketing 1.0 Hingga 5.0: Menjelajahi Perubahan Paradigma Pemasaran

Pemasaran, sebagai disiplin bisnis yang terus berkembang, telah mengalami evolusi signifikan sepanjang waktu.

Dari pemasaran yang berfokus pada produk hingga pendekatan yang mencakup teknologi tinggi dan nilai-nilai kemanusiaan. Perubahan tersebut mencerminkan transformasi mengenai cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan.

Apa saja evolusi marketing yang sudah dan sedang terjadi? Mari kita jelajahi!

Marketing 1.0: Puncak Era Produk

Pada awal Revolusi Industri hingga pertengahan abad ke-20, Marketing 1.0 menempatkan perhatian pada produk.

Produsen berusaha menciptakan produk berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Strategi pemasaran lebih berorientasi pada berbagai fitur produk serta mengutamakan target penjualan.

Ford Model T bisa dibilang menjadi simbol pada era ini. Dengan memperkenalkan mobil yang terjangkau bagi masyarakat umum, Henry Ford mengubah industri otomotif yang berfokus pada efisiensi dan standardisasi produk.

Marketing 2.0: Pergeseran ke Pelanggan

Dengan masuknya tahun 1950-an, pergeseran besar terjadi menuju Marketing 2.0.

Perusahaan mulai memahami pentingnya memahami keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Pemasaran menjadi lebih berorientasi pada pengembangan merek (branding) dan membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Konsep nilai pelanggan menjadi kunci dalam memandu strategi pemasaran.

Contoh strategi marketing yang menerapkan pendekatan ini yaitu ketika Coca-Cola meluncurkan kampanye “Share a Coke”. Mereka mencetak nama-nama pelanggan pada kemasan produk. Strategi ini bertujuan membangun koneksi emosional dengan pelanggan dan meningkatkan keterlibatan (engagement) mereka.

Marketing 3.0: Nilai untuk Masyarakat

Masuk ke awal abad ke-21, Marketing 3.0 memperkenalkan konsep nilai bagi masyarakat.

Perusahaan tidak hanya berusaha memberikan nilai kepada pelanggan, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan lingkungan. Faktor etis dan keberlanjutan menjadi bagian integral dari strategi pemasaran.

TOMS Shoes pernah berada di tahap ini melalui kampanye “One for One”. Setiap pasang sepatu yang dibeli akan mendonasikan satu pasang lagi kepada anak-anak yang membutuhkan. Ini adalah contoh pemasaran dengan nilai-nilai sosial yang kuat.

Marketing 4.0: Revolusi Digital

Dengan pertumbuhan teknologi digital pada pertengahan 2010-an, Marketing 4.0 muncul sebagai respons terhadap perubahan paradigma.

Digital Marketing menjadi fokus utama, dengan perusahaan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), big data, dan Internet of Things (IoT) untuk memahami perilaku pelanggan. Interaksi secara real-time dan personalisasi pengalaman sesuai preferensi pelanggan menjadi kunci keberhasilan.

Banyak perusahaan ternama yang telah melalui tahap ini. Misalnya, Spotify yang menggunakan algoritma untuk menganalisis preferensi musik pengguna dan membuat playlist yang disesuaikan. Metode ini akan menciptakan pengalaman mendengarkan musik yang sangat personal dan meningkatkan retensi pelanggan.

Marketing 5.0: Manusia dan Teknologi Berpadu

Saat ini, kita berada dalam era Marketing 5.0, yang masih dalam pengembangan.

Pemasaran tidak lagi hanya tentang teknologi, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan. Konsep ini mencoba menggabungkan kecerdasan buatan dan teknologi tinggi dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

Dengan kata lain, para pakar marketing menggunakan teknologi untuk meningkatkan interaksi manusiawi dan memberikan pengalaman yang mendalam.

Era Marketing 5.0 menyoroti pentingnya keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai manusiawi. Meskipun kecerdasan buatan memberikan wawasan yang mendalam tentang perilaku pelanggan, penggunaannya harus bijak untuk menjaga aspek manusiawi dalam interaksi bisnis.

Pemasaran tidak hanya tentang menghasilkan keuntungan tetapi juga tentang membangun hubungan yang bermakna bersama pelanggan.

Gojek, sebagai platform layanan berbasis teknologi, pernah sukses menggabungkan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Kampanye “Pulang dengan Selamat” menyoroti komitmen Gojek demi meningkatkan keselamatan pengendara dan penumpang, yang tentunya menciptakan dampak positif di tengah masyarakat.

Namun, sekali lagi penting untuk dicatat, konsep Marketing 5.0 ini masih berkembang. Perusahaan mungkin berada pada tahap yang berbeda dalam mengadopsi pendekatan ini.

Seiring perubahan pasar dan teknologi, evolusi marketing akan terus berlanjut. Keberhasilan sebuah perusahaan tergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Kesimpulan

Evolusi marketing dari 1.0 hingga 5.0 mencerminkan perubahan signifikan dalam cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan.

Dari orientasi pada produk hingga integrasi nilai-nilai kemanusiaan, pemasaran terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Pemahaman dan penerapan konsep-konsep ini penting bagi perusahaan yang ingin tetap relevan dan berhasil di era bisnis yang terus berubah ini. Dengan memahami perjalanan evolusi marketing, perusahaan dapat lebih baik menavigasi dinamika pasar dan membangun strategi pemasaran yang efektif di masa depan.

TikTok-Tokopedia Bersatu, E-Commerce Indonesia Makin Seru

TikTok-Tokopedia Bersatu, E-Commerce Indonesia Makin Seru

Awal Polemik

“Tolong, Pak. TikTok ditutup, Pak.”

Tulisan yang tercetak di lembaran kardus itu sempat memenuhi Pasar Tanah Abang pada September 2023 silam. Sejumlah pedagang mengaku penjualan mereka terus merosot, karena harga jual di platform tersebut berada jauh di bawah pasaran.

“Minta tolong ke pak Menteri online shop TikTok berpengaruh banget buat pedagang di sini,” ujar salah seorang pedagang, Anton.

Dia mencontohkan, dirinya biasa menjual gamis seharga Rp100 ribu. Sedangkan di TikTok, ada yang menjual hanya dengan Rp39 ribu. Padahal, bahan yang digunakan pun sama.

“Kalau kami bikin sendiri juga tidak masuk harganya, kenapa di online bisa Rp39 ribu. Itu tak masuk akal,” kata Anton bingung.

Senada dengan itu, pedagang lain bernama Anggi mengeluhkan persoalan yang sama. Ia bahkan sudah berupaya menurunkan harga dagangannya. Namun, tetap saja tidak bisa lebih murah dari TikTok Shop.

“Tidak mengerti juga bisa banting harga serendah itu. Kami sudah banting harga juga tak laris-laris,” jelasnya.

TikTok Shop Ditutup

Tidak butuh waktu lama bagi Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop-UKM) Teten Masduki untuk merespons tuntutan para pedagang di Tanah Abang.

TikTok Shop akhirnya ditutup permanen pada 4 Oktober 2023.

Teten beralasan, TikTok Shop tidak memiliki izin berdagang bagi e-commerce. Platform tersebut hanya mempunyai izin Kantor Perwakilan Perusahaan Asing (KP3A).

Dalam hal ini, Menkop-UKM mempertegas isi Permendag Nomor 31 Tahun 2023 sebagai berikut:

  1. Pendefinisian model bisnis Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPMSE) seperti lokapasar atau marketplace dan social commerce, untuk mempermudah pembinaan dan pengawasan.
  2. Penetapan harga minimum sebesar USD100 dollar per unit untuk barang asal luar negeri yang langsung dijual oleh pedagang (merchant) ke Indonesia melalui platform e-commerce lintas negara.
  3. Disediakan Positive List, yaitu daftar barang asal luar negeri yang diperbolehkan Cross-Border “langsung” masuk ke Indonesia melalui platform perdagangan elektronik.
  4. Menetapkan syarat khusus bagi pedagang luar negeri pada lokapasar dalam negeri, yaitu menyampaikan bukti legalitas usaha dari negara asal, pemenuhan standar (SNI wajib) dan halal, pencantuman label berbahasa Indonesia pada produk asal luar negeri, dan asal pengiriman barang.
  5. Terdapat larangan bagi lokapasar dan social commerce untuk bertindak sebagai produsen.
  6. Larangan penguasaan data oleh PPMSE dan afiliasi.

Secara garis besar, maka sebetulnya aplikasi media sosial tidak boleh melakukan transaksi layaknya e-commerce. Para user hanya boleh memanfaatkan TikTok untuk mempromosikan barang jualannya, tetapi tidak boleh ada transaksi yang terjadi di dalam aplikasi tersebut.

Akusisi Jadi Solusi

Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12.12 menjadi momentum “comeback”-nya TikTok Shop.

Namun, kali ini TikTok menggandeng local champion marketplace Indonesia, Tokopedia. Bermodalkan USD1,5 miliar atau setara Rp23 triliun, TikTok mengakuisisi 75,01 persen saham toko hijau tersebut.

Kolaborasi keduanya dianggap sejumlah pihak dapat membuat kompetisi e-commerce di Tanah Air semakin seru.

Pasalnya, perdagangan elektronik di dalam negeri saat ini didominasi pemain asing, yaitu Shopee dengan market share mencapai 40 persen. Sea Ltd. selaku induk perusahaan Shopee diprediksi akan terus memperoleh kucuran dana dari pemegang saham terbesarnya, Tencent.

Lazada juga tidak mau ketinggalan. Terbaru, Alibaba menyuntik USD634 juta atau setara Rp9,8 triliun ke anak perusahaannya itu.

“Sebenarnya kolaborasi Tokopedia dengan pemain global seperti TikTok bisa membuat Tokopedia memiliki potensi meraih posisi sebagai pemain e-commerce terbesar di Indonesia dan bisa mengimbangi pemain asing yang saat ini cukup gencar melakukan penetrasi pasar,” ungkap Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer.

Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya?

Beradaptasi dengan cepat di masa sekarang merupakan sebuah keniscayaan.

Para pedagang di Tanah Abang, pemilik online shop, ataupun kita sebagai penggiat UMKM harus sigap membaca setiap peluang. Terlebih, transformasi digital tengah menjadi isu yang hangat dan terus digembor-gemborkan oleh Pemerintah Indonesia.

Salah satu yang bisa dilakukan para pebisnis ialah dengan menghadirkan pengalaman berbelanja bernuansa unik dan baru.

TikTok Shop terbukti berhasil, kata Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya Arin Setyowati, karena memadukan hiburan bermedia sosial dengan kemudahan dan kecepatan dalam berbelanja.

Algoritma TikTok Shop menyajikan konten yang sesuai preferensi konsumen, diikuti pola tampilan produk yang juga sesuai keinginan pelanggan.

Social commerce akan menjadi tren digital marketing di masa mendatang. Tentu ini akan menciptakan persaingan yang lebih kompleks di pasar digital.

“Sehingga sudah seharusnya para pedagang, baik di pasar tradisional maupun digital harus bersiap untuk meningkatkan kapasitas diri dan bisnisnya dalam hal literasi digital dan perkembangan perilaku konsumen. Agar pedagang mampu menyediakan dan melayani kebutuhan konsumen secara tepat dan cepat,” paparnya.

Strategi Funneling untuk Bisnis yang Sukses

Strategi Funneling untuk Bisnis yang Sukses

Bayangkan di tangan Anda terdapat sebuah pipa atau corong. Kemudian Anda menuangkan minyak ke suatu wadah melalui corong tersebut.

Minyak tersebut tentu perlahan mengalir dari ujung corong dengan penampang besar ke ujung satunya lagi yang berpenampang lebih kecil, hingga masuk ke wadah tersebut.

Begitulah cara Funneling atau Sales Funnel bekerja untuk bisnis Anda.

Strategi funneling merupakan cara untuk memecah customer journey, mulai dari calon pelanggan mengenal produk Anda sampai mereka memutuskan untuk membeli.

Mula-mula, calon pelanggan akan dikumpulkan sebanyak-banyaknya pada ujung corong berpenampang besar.

Dari kumpulan calon pelanggan tersebut, tidak semuanya pasti membeli produk Anda, kan?

Melalui sejumlah langkah lain, calon-calon pelanggan tersebut akhirnya “tereliminasi” sehingga Anda memperoleh sekumpulan orang yang benar-benar menjadi customer.

Perhatikan gambar di bawah ini:

apa itu funneling

Sales Funnel atau bisa diartikan sebagai Saluran Penjualan terbukti berhasil meningkatkan penjualan berbagai perusahaan dan brand di seluruh dunia. Mulai dari UMKM maupun korporasi besar.

Untuk menerapkan strategi ini, setidaknya Anda harus menjalankan 4 tahap yang dikenal dengan AIDA: Awareness, Interest, Decision, Action.

A for Awareness (Kesadaran)

Ini adalah momen untuk menarik perhatian calon buyer. Misalnya, menulis blog dan mengembangkannya lewat teknik SEO, berbagi konten di media sosial, upload video di Youtube dan TikTok, atau pasang iklan di billboard.

Buatlah content marketing yang mengundang rasa penasaran manusia.

Dengan demikian, orang-orang mulai mengenal siapa Anda dan produk atau jasa apa yang ditawarkan.

I for Interest (Ketertarikan)

Ketika calon buyer masuk ke tahap ini, mereka akan mulai mencari lebih jauh mengenai brand Anda, membandingkan dengan toko sebelah, serta menunggu penawaran atau diskon tertentu.

Inilah saat yang tepat untuk menggiring mereka dengan konten-konten edukasi.

Tujuannya bukan langsung jualan. Melainkan, menaikkan kepercayaan mereka terhadap Anda, membantu konsumen membuat keputusan yang tepat, dan perlahan meyakinkan orang-orang tersebut bahwa Anda adalah solusi bagi permasalahan mereka.

D for Desire (Keinginan)

Pada tahap ini, konsumen sudah siap membeli produk Anda.

Meskipun terkadang, Anda bukanlah pilihan satu-satunya. Mereka bisa saja juga masih mempertimbangkan brand lain.

Karenanya, berikanlah penawaran terbaik bagi mereka. Contohnya, flash sale, gratis ongkir, bonus produk serupa, atau bundling produk dengan harga lebih murah.

Peran customer service cukup penting di sini. Ingat, produk Anda mungkin bagus, namun calon buyer tetap bisa kehilangan minat apabila tidak dilayani dengan baik.

A for Action (Tindakan)

Hore! Konsumen tampaknya sudah benar-benar percaya pada Anda. Mereka pun memutuskan untuk membeli. Setidaknya, untuk sekali mencicipi produk Anda.

Tapi bagaimanapun, mereka telah menjadi bagian dari ekosistem bisnis kita.

Dengan kata lain, kini saatnya mengembangkan strategi retensi agar pelanggan betah berlama-lama dengan produk Anda, siap membeli untuk ke sekian kalinya, bahkan menjadi brand evangelis yang senang membagikan testimoni positifnya ke mana-mana.

10 Tips Social Media Marketing ala Neil Patel untuk Bisnis Restoran

10 Tips Social Media Marketing ala Neil Patel untuk Bisnis Restoran

Bisnis makanan hampir tidak ada matinya, bahkan ketika badai pandemi Covid-19 datang menghantam.

Selama manusia butuh makan, selama itu pula bisnis ini berkembang.

Memang, berjuta restoran dan tempat makan yang akhirnya tutup. Terlebih, ketika pemerintah memberlakukan kebijakan PSBB dan PPKM.

Namun, tidak sedikit pula yang masih bertahan.

Sebagian besar di antaranya, segera beradaptasi dengan keadaan, lalu on boarding ke digital. Baik itu mendaftar sebagai merchant marketplace, bikin website, tampil di maps Google My Business, dan tentu saja eksis di media sosial.

Marketing di media sosial punya segudang manfaat bagi bisnis restoran kita. Berikut ini ada 10 tips Social Media Marketing ala Neil Patel demi meningkatkan traffic dan penjualan di tempat makan kamu.

Check this out!

  1. Ciptakan Brand Voice yang Konsisten

Bikin konten yang serius di Instagram, terus upload tweet video lucu?

Sebaiknya jangan, deh. Kamu malah bisa bikin konsumen bingung. Mereka nanti bakalan bertanya, “Ini beneran restoran yang sama, kan?”

Branding yang konsisten di beragam platform media sosial, kata Neil, berpotensi melejitkan omsetmu.

Bagaimana cara memastikan brand voice kita seragam di semua media?

  • Punya semacam panduan mengenai style marketing kita
  • Posting gambar dengan tema warna yang sama
  • Buat caption dengan tone yang konsisten
  1. Optimasi Bio di Semua Platform

Bayangkan, kamu mengerjakan seluruh hal secara baik.

Mulai dari memilih foto yang high resolution, memakai hashtag, serta menulis caption yang menarik.

Calon konsumen pun mulai berdatangan. Tapi, kok mereka tidak menemukan nomor telepon yang bisa dihubungi atau informasi mengenai lokasi restoran kamu?

Coba cek poin-poin berikut untuk melengkapi bio kamu di semua platform media sosial!

  • Nomor telepon/Whatsapp
  • Alamat email
  • Lokasi restoran
  • Maps atau petunjuk menuju lokasi tersebut
  • Deskripsi singkat mengenai restoran dan tempat makan kamu
  1. Gunakan Tools untuk Monitoring

Apa ya yang dikatakan kompetitor mengenai masakan kita?

Bagaimana ya testimoni dari para konsumen?

Mengetahui ulasan dan apa yang dibicarakan mengenai bisnis kita tentu dapat menjadi feedback yang berharga. Kita bisa mengevaluasi strategi yang selama ini diterapkan.

Ada banyak tools gratis maupun berbayar untuk membantu kamu tracking semua hal tersebut di media sosial, di antaranya:

  • Hootsuite
  • Google Alerts
  • Talkwalker
  • Reputology
  1. Bikin Konten ‘Behind the Scene’

Konten ‘Di balik layar’ kurang lebih menceritakan isi dapurmu. Dengan berbagi hal ini, audiens akan merasa lebih dekat dengan kita.

Sebuah studi terhadap lebih dari 10 ribu responden menunjukkan, 55 persen di antaranya mengakui bahwa cerita lebih bersifat persuasif dibandingkan data dan fakta.

Jadi, bisakah kamu mengunggah foto para staf yang sedang bekerja? Bisakah kamu membagikan cerita-cerita seru mengenai proses memasak dan menghidangkan makanan?

Ingat, orang-orang memakai media sosial untuk mencari hiburan. Pastikan strategi marketing kita menjawab keinginan mereka.

  1. Promosikan Menu Baru

Social media merupakan tempat yang ideal untuk meluncurkan menu baru.

Orang-orang mencintai novelty, mereka begitu mendambakan sesuatu yang baru.

Setiap kali kamu ingin mengenalkan menu anyar, tampilkan dia di media sosial. Manfaatkan kebaruan ini sebagai focal point dalam marketing kamu.

  1. Posting Aktivitas Para Pegawai

Masih dalam tema ‘Behind the Scene’, kamu bisa mendedikasikan sebuah postingan untuk memberikan highlight bagi para pegawai.

Ada beberapa cara untuk melakukan ini, misalnya:

  • Mengunggah foto karyawan ketika mereka meraih sesuatu, seperti lulus kuliah, menikah, melahirkan anak, dan sebagainya
  • Menceritakan profil mereka. Siapa namanya, apa yang dikerjakan, dan bagaimana konsumen dapat mendukung kehidupannya.
  • Memperkenalkan dan membubuhkan tanda selamat datang bagi pegawai baru
  1. Bagikan ‘User-Generated Content/Konten Buatan Pengguna’

Umumnya, orang-orang suka bercerita mengenai pengalamannya. Apabila mereka menampilkannya di media sosial, share itu!

Posting ulang di Instagram kita.

Teknik ini gratis, loh. Tapi impact-nya luar biasa. Testimoni positif tersebut akan meroketkan trust masyarakat dan berpeluang menarik lebih banyak pelanggan baru.

  1. Berinteraksi dengan Audiens

Kebanyakan tim marketing pasti senang sekali menjawab komentar positif di media sosial. Sebaliknya, kita sering mengabaikan respons negatif.

Ini bisa dimengerti.

Kita tetap punya dua pilihan: menghapus komentar tersebut atau justru menanggapinya dengan elegan.

Terkadang, review negatif sekalipun dapat menjadi sesuatu yang baik. Ketika kamu meresponsnya dengan cantik, orang akan melihat bahwa restoran kita tidak lari dari masalah.

Kita peduli terhadap pelanggan.

Kita memahami keluhan mereka, dan berusaha memperbaiki serta menghadirkan solusi terbaik.

Image tempat makan kita pun tetap terjaga, sembari masalah konsumen terselesaikan.

Win-win solution, bukan?

  1. Kolaborasi Bareng Influencer

Influencer, baik yang mikro ataupun yang sudah besar, memiliki audiens yang siap mencicipi makanan kesukaan idola mereka.

Jangan sia-siakan kesempatan!

Jika kamu belum pernah mengambil strategi ini, mungkin ini beberapa tips yang dapat dicoba agar bisa berkolaborasi dengan influencer:

  • Tawarkan santapan gratis yang “dibayar” dengan review di media sosial
  • Berikan kupon diskon untuk setiap konsumen yang berhasil mereka bawa
  • Jadikan mereka sponsor dengan bayaran tertentu untuk membuat konten khusus di feed Instagram
  1. Jangan Takut Memanfaatkan Iklan Berbayar

Pertimbangkanlah untuk menggunakan iklan berbayar demi mengoptimalkan social media marketing. Kalau punya dana lebih, tidak ada salahnya sedikit berinvestasi.

Facebook, Instagram, TikTok, dan platform lain biasanya menawarkan tools untuk promosi berbayar. Bukan hanya meningkatkan pendapatan, kamu juga bisa memperoleh data mengenai target pasar, behavior, minat, hingga kontak Whatsapp mereka.

***

Teruslah belajar dan mencoba.

Kegiatan marketing bukanlah aktivitas yang dijalankan di atas satu teori. Kita harus terus memperbarui strategi seiring algoritma platform tersebut yang tidak berhenti berubah. Apalagi, persaingan bisnis makanan terbilang cukup ketat.

Terlambat beradaptasi, restoran kita bisa mati!

Menyelami 7P Marketing Mix, Pengusaha Wajib Tahu!

Menyelami 7P Marketing Mix, Pengusaha Wajib Tahu!

Sebagai orang yang terjun di dunia marketing, kita tentu tahu, meremehkan kekuatan dari planning adalah bentuk kebodohan yang nyata.

Begitu pula ketika hendak memasarkan suatu produk atau jasa.

Umumnya, kita harus menyepakati goal yang akan dicapai, mengidentifikasi pasar, lalu membuat sejumlah strategi.

Blueprint yang dipakai setiap bisnis bisa saja berbeda. Tergantung industrinya masing-masing.

Tapi, ada satu konsep planning marketing yang nggak ada matinya sampai sekarang.

Ialah… Marketing Mix.

Marketing Mix, Apa sih Itu?

Konsep Marketing Mix awalnya dikembangkan oleh Profesor Neil H. Borden yang menguraikan skema eksekutif bisnis milik James Culliton.

Selanjutnya Jerome McCarthy memasukkan empat komponen spesifik dalam konsep tersebut: Product, Place, Price, and Promotion. Kita mengenalnya dengan istilah 4P, tercantum dalam buku Jerome berjudul Basic Marketing: A Managerial Approach yang terbit pada 1960.

Pada 1981, dua akademisi modern Booms dan Bitner menuangkan tiga faktor tambahan, yaitu: Physical Evidence, People, dan Process.

Lengkap sudah konsep yang disebut 7P Marketing Mix.

7p marketing mix

 

  1. Product (Produk)

Poin product mereferensikan segala sesuatu yang kamu jual, baik produk, jasa, maupun pengalaman. Penting untuk menghadirkan produk berkualitas secara fungsi dan tampilan demi menjawab kebutuhan pelanggan.

  1. Place (Tempat)

Di mana kamu akan menjual produk atau jasa tersebut?

Place tidak hanya berbicara mengenai lokasi fisik. Tetapi juga bisa berarti website, media sosial, brosur, katalog, dan sebagainya. Dibandingkan ‘tempat’, lebih tepat menyebut place dengan ‘kanal distribusi’.

  1. Price (Harga)

Harga yang kamu tentukan harus merefleksikan keuntungan bisnis dan value yang diperoleh pelanggan.

Tidak selamanya harga yang murah dengan diskon yang beragam pasti laku di pasaran. Semua tergantung siapa target pasar serta seperti apa brand bisnis kamu.

  1. Promotion (Promosi)

Promosi. Di sinilah kita, orang-orang marketing, memfokuskan dirinya. Baik itu melalui direct marketing, public relation, iklan, atau membuat konten di media sosial.

Dengan promosi, kita berusaha menyampaikan pesan kepada konsumen. Mengapa mereka harus memilih kita dibandingkan kompetitor? Bagaimana produk dan jasa kita menjawab permasalahan mereka?

Aktivitas itulah yang kemudian akan menghasilkan penjualan, meningkatkan brand awareness, serta menaikkan pendapatan bisnis.

  1. Physical Evidence (Bukti Fisik)

Istilah physical evidence bukan sekadar merujuk pada bukti penjualan semata. Namun, seluruh aspek yang menunjukkan eksistensi bisnis kita.

Misalnya, website, media sosial, logo, jingle, dekorasi ruangan, bentuk packaging pada produk, kurir internal, dan masih banyak lagi.

Konsumen membutuhkan ini untuk menumbuhkan kepercayaan pada bisnis kamu. Dengan demikian, mereka bisa berbelanja secara aman dan nyaman.

  1. People (SDM)

People, dalam Marketing Mix, berarti adalah semua orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung pada bisnis kita.

Termasuk para sales, tim marketing, divisi manajemen, HRD, desainer grafis, copywriter, customer service, dan sebagainya.

Pastikan untuk melatih mereka dengan baik sehingga mereka bekerja secara profesional dan tampak ramah di depan konsumen.

Orang-orang tersebut, meskipun berada di balik layar, akan merepresentasikan bisnis kita. Karenanya, segala tindakan mereka sangat berpengaruh pada brand reputation dan kepuasan pelanggan.

  1. Process (Proses)

Kamu sudah punya produk dan target pasar, lalu bagaimana cara mengantarkannya kepada pembeli?

Di sinilah yang dimaksud dengan poin process.

Unsur ini mencakup dari calon pelanggan mengenal siapa kita dan apa produk yang ditawarkan. Kemudian mereka mencari tahu lebih dalam mengenai brand kita. Selanjutnya menghubungi customer service, bertanya-tanya, sampai pada tahap transaksi.

Tidak cukup demikian, kita juga memastikan produk diterima dengan baik oleh pelanggan.

Tugas kita ialah mengevaluasi setiap tahapan tersebut sehingga meminimalkan komplain dari pelanggan. Rasa puas dari konsumen merupakan prioritas utama sejak before sales, saat terjadinya sales, dan after sales.

***

Gagal merencanakan, bisa bermakna merencanakan kegagalan. Sangat penting bagi tim pemasaran untuk mengatur strategi dahulu sebelum mereka mempromosikan produknya.

Dengan 7P Marketing Mix ini, setidaknya kita memiliki guideline untuk merencanakan taktik yang efektif demi mencapai goal dalam bisnis.

Siapkan bolpoin kamu, dan ceklis satu per satu poin di atas!