Menulis Copywriting Ciamik dengan Formula FAB

Menulis Copywriting Ciamik dengan Formula FAB

Copywriting, dalam dunia pemasaran, dikenal sebagai seni menulis dengan tujuan memotivasi pembaca atau pendengar untuk mengambil tindakan tertentu.

Tindakan ini bisa berupa pembelian produk, mendaftar layanan, menginstal aplikasi, atau bahkan sekadar mengisi formulir.

Di balik setiap iklan, slogan, atau tulisan pemasaran yang sukses, terdapat seni copywriting yang memukau.

Apa itu Formula FAB?

Ada banyak teknik dalam membuat copywriting yang menjual. Salah satunya, FAB.

Formula FAB (Feature-Advantage-Benefit) merupakan pendekatan dalam copywriting yang memecah pesan menjadi tiga elemen utama: fitur, keuntungan, dan manfaat.

Dengan merinci setiap elemen ini, copywriter dapat menyusun pesan yang lebih persuasif dan memahami dengan jelas mengapa pembaca harus tertarik atau membeli produk atau layanan yang ditawarkan.

  1. Fitur (Feature)

Fitur adalah karakteristik khusus, ciri fisik, atau atribut dari suatu produk atau layanan. Ini sering kali berfokus pada spesifikasi teknis atau aspek yang dapat diukur secara objektif.

Contoh:

  • Smartphone terbaru dengan kamera resolusi tinggi, penyimpanan besar, dan baterai tahan lama.
  • Deterjen dengan bahan ramah lingkungan.
  • Pelatihan kebugaran dengan layar sentuh interaktif.
  1. Keuntungan (Advantage)

Keuntungan, dalam konteks ini, adalah cara fitur tersebut memberikan nilai tambah maupun keunggulan dibandingkan dengan produk atau layanan serupa.

Advantage menjawab pertanyaan, “Mengapa fitur ini penting?”

Contoh:

  • Kamera resolusi tinggi memungkinkan Anda mengambil foto yang tajam dan jelas, bahkan dalam kondisi pencahayaan yang rendah.
  • Bahan deterjen ramah lingkungan mengurangi dampak negatif pada alam sekitar.
  • Layar sentuh interaktif pada pelatih kebugaran memberikan pengalaman latihan yang lebih menarik dan efektif.
  1. Manfaat (Benefit)

Dalam formula FAB, yang dimaksud Manfaat adalah dampak positif yang akan dirasakan oleh pengguna atau pelanggan dari fitur dan keuntungan yang ditawarkan.

Manfaat membantu menjawab pertanyaan, “Bagaimana produk atau layanan ini akan meningkatkan hidup saya?”

Contoh:

  • Dengan kamera yang superior, Anda dapat menangkap momen berharga dengan kualitas yang memukau, menciptakan kenangan yang tak terlupakan.
  • Menggunakan deterjen ramah lingkungan membantu Anda berkontribusi pada pelestarian lingkungan sekaligus memberikan kepuasan moral dalam setiap cucian.
  • Pengalaman latihan yang lebih menarik dan efektif dengan layar sentuh interaktif membuat proses dalam menjaga kebugaran tubuh jadi semakin menyenangkan dan motivatif.”

Mengapa Formula FAB Penting?

Formula FAB membantu mengkomunikasikan nilai produk atau layanan secara lebih persuasif dan relevan dengan kebutuhan pembaca.

Dengan merinci fitur, keuntungan, dan manfaat, copywriter dapat menjelaskan dengan jelas bagaimana produk tersebut dapat memenuhi keinginan atau masalah target audiens.

Ada beberapa keunggulan yang dimiliki formula FAB dalam membuat copywriting, di antaranya:

  1. Klarifikasi Pesan

Formula FAB membantu mengklarifikasi pesan dengan memecahnya menjadi elemen-elemen yang terukur. Ini memungkinkan pembaca atau pelanggan untuk dengan jelas memahami nilai produk atau layanan.

  1. Orientasi pada Pengguna

FAB memusatkan perhatian pada manfaat yang dirasakan oleh pengguna atau pelanggan. Dengan demikian, pesan menjadi lebih relevan dan bersifat pengguna, meningkatkan kemungkinan respon positif.

  1. Diferensiasi dari Pesaing

Dengan menyoroti fitur, keuntungan, dan manfaat unik, Formula FAB membantu produk atau layanan untuk membedakan diri dari pesaing di pasar yang sering kali memiliki fitur serupa.

  1. Penekanan pada Nilai

Formula FAB menekankan nilai produk atau layanan dengan menghubungkan fitur teknis dengan keuntungan dan manfaat yang dapat dirasakan. Ini membantu menciptakan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai yang ditawarkan.

  1. Pemahaman Lebih Baik oleh Pembaca

Dengan menyajikan informasi secara terstruktur, pembaca lebih mungkin untuk memahami pesan dengan lebih baik. Fitur memberikan konteks, keuntungan memberikan alasan, dan manfaat memberikan dampak langsung pada kehidupan pembaca.

  1. Mendorong Tindakan

Fokus pada manfaat membantu menciptakan keinginan dan motivasi bagi pembaca atau pelanggan untuk mengambil tindakan lebih lanjut, seperti melakukan pembelian atau mendaftar membership.

  1. Memahami Kebutuhan Audiens

Melalui analisis manfaat, copywriter dapat memahami lebih baik kebutuhan, keinginan, atau masalah yang dihadapi oleh audiens. Ini memungkinkan mereka menyusun pesan yang lebih personal dan relevan.

  1. Pengaruh Emosional

Dengan merinci manfaat, Formula FAB memungkinkan copywriter untuk membangun pengaruh emosional. Pembaca cenderung meresapi pesan dengan lebih baik ketika mereka dapat memvisualisasikan bagaimana suatu produk akan memperbaiki atau memperkaya kehidupan mereka.

  1. Pendekatan Struktural

Formula FAB memberikan struktur yang jelas dalam penyusunan pesan. Ini membantu copywriter menghindari kebingungan atau ketidakjelasan dalam menyampaikan pesan kepada audiens.

  1. Pembuatan Pesan yang Konsisten

Dengan menggunakan Formula FAB, copywriter dapat memastikan konsistensi pesan di seluruh kampanye pemasaran. Ini penting agar audiens memahami dan mengingat pesan dengan lebih baik.

8 Formula Copywriting yang Ampuh Memikat Pelanggan

8 Formula Copywriting yang Ampuh Memikat Pelanggan

Jika Anda ingin memahami seni dan ilmu di balik pesan-pesan yang membuat orang tak bisa menahan diri untuk membeli suatu produk atau jasa…

Maka, selamat datang di dunia copywriting!

Copywriting merupakan seni menulis dengan tujuan persuasif.

Setiap diksi kata digunakan untuk memotivasi pembaca atau pendengar agar mengambil tindakan tertentu, seperti membeli produk, mendaftar, atau mengunjungi situs web.

Terdapat berbagai formula maupun teknik yang dapat digunakan dalam membuat copywriting yang powerful.

Berikut adalah 8 formula yang kerap digunakan oleh para copywriter profesional:

  1. AIDA: Attention, Interest, Desire, Action

Attention (Perhatian):

Tarik perhatian pembaca dengan headline atau kalimat pembuka yang kuat.

Contoh: “Bukan Lagi Mimpi! Temukan Rahasia Kulit Sehat dalam 7 Hari!”

Interest (Minat):

Bangkitkan minat pembaca dengan menjelaskan manfaat produk atau layanan.

Contoh: “Dengan formula eksklusif kami, kulit Anda akan merasakan kelembutan dan kilau yang belum pernah Anda alami sebelumnya.”

Desire (Keinginan):

Kembangkan keinginan pembaca dengan menyoroti nilai unik (unique selling proposition) dan keunggulan produk.

Contoh: “Bayangkan memiliki kulit yang bersinar sepanjang waktu, tanpa masalah kering atau kusam.”

Action (Tindakan):

Ajak pembaca untuk mengambil tindakan tertentu, seperti membeli, mendaftar, atau menghubungi.

Contoh: “Pesan sekarang dan mulailah perjalanan menuju kulit yang sempurna! Diskon 20% hanya untuk pemesanan hari ini.”

  1. Problem-Agitate-Solution (PAS):

Problem (Masalah):

Identifikasi masalah atau kebutuhan pembaca.

Contoh: “Apakah rambut Anda sering rusak dan kusam?”

Agitate (Menggambarkan Lebih Detail):

Gambarkan masalah dengan lebih detail, memicu emosi dan keinginan untuk solusi.

Contoh: “Jangan biarkan rambut yang rusak menghancurkan penampilan Anda. Rambut yang kusam dapat membuat Anda kehilangan kepercayaan diri.”

Solution (Solusi):

Tawarkan produk atau layanan sebagai solusi yang efektif untuk masalah tersebut.

Contoh: “Temukan keajaiban formula perbaikan rambut kami yang telah terbukti mengembalikan kilau dan kelembutan rambut. Introducing Hair Revive!”

  1. Feature-Advantage-Benefit (FAB):

Feature (Fitur):

Identifikasi fitur-fitur produk atau layanan.

Contoh: “Teknologi anti-gores terbaru.”

Advantage (Keuntungan):

Jelaskan bagaimana fitur-fitur tersebut memberikan keuntungan atau nilai tambah.

Contoh: “Memberikan perlindungan ekstra terhadap goresan dan kerusakan.”

Benefit (Manfaat):

Fokus pada manfaat konkret yang akan dirasakan oleh pembaca.

Contoh: “Dengan teknologi anti-gores kami, smartphone Anda akan tetap mulus dan tampak baru setiap saat.”

  1. Before-After-Bridge (BAB):

Before (Sebelum):

Gambarkan situasi atau masalah sebelum menggunakan produk atau layanan.

Contoh: “Sebelum menggunakan produk kecantikan kami, kulit Anda mungkin kering dan tanpa kehidupan.”

After (Setelah):

Deskripsikan bagaimana hidup atau situasi akan menjadi lebih baik setelah menggunakan produk atau layanan.

Contoh: “Setelah mengaplikasikan serum kami, kulit Anda akan terhidrasi sepanjang hari, memberikan kilau sehat yang memukau.”

Bridge (Jembatan):

Hubungkan keduanya dan tunjukkan bagaimana produk atau layanan merupakan solusi untuk perubahan tersebut.

Contoh: “Dengan penggunaan teratur, Anda dapat mencapai kulit yang Anda impikan. Temukan perubahan yang luar biasa dengan produk kami.”

  1. Problem-Promise-Proof-Proposal (PPPP):

Problem (Masalah):

Identifikasi masalah atau kebutuhan.

Contoh: “Mengalami kesulitan tidur?”

Promise (Janji):

Berikan janji bahwa produk atau layanan dapat mengatasi masalah tersebut.

Contoh: “Janji kami, tidur nyenyak setiap malam dengan SleepWell – suplemen tidur terbaik.”

Proof (Bukti):

Sertakan bukti, seperti testimoni atau data, yang mendukung janji tersebut.

Contoh: “92% pengguna mengaku ada peningkatan kualitas tidur setelah meminum SleepWell.”

Proposal (Tawaran):

Ajak pembaca untuk mengambil tindakan dengan menawarkan tindakan spesifik.

Contoh: “Segera pesan SleepWell sekarang dan nikmati tidur yang berkualitas setiap malam.”

  1. The 4 Cs: Clear, Concise, Compelling, and Credible

Clear (Jelas):

Pastikan pesan Anda mudah dipahami.

Contoh: “Produk kami membantu menyegarkan napas Anda dengan cepat dan efektif.”

Concise (Ringkas):

Sederhanakan dan singkatkan pesan agar tidak membingungkan.

Contoh: “Hanya dalam 3 langkah, dapatkan napas segar sepanjang hari.”

Compelling (Mempesona):

Buat pesan menarik dan memikat pembaca.

Contoh: “Tingkatkan rasa percaya diri Anda dengan napas segar yang memikat.”

Credible (Kredibel):

Gunakan bukti atau otoritas untuk membangun kepercayaan.

Contoh: Direkomendasikan oleh dokter gigi terkemuka sebagai solusi terbaik untuk masalah napas tidak sedap.”

  1. The 5 W’s and H: Who, What, When, Where, Why, How

Who (Siapa):

Jelaskan siapa yang akan mendapatkan manfaat dari produk atau layanan.

Contoh: “Bagi mereka yang mencari kenyamanan dan gaya sepanjang hari.”

What (Apa):

Jelaskan apa produk atau layanan tersebut.

Contoh: “Sepatu olahraga terbaru dengan teknologi penyangga kaki yang inovatif.”

When (Kapan):

Tunjukkan kapan produk atau layanan dapat digunakan atau diperlukan.

Contoh: “Ideal untuk kegiatan lari, berjalan, atau berolahraga sepanjang hari.”

Where (Di mana):

Jelaskan di mana pembaca dapat memperoleh produk atau layanan.

Contoh: “Dapatkan sekarang di toko-toko olahraga terkemuka atau online.”

Why (Mengapa):

Gambarkan mengapa pembaca membutuhkan produk atau layanan tersebut.

Contoh: “Karena kenyamanan dan performa terbaik Anda adalah prioritas kami.”

How (Bagaimana):

Berikan informasi tentang cara menggunakan produk atau layanan.

Contoh: “Temukan keunggulan teknologi penyangga kaki kami yang membuat setiap langkah Anda jadi nyaman.”

  1. The Problem-Action-Result (PAR) Framework:

Problem (Masalah):

Identifikasi masalah atau tantangan yang dihadapi.

Contoh: “Masalah kulit berminyak dan berjerawat?”

Action (Tindakan):

Gambarkan tindakan yang diambil untuk mengatasi masalah.

Contoh: “Ambil langkah pertama menuju kulit yang bersih dengan mencoba produk perawatan kulit kami.”

Result (Hasil):

Tunjukkan hasil positif atau manfaat setelah mengambil tindakan tersebut.

Contoh: “Rasakan perubahan luar biasa dalam beberapa minggu. Kulit bebas minyak dan jerawat, memberikan kepercayaan diri baru.”

Penting untuk dicatat bahwa keberhasilan copywriting juga bergantung pada kreativitas, penyesuaian dengan audiens, dan pengujian terus-menerus untuk menemukan apa yang paling efektif.

Sertakan pula unsur keaslian (authentic) dan relevansi untuk memastikan pesan Anda dapat terhubung dengan pembaca secara lebih personal.

Masa Depan AI dan Bisnis? Begini Kata 3 CEO Dunia

Masa Depan AI dan Bisnis? Begini Kata 3 CEO Dunia

Kemajuan teknologi, lonjakan investasi, dan persaingan usaha di seluruh dunia diprediksi mengarah pada satu hal: di tahun 2024, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan mulai mengubah cara kita berbisnis.

Hal ini turut berdampak pada bagaimana perusahaan menjalankan operasional sehari-hari, meningkatkan pendapatan, menjalin hubungan dengan pelanggan, dan masih banyak lagi.

Country Manager Intel Corporation, Harry K Nugraha mengungkapkan, AI memiliki sejumlah sisi positif.

Termasuk mempermudah semua proses pekerjaan yang bersifat rutinitas.

“Jadi dia melengkapi dengan keahliannya, atau dia meningkatkan keahliannya. Ini tidak bisa dihindari kerena bagian dari kemajuan teknologi, memaksa kita untuk melakukan adaptasi,” ujarnya.

Bagaimana bisnis memanfaatkan potensi dari AI di masa depan?

Begini masukan dari 3 CEO dunia dalam Annual Meeting World Economic Forum ke-54 di Davos-Klosters, Swiss.

  1. Jeff Schumacher, CEO NAX Group

AI merupakan garda terdepan dalam rangkaian hadirnya teknologi disruptif, yang menawarkan potensi besar bagi perusahaan untuk menciptakan nilai dan memecahkan tantangan nan kompleks.

Untuk benar-benar mewujudkan potensi AI, dunia bisnis tidak hanya harus mengadopsinya namun juga mengoperasionalkannya.

Proses ini melibatkan hubungan AI dengan tindakan-tindakan yang dapat diamati. Kemudian memanfaatkan data yang dimasukkan kembali ke dalam sistem untuk menyelesaikan feedback loop.

Elemen terpenting dalam proses ini terletak pada otomatisasi langkah-langkah yang diset sedemikian rupa.

Dengan begitu, diharapkan terjadi pengulangan dan pembelanjaran mandiri yang cepat demi mendorong perbaikan dan inovasi berkelanjutan bagi AI.

Namun, dalam mencapai tujuan ini, para pebisnis kerap terhambat dengan teknologi yang sudah ketinggalan zaman.

Upaya transformasi bisa berjalan lebih mudah apabila perusahaan menjalin kemitraan strategis dengan penyedia layanan perangkat lunak atau semacamnya.

Kerja sama ini menandakan lanskap industri terus berkembang sekaligus berfungsi sebagai katalis bagi dunia usaha agar menciptakan solusi inovatif atas berbagai tantangan yang sebelumnya tampak tidak bisa diatasi.

  1. Carmine Di Sibio, CEO EY Global

Ancaman terbesar terhadap penerapan AI dalam bisnis bukanlah kurangnya minat, melainkan kepercayaan diri.

Survei EY baru-baru ini menemukan hampir 70 persen CEO merasa tidak yakin terhadap model Generative AI yang pada akhirnya mempersulit proses implementasinya.

Kekhawatiran para pebisnis tersebut bukan tanpa alasan.

Misalnya chatbot AI, EY mencatat adanya kesalahan output percakapan sekitar 3-27 persen. Perusahaan juga memiliki keraguan mengenai privasi data, misinformasi, dan intellectual property.

Jadi, bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan AI dengan percaya diri?

Langkah pertama ialah menerapkan mekanisme tata kelola yang dioperasikan oleh manusia. Ini juga berarti menggunakan input dari manusia untuk “menyempurnakan” output atau keluaran AI.

Dengan kata lain, untuk memanfaatkan AI secara paripurna, kita harus menempatkan manusia sebagai pusatnya.

Bagaimanapun, teknologi yang selama ini kita andalkan, awalnya merupakan transformasi yang diciptakan untuk mengoptimalkan kinerja manusia dan menumbuhan kepercayaan terhadap teknologi yang mampu mengubah keadaan ini.

  1. Lisa Heneghan, Chief Digital Officer KPMG International

Tidak diragukan lagi, AI adalah “internet moment” di zaman kita.

Dalam survei CEO Outlook KPMG, 70 persen eksekutif senior mengaku bahwa Generative AI menjadi prioritas investasi yang buahnya diperkirakan bisa dipanen dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Meskipun ada ketidakpastian ekonomi, para CEO tetap bertekad agar AI bermanfaat bagi mereka.

Bagi para pemimpin perusahaan, bahaya yang ada saat ini adalah “ketakutan akan ketinggalan” (fear of missing out) yang mendorong kesalahan pengambilan keputusan sehingga merusak keuntungan jangka panjang atau bahkan melahirkan tantangan cyber security yang baru.

Perlu adanya tindakan penyeimbang sehingga tidak terjebak di antara dua posisi: late-adopters yang mungkin kehilangan peluang emas atau early-adopters yang berisiko melakukan tindakan impulsif berujung bumerang.

Hanya saja, perusahaan tetap harus mulai berinvestasi hari ini.

Memahami persoalan yang kelak muncul ke permukaan bukan hanya soal penghematan, tetapi juga mengasah kemampuan dan pengalaman. Keduanya akan membantu kita mengidentikasi setiap peluang.

Fokuslah dalam menerapkan pondasi sekaligus membangun platform teknologi yang tepat dan cukup gesit untuk beradaptasi dengan AI yang terus berkembang pesat.

Lebih baik menguji dan belajar sekarang daripada melihat dan melewatkan kesempatan untuk memimpin perubahan. Seperti kata pepatah, “Time to market is more important than perfection.”

Apa Itu Facebook Ads dan 20+ Istilah yang Wajib Anda Ketahui

Apa Itu Facebook Ads dan 20+ Istilah yang Wajib Anda Ketahui

Jumlah pengguna Facebook terus menurun dan didominasi orang tua. Kata siapa?

Per Juli 2023, We Are Social mencatat, jumlah pengguna Facebook global mencapai 2,23 miliar. Angka tersebut naik 2,9 persen secara tahunan (year-on-year).

Di Indonesia sendiri, jumlahnya ada sekitar 135,4 juta pengguna. Ini mengantarkan Tanah Air sebagai pengguna Facebook terbesar ketiga di dunia, loh!

Tidak mengherankan, Facebook dan Instagram yang berada di bawah ekosistem Meta masih menjadi platform beriklan yang banyak diminati para digital marketing specialist.

Buat Anda yang mungkin baru belajar atau sekadar ingin tahu, berikut ini beberapa istilah yang biasa muncul di dalam Facebook Ads.

Apa Itu Facebook Ads?

Secara sederhana, Facebook Ads merupakan platform periklanan yang disediakan oleh Facebook (Meta).

Di dalamnya, para pengiklan (advertiser) dapat membuat dan menayangkan iklan kepada audiens atau target pasar mereka di berbagai produk maupun layanan Facebook, seperti news feed, story, dan tentu saja Instagram.

Iklan ini bisa berupa gambar, video, ataupun teks, serta dapat disesuaikan dengan berbagai tujuan pemasaran.

Istilah-Istilah dalam Facebook Ads

  1. Campaign (Kampanye):

Serangkaian iklan, pengaturan, dan bujet anggaran yang bekerja bersama demi mencapai tujuan (objective) pemasaran tertentu.

  1. Ad Set (Set Iklan):

Bagian dari kampanye yang terdiri dari satu atau beberapa iklan yang memiliki penargetan, jadwal waktu, anggaran harian, dan penyesuaian penawaran yang sama.

  1. Ad (Iklan):

Konten yang ditampilkan kepada pengguna Facebook dalam berbagai format, seperti gambar, video, atau teks, untuk mempromosikan suatu produk atau layanan.

  1. Bid (Penawaran):

Jumlah maksimal yang bersedia Anda bayarkan untuk mendapatkan tayangan atau interaksi dari iklan Anda. Bentuknya dapat berupa CPM (Cost Per Mille), CPC (Cost Per Click), atau CPA (Cost Per Action).

  1. Impressions (Tayangan):

Jumlah berapa kali iklan Anda ditampilkan di layar pengguna Facebook, tidak peduli iklan itu diklik atau tidak.

  1. Click-Through Rate (CTR):

Rasio antara jumlah klik iklan dengan jumlah tayangan iklan, dihitung dalam persentase.

  1. Conversion (Konversi):

Tindakan yang diinginkan oleh pengiklan, seperti pembelian produk, pengisian formulir, atau pendaftaran aplikasi.

  1. Pixel (Pixel):

Kode pelacakan yang dapat ditambahkan ke situs web untuk mengukur dan melacak perilaku pengguna setelah mereka melihat atau mengklik iklan Anda.

  1. Custom Audience (Audience Kustom):

Segmen audiens yang dibuat dari data pelanggan yang ada, seperti daftar email atau pengunjung situs web.

  1. Lookalike Audience (Audience Mirip):

Segmen audiens baru yang dibuat oleh Facebook berdasarkan kesamaan dengan Custom Audience yang sudah ada.

  1. Frequency (Frekuensi):

Jumlah rata-rata kali iklan ditampilkan kepada satu pengguna tertentu dalam suatu periode waktu. Ini mengukur seberapa sering audiens melihat iklan Anda.

  1. Call to Action (CTA):

Pernyataan yang mendorong pengguna untuk melakukan tindakan tertentu, seperti “Beli Sekarang,” “Daftar,” atau “Pelajari Lebih Lanjut.”

  1. Split Testing (Uji Pembagian):

Strategi untuk menguji berbagai elemen iklan (judul, gambar, teks, dll.) untuk melihat mana yang paling efektif dalam mencapai tujuan iklan Anda.

  1. Ad Placement (Penempatan Iklan):

Lokasi di dalam platform Facebook, di mana iklan Anda ditampilkan, seperti di news feed, story, messenger, reels, dan sebagainya.

  1. Return on Ad Spend (ROAS):

Metrik yang mengukur seberapa efektif pengeluaran iklan Anda dalam menghasilkan pendapatan. Dihitung sebagai rasio pendapatan terhadap biaya iklan.

  1. Lead Generation (Pengumpulan Pelanggan Potensial):

Tujuan kampanye untuk mengumpulkan informasi kontak potential buyer, seperti nama, email, atau nomor telepon.

  1. Ad Manager (Pengelola Iklan):

Panel atau dashboard dari Facebook yang digunakan untuk membuat, mengelola, dan melacak kinerja kampanye iklan.

  1. Ad Creative (Kreatif Iklan):

Keseluruhan elemen kreatif dalam iklan, termasuk gambar, teks, dan desain yang digunakan untuk menarik perhatian audiens.

  1. Reach (Jangkauan):

Jumlah pengguna unik yang melihat iklan Anda. Metrik ini membantu mengukur seberapa banyak orang yang benar-benar melihat iklan.

  1. Cost Per Conversion (CPC):

Biaya rata-rata yang dibayar untuk setiap tindakan konversi yang diinginkan.

  1. A/B Testing (Uji A/B):

Strategi dengan membuat dua versi iklan (ads) atau set iklan (ad set) berbeda diuji untuk melihat mana yang memberikan hasil terbaik.

  1. Landing Page (Halaman Pendaratan):

Halaman web tempat pengguna diarahkan setelah mengklik iklan, dirancang khusus untuk mengoptimalkan konversi.

Semoga sedikit penjelasan ini membantu. Selalu ingat, keberhasilan sebuah campaign Facebook Ads bergantung pada perencanaan, eksekusi yang baik dan pemahaman yang mendalam tentang siapa target pasar Anda. Walaupun mungkin, dalam pelaksanaannya, ada beberapa istilah yang belum Anda mengerti.

Branding, Marketing, dan Selling: Serupa Tapi Tak Sama

Branding, Marketing, dan Selling: Serupa Tapi Tak Sama

Pernahkah Anda memperhatikan kalau istilah branding dan marketing seringkali digunakan secara bergantian?

Ketika berbincang tentang keduanya, sebagian dari kita—biasanya—akan berbicara seputar memperoleh penjualan dan uang lebih banyak.

Loh, bukannya itu berarti kita harusnya ngomong mengenai selling (sales)?

Bingung? Ya, kami tidak menyalahkan Anda.

Begini masalahnya…

Dalam dunia bisnis, aktivitas branding, marketing, dan selling merupakan trio yang saling mempengaruhi. Namun, masing-masing memiliki perbedaan yang perlu kita pahami.

Izinkan kami membantu menguraikan perbedaan di antara ketiganya sehingga Anda dapat memilih untuk mengembangkan bisnis di aktivitas yang mana terlebih dahulu.

Apa Perbedaan Branding, Marketing, dan Selling?

  1. Branding

Definisi

Branding mencakup rangkaian kegiatan yang dirancang untuk membangun dan memelihara citra merek (brand image) suatu produk atau perusahaan.

Hal ini kerap melibatkan elemen-elemen seperti logo, warna, gaya penulisan, dan nilai-nilai yang diusung oleh merek.

Contoh

Salah satu role-model dari keberhasilan sebuah branding adalah Apple.

Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga mengkomunikasikan gaya hidup inovatif dan eksklusif melalui desain minimalis, kualitas produk, serta pengalaman pengguna yang unik.

Adapun contoh di platform digital dan media sosial, perusahaan teknologi seperti Google membangun brand identity dengan konsistensi dalam penggunaan logo, warna, maupun gaya grafis dalam setiap konten yang mereka bagikan.

  1. Marketing

Definisi

Marketing adalah serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk mempromosikan, mendistribusikan, dan menjual produk atau layanan. Di dalamnya termasuk penelitian pasar, periklanan, public relations, dan strategi pemasaran untuk mencapai target pasar.

Contoh

Kampanye iklan Coca-Cola merupakan contoh yang baik dari strategi pemasaran yang sukses.

Mereka tidak hanya fokus pada rasa minuman, tetapi juga membangun emosi positif dan ikatan sosial melalui sejumlah iklan yang kreatif.

Beriklan di Facebook dan Instagram juga dikategorikan sebagai aktivitas marketing. Baik dalam bentuk gambar produk yang menarik, deskripsi yang wow, dan tautan (link) yang mengundang calon customer untuk mengekliknya.

  1. Selling

Definisi

Secara sederhana, selling atau sales berarti kegiatan penjualan secara langsung produk atau layanan kepada pelanggan.

Aktivitas yang dilakukan meliputi proses negosiasi, closing penjualan, hingga membangun hubungan pelanggan (customer relationship) untuk meningkatkan penjualan dan kepuasan konsumen.

Contoh

Penjualan mobil di sebuah dealer adalah bentuk nyata dari kegiatan penjualan. Salesperson berinteraksi langsung dengan pelanggan, menjelaskan fitur produk, dan menciptakan argumen penjualan untuk mempengaruhi keputusan pembelian.

Keterkaitan Antara Branding, Marketing, dan Selling

Meskipun memiliki peran yang berbeda, keterkaitan antara branding, marketing, dan selling sangat penting untuk mencapai kesuksesan bisnis secara menyeluruh.

  1. Branding sebagai Dasar

Branding menciptakan pondasi bagi seluruh strategi pemasaran dan penjualan.

Identitas merek (brand identity) yang kuat akan memberikan panduan dalam menentukan pesan yang akan disampaikan dalam kegiatan marketing dan bagaimana berinteraksi dengan pelanggan.

Dengan sendirinya, hal itu dapat menciptakan konsistensi dan kepercayaan di tengah konsumen.

  1. Marketing untuk Membangun Kesadaran

Aktivitas pemasaran bertujuan untuk membangun kesadaran (awareness) dan minat (interest) konsumen terhadap produk atau layanan yang kita tawarkan.

Tanpa strategi pemasaran yang baik, konsumen mungkin tidak menyadari atau tertarik pada apa yang ditawarkan oleh perusahaan.

  1. Selling sebagai Implementasi

Proses penjualan mengonversi minat menjadi tindakan nyata (action). Seorang salesperson harus mampu mengkomunikasikan nilai produk, mengatasi keberatan, dan membangun hubungan dengan pelanggan demi mencapai target penjualan.

  1. Feedback Loop yang Kontinu

Keterkaitan ini menciptakan suatu siklus umpan balik yang berkelanjutan. Pengalaman pelanggan yang dirasakan selama proses penjualan dapat memberikan masukan berharga untuk meningkatkan strategi pemasaran dan bahkan memperbarui elemen branding jika diperlukan.

  1. Tujuan Bersama untuk Kesuksesan

Meskipun memiliki fokus yang berbeda, branding, marketing, dan selling bekerja menuju tujuan bersama, yaitu meningkatkan keuntungan dan pertumbuhan bisnis. Keberhasilan satu aspek seringkali bergantung pada keberhasilan aspek lainnya.

Branding, marketing, dan selling telah menjadi tiga komponen kunci dalam ekosistem bisnis yang saling melengkapi.

Dengan memahami peran masing-masing dan bagaimana mereka berinteraksi, perusahaan dapat merancang strategi yang lebih efektif untuk membangun brand image yang kuat, meningkatkan kesadaran pasar, dan meraih keberhasilan penjualan.

Diversifikasi Produk: Definisi, Jenis, dan Contohnya

Diversifikasi Produk: Definisi, Jenis, dan Contohnya

Dalam lingkup bisnis yang dinamis dan terus berubah, diversifikasi menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan perusahaan dan mengeksplorasi peluang baru.

Tidak terkecuali diversifikasi produk.

Langkah ini kerap ditempuh sebagai sebuah taktik yang melibatkan ekspansi produk atau layanan perusahaan dengan tujuan meningkatkan daya saing melalui varian dan strategi yang terukur.

Mari kita eksplorasi lebih dalam mengenai definisi diversifikasi produk, jenis-jenisnya, dan beberapa contoh di dunia nyata agar dapat mengimplementasikannya secara efektif.

Definisi Diversifikasi Produk

Secara sederhana, diversifikasi produk merupakan strategi yang melibatkan pengembangan atau akuisisi produk baru untuk melengkapi maupun memperluas jangkauan produk dan layanan yang sudah ada.

Tujuan utamanya adalah mengurangi risiko yang mungkin terkait dengan ketergantungan pada satu pasar atau produk saja.

Dengan merambah ke segmen pasar baru atau memperkenalkan produk anyar, perusahaan dapat mengeksplorasi potensi pertumbuhan yang lebih luas.

Jenis-Jenis Diversifikasi Produk

  1. Pengembangan Produk Baru

Strategi ini mencakup pengembangan produk atau layanan yang inovatif serta perluasan varian produk yang sudah ada. Dengan kata lain, perusahaan memiliki kesempatan utnuk memenuhi kebutuhan pelanggan baru atau yang sudah ada dengan cara yang lebih baik.

  1. Akuisisi

Metode diversifikasi ini melibatkan pembelian atau penggabungan dengan perusahaan lain agar memperoleh produk dan layanan yang sudah mapan.

Perusahaan pun akhirnya bisa memberikan akses instan ke pasar baru atau menyediakan produk yang dapat melengkapi portofolio eksisting.

  1. Ekspansi Geografis

Diversifikasi tidak hanya terbatas pada produk, tetapi juga dapat melibatkan ekspansi ke wilayah geografis baru.

Langkah ini membuka peluang untuk menjangkau pelanggan yang berbeda dan mengurangi risiko terkait dengan ketergantungan pada satu pasar.

  1. Kerja Sama Strategis

Jenis diversifikasi ini biasanya ditandai adanya kolaborasi dengan mitra strategis maupun pihak ketiga untuk menggabungkan keahlian dan sumber daya.

Bentuknya dapat berupa kemitraan untuk pengembangan produk bersama atau distribusi yang lebih luas.

  1. Pengembangan Franchise

Umumnya, strategi ini berbentuk pemberian lisensi kepada pihak ketiga untuk menjalankan bisnis dengan menggunakan merek dan model bisnis perusahaan.

Hal tersebut memungkinkan perluasan yang cepat tanpa harus menangani operasional secara langsung.

Contoh Nyata Diversifikasi Produk

Berikut adalah sebagian langkah diversifikasi produk yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan terkenal:

  1. Apple Inc.

Apple awalnya terkenal dengan produk, seperti komputer Macintosh dan iPod. Namun, perusahaan ini melakukan diversifikasi produk yang signifikan dengan memperkenalkan iPhone, iPad, Apple Watch, dan layanan semisal Apple Music dan Apple TV.

Diversifikasi ini membantu Apple mencapai keberhasilan yang besar di berbagai segmen pasar.

  1. The Walt Disney Company

Disney, yang terkenal dengan produksi film dan taman hiburan, melakukan diversifikasi produk dengan mengakuisisi Pixar Animation Studios, Marvel Entertainment, dan Lucasfilm.

Hal ini memperluas portofolio Disney ke film animasi, film superhero, dan franchise Star Wars.

  1. Unilever

Unilever, perusahaan konsumen global, melakukan diversifikasi produk dengan mengembangkan portofolio yang mencakup berbagai kategori seperti makanan, minuman, perawatan pribadi, dan kebersihan.

Contohnya, Unilever memiliki merek-merek seperti Dove, Ben & Jerry’s, Lipton, dan Domestos.

  1. Amazon

Dikenal sebagai toko daring untuk buku, Amazon berkembang menjadi platform e-commerce terbesar di dunia. Amazon Web Services (AWS) juga merupakan contoh diversifikasi, menjadi penyedia layanan cloud-computing terkemuka.

  1. Google (Alphabet Inc.)

Google, yang terkenal sebagai mesin pencari, melakukan diversifikasi produk dengan membentuk perusahaan induk bernama Alphabet Inc. Sedangkan Google menjadi salah satu anak perusahaannya.

Alphabet memiliki portofolio yang mencakup Google Search, YouTube, Google Cloud, Waymo (otomotif otonom), dan banyak lagi.

  1. Samsung

Selain dikenal sebagai produsen elektronik konsumen, Samsung melakukan diversifikasi dengan memasuki berbagai pasar.

Mereka memproduksi perangkat elektronik seperti smartphone dan TV, hingga terlibat dalam pembuatan semikonduktor, peralatan rumah tangga, dan bahkan pembangkit listrik.

  1. Microsoft

Microsoft, yang mula-mula terkenal dengan perangkat lunak seperti sistem operasi Windows dan paket aplikasi Office, melakukan diversifikasi ke sektor perangkat keras melalui kehadiran konsol game Xbox dan tablet Surface.

Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana perusahaan berhasil melakukan diversifikasi produk untuk mengatasi risiko, mengeksplorasi peluang baru, dan memperluas pangsa pasar mereka.

Diversifikasi yang cerdas dapat membantu perusahaan tetap relevan dan beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan bisnis.

Bongkar Strategi Guerilla Marketing dan Keuntungan di Baliknya

Bongkar Strategi Guerilla Marketing dan Keuntungan di Baliknya

Guerilla Marketing (pemasaran gerilya) telah menjadi sorotan dalam dunia bisnis yang mampu mengubah cara sebuah brand berinteraksi dengan konsumen.

Bukan lagi sebatas iklan konvensional, Guerilla Marketing turut merambah wilayah tak terduga sekaligus kreatif dalam menarik perhatian audiens.

Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu Guerilla Marketing, keuntungannya, dan beberapa contoh yang memukau dalam dunia nyata. Enjoy!

Apa Itu Guerilla Marketing?

Secara sederhana, Guerilla Marketing adalah pendekatan metode pemasaran yang inovatif, tidak konvensional, dan seringkali memanfaatkan sumber daya terbatas.

Strategi ini bertujuan menciptakan kesan yang mendalam terhadap target pasar tanpa bergantung pada metode pemasaran tradisional.

Lupakan sejenak tentang memasang iklan di televisi nasional, koran, majalah, baliho, atau papan-papan reklame berukuran besar.

Teknik Guerilla Marketing kerap mengandalkan kreativitas, kejutan, dan kecerdasan untuk memancing awareness dalam skala yang lebih kecil, namun lebih signifikan.

Dalam sejarahnya, tidak ada penemu atau pencipta tunggal dari hadirnya teori Guerilla Marketing. Konsep ini muncul sebagai respons terhadap perubahan dalam dunia pemasaran yang semakin dinamis dan penuh dengan pesaing.

Namun, ada beberapa tokoh dan kontributor yang terkenal karena membawa gagasan ini kepada publik.

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan pengembangan konsep pemasaran Guerilla adalah Jay Conrad Levinson.

Levinson merilis buku berjudul “Guerilla Marketing” pada tahun 1984, yang membahas strategi pemasaran alternatif yang lebih kreatif dan hemat biaya. Buku ini menjadi sangat populer dan menjadi dasar untuk memahami Guerilla Marketing.

Keuntungan Guerilla Marketing

  1. Kreativitas yang Tak Terbatas

Taktik pemasaran dengan metode Guerilla memberikan kebebasan tanpa dibatasi besaran anggaran.

Pada akhirnya, inovasilah yang menjadi kunci. Melalui ide-ide yang brilian, sebuah brand dapat membangun kampanye yang unik dan tak terlupakan.

  1. Biaya Lebih Efektif

Dibandingkan dengan kampanye iklan tradisional, Guerilla Marketing dapat dilaksanakan dengan biaya yang lebih rendah. Taktik sederhana seperti street art atau flash mob bisa menciptakan dampak besar tanpa menguras sumber daya.

  1. Keterlibatan Konsumen

Guerilla Marketing kerap menciptakan engagement yang tinggi bersama konsumen. Dengan menciptakan pengalaman yang berbeda, perusahaan dapat membangun hubungan yang lebih erat antara produk dan audiensnya.

  1. Viralitas

Konten-konten Guerilla Marketing cenderung lebih mudah menyebar secara viral melalui media sosial. Ketika konsumen merasa terkesan, mereka cenderung ingin berbagi pengalaman secara organik, yang secara tidak langsung akan memperluas jangkauan kampanye.

Contoh Pemasaran Guerilla dalam Dunia Nyata

  1. Flash Mob oleh T-Mobile

T-Mobile, perusahaan telekomunikasi asal Jerman, pernah menggelar campaign flash mob bertajuk “Life’s for sharing” pada 2010 silam.

Setelah sukses mengadakan flash mob di Liverpool Street Station, mereka melanjutkannya secara konsisten selama 1,5 tahun di beberapa lokasi lain.

Aksi ini melibatkan ratusan penari yang menampilkan dance spontan di tengah keramaian. Hasilnya, T-Mobile memperoleh viralitas yang tinggi di YouTube dan liputan televisi. Flash mob pertama di Liverpool Street Station pun ikut meningkatkan penjualan hingga 52 persen.

  1. Street Art oleh Nike

Pada 2019 lalu, Nike menggandeng AKQA (agensi periklanan asal Inggris) untuk mengembangkan Air Max Graffiti Stores.

Keduanya berkolaborasi dengan sejumlah seniman graffiti di Sao Paulo demi mengubah dinding-dinding di area perkotaan menjadi kanvas iklan yang kreatif. Langkah ini dilakukan dalam rangka memperkenalkan sepatu baru Air Max milik Nike.

Contagious, konsultan kreatif yang berlokasi di London, menganugerahi AKQA’s Graffiti Stores for Nike tersebut sebagai World’s Best Strategy. Campaign ini juga sukses menerima penghargaan dari Grand Clio dan Cannes Lions International Festival of Creativity.

  1. Real Beauty Sketches oleh Dove

Sejak lama, Dove sering menjalankan campaign yang memberikan ruang bagi para perempuan untuk bercerita mengenai kecantikan menurut perspektif masing-masing.

Termasuk pada 2013 ketika Dove meluncurkan kampanye “Real Beauty Sketches”.

Aksi tersebut melibatkan konsumennya, terutama para wanita, dengan mengadakan kontes sketsa di jalan-jalan kota. Mereka bebas menggambarkan diri sendiri dan merayakan keunikan individu.

Dove terbilang berhasil dalam mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam membahas isu mengenai kecantikan di berbagai versi dan citra tubuh yang positif.

Evolusi Marketing 1.0 Hingga 5.0: Menjelajahi Perubahan Paradigma Pemasaran

Evolusi Marketing 1.0 Hingga 5.0: Menjelajahi Perubahan Paradigma Pemasaran

Pemasaran, sebagai disiplin bisnis yang terus berkembang, telah mengalami evolusi signifikan sepanjang waktu.

Dari pemasaran yang berfokus pada produk hingga pendekatan yang mencakup teknologi tinggi dan nilai-nilai kemanusiaan. Perubahan tersebut mencerminkan transformasi mengenai cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan.

Apa saja evolusi marketing yang sudah dan sedang terjadi? Mari kita jelajahi!

Marketing 1.0: Puncak Era Produk

Pada awal Revolusi Industri hingga pertengahan abad ke-20, Marketing 1.0 menempatkan perhatian pada produk.

Produsen berusaha menciptakan produk berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Strategi pemasaran lebih berorientasi pada berbagai fitur produk serta mengutamakan target penjualan.

Ford Model T bisa dibilang menjadi simbol pada era ini. Dengan memperkenalkan mobil yang terjangkau bagi masyarakat umum, Henry Ford mengubah industri otomotif yang berfokus pada efisiensi dan standardisasi produk.

Marketing 2.0: Pergeseran ke Pelanggan

Dengan masuknya tahun 1950-an, pergeseran besar terjadi menuju Marketing 2.0.

Perusahaan mulai memahami pentingnya memahami keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Pemasaran menjadi lebih berorientasi pada pengembangan merek (branding) dan membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Konsep nilai pelanggan menjadi kunci dalam memandu strategi pemasaran.

Contoh strategi marketing yang menerapkan pendekatan ini yaitu ketika Coca-Cola meluncurkan kampanye “Share a Coke”. Mereka mencetak nama-nama pelanggan pada kemasan produk. Strategi ini bertujuan membangun koneksi emosional dengan pelanggan dan meningkatkan keterlibatan (engagement) mereka.

Marketing 3.0: Nilai untuk Masyarakat

Masuk ke awal abad ke-21, Marketing 3.0 memperkenalkan konsep nilai bagi masyarakat.

Perusahaan tidak hanya berusaha memberikan nilai kepada pelanggan, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan lingkungan. Faktor etis dan keberlanjutan menjadi bagian integral dari strategi pemasaran.

TOMS Shoes pernah berada di tahap ini melalui kampanye “One for One”. Setiap pasang sepatu yang dibeli akan mendonasikan satu pasang lagi kepada anak-anak yang membutuhkan. Ini adalah contoh pemasaran dengan nilai-nilai sosial yang kuat.

Marketing 4.0: Revolusi Digital

Dengan pertumbuhan teknologi digital pada pertengahan 2010-an, Marketing 4.0 muncul sebagai respons terhadap perubahan paradigma.

Digital Marketing menjadi fokus utama, dengan perusahaan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), big data, dan Internet of Things (IoT) untuk memahami perilaku pelanggan. Interaksi secara real-time dan personalisasi pengalaman sesuai preferensi pelanggan menjadi kunci keberhasilan.

Banyak perusahaan ternama yang telah melalui tahap ini. Misalnya, Spotify yang menggunakan algoritma untuk menganalisis preferensi musik pengguna dan membuat playlist yang disesuaikan. Metode ini akan menciptakan pengalaman mendengarkan musik yang sangat personal dan meningkatkan retensi pelanggan.

Marketing 5.0: Manusia dan Teknologi Berpadu

Saat ini, kita berada dalam era Marketing 5.0, yang masih dalam pengembangan.

Pemasaran tidak lagi hanya tentang teknologi, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan. Konsep ini mencoba menggabungkan kecerdasan buatan dan teknologi tinggi dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

Dengan kata lain, para pakar marketing menggunakan teknologi untuk meningkatkan interaksi manusiawi dan memberikan pengalaman yang mendalam.

Era Marketing 5.0 menyoroti pentingnya keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai manusiawi. Meskipun kecerdasan buatan memberikan wawasan yang mendalam tentang perilaku pelanggan, penggunaannya harus bijak untuk menjaga aspek manusiawi dalam interaksi bisnis.

Pemasaran tidak hanya tentang menghasilkan keuntungan tetapi juga tentang membangun hubungan yang bermakna bersama pelanggan.

Gojek, sebagai platform layanan berbasis teknologi, pernah sukses menggabungkan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Kampanye “Pulang dengan Selamat” menyoroti komitmen Gojek demi meningkatkan keselamatan pengendara dan penumpang, yang tentunya menciptakan dampak positif di tengah masyarakat.

Namun, sekali lagi penting untuk dicatat, konsep Marketing 5.0 ini masih berkembang. Perusahaan mungkin berada pada tahap yang berbeda dalam mengadopsi pendekatan ini.

Seiring perubahan pasar dan teknologi, evolusi marketing akan terus berlanjut. Keberhasilan sebuah perusahaan tergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Kesimpulan

Evolusi marketing dari 1.0 hingga 5.0 mencerminkan perubahan signifikan dalam cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan.

Dari orientasi pada produk hingga integrasi nilai-nilai kemanusiaan, pemasaran terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Pemahaman dan penerapan konsep-konsep ini penting bagi perusahaan yang ingin tetap relevan dan berhasil di era bisnis yang terus berubah ini. Dengan memahami perjalanan evolusi marketing, perusahaan dapat lebih baik menavigasi dinamika pasar dan membangun strategi pemasaran yang efektif di masa depan.

TikTok-Tokopedia Bersatu, E-Commerce Indonesia Makin Seru

TikTok-Tokopedia Bersatu, E-Commerce Indonesia Makin Seru

Awal Polemik

“Tolong, Pak. TikTok ditutup, Pak.”

Tulisan yang tercetak di lembaran kardus itu sempat memenuhi Pasar Tanah Abang pada September 2023 silam. Sejumlah pedagang mengaku penjualan mereka terus merosot, karena harga jual di platform tersebut berada jauh di bawah pasaran.

“Minta tolong ke pak Menteri online shop TikTok berpengaruh banget buat pedagang di sini,” ujar salah seorang pedagang, Anton.

Dia mencontohkan, dirinya biasa menjual gamis seharga Rp100 ribu. Sedangkan di TikTok, ada yang menjual hanya dengan Rp39 ribu. Padahal, bahan yang digunakan pun sama.

“Kalau kami bikin sendiri juga tidak masuk harganya, kenapa di online bisa Rp39 ribu. Itu tak masuk akal,” kata Anton bingung.

Senada dengan itu, pedagang lain bernama Anggi mengeluhkan persoalan yang sama. Ia bahkan sudah berupaya menurunkan harga dagangannya. Namun, tetap saja tidak bisa lebih murah dari TikTok Shop.

“Tidak mengerti juga bisa banting harga serendah itu. Kami sudah banting harga juga tak laris-laris,” jelasnya.

TikTok Shop Ditutup

Tidak butuh waktu lama bagi Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop-UKM) Teten Masduki untuk merespons tuntutan para pedagang di Tanah Abang.

TikTok Shop akhirnya ditutup permanen pada 4 Oktober 2023.

Teten beralasan, TikTok Shop tidak memiliki izin berdagang bagi e-commerce. Platform tersebut hanya mempunyai izin Kantor Perwakilan Perusahaan Asing (KP3A).

Dalam hal ini, Menkop-UKM mempertegas isi Permendag Nomor 31 Tahun 2023 sebagai berikut:

  1. Pendefinisian model bisnis Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPMSE) seperti lokapasar atau marketplace dan social commerce, untuk mempermudah pembinaan dan pengawasan.
  2. Penetapan harga minimum sebesar USD100 dollar per unit untuk barang asal luar negeri yang langsung dijual oleh pedagang (merchant) ke Indonesia melalui platform e-commerce lintas negara.
  3. Disediakan Positive List, yaitu daftar barang asal luar negeri yang diperbolehkan Cross-Border “langsung” masuk ke Indonesia melalui platform perdagangan elektronik.
  4. Menetapkan syarat khusus bagi pedagang luar negeri pada lokapasar dalam negeri, yaitu menyampaikan bukti legalitas usaha dari negara asal, pemenuhan standar (SNI wajib) dan halal, pencantuman label berbahasa Indonesia pada produk asal luar negeri, dan asal pengiriman barang.
  5. Terdapat larangan bagi lokapasar dan social commerce untuk bertindak sebagai produsen.
  6. Larangan penguasaan data oleh PPMSE dan afiliasi.

Secara garis besar, maka sebetulnya aplikasi media sosial tidak boleh melakukan transaksi layaknya e-commerce. Para user hanya boleh memanfaatkan TikTok untuk mempromosikan barang jualannya, tetapi tidak boleh ada transaksi yang terjadi di dalam aplikasi tersebut.

Akusisi Jadi Solusi

Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12.12 menjadi momentum “comeback”-nya TikTok Shop.

Namun, kali ini TikTok menggandeng local champion marketplace Indonesia, Tokopedia. Bermodalkan USD1,5 miliar atau setara Rp23 triliun, TikTok mengakuisisi 75,01 persen saham toko hijau tersebut.

Kolaborasi keduanya dianggap sejumlah pihak dapat membuat kompetisi e-commerce di Tanah Air semakin seru.

Pasalnya, perdagangan elektronik di dalam negeri saat ini didominasi pemain asing, yaitu Shopee dengan market share mencapai 40 persen. Sea Ltd. selaku induk perusahaan Shopee diprediksi akan terus memperoleh kucuran dana dari pemegang saham terbesarnya, Tencent.

Lazada juga tidak mau ketinggalan. Terbaru, Alibaba menyuntik USD634 juta atau setara Rp9,8 triliun ke anak perusahaannya itu.

“Sebenarnya kolaborasi Tokopedia dengan pemain global seperti TikTok bisa membuat Tokopedia memiliki potensi meraih posisi sebagai pemain e-commerce terbesar di Indonesia dan bisa mengimbangi pemain asing yang saat ini cukup gencar melakukan penetrasi pasar,” ungkap Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer.

Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya?

Beradaptasi dengan cepat di masa sekarang merupakan sebuah keniscayaan.

Para pedagang di Tanah Abang, pemilik online shop, ataupun kita sebagai penggiat UMKM harus sigap membaca setiap peluang. Terlebih, transformasi digital tengah menjadi isu yang hangat dan terus digembor-gemborkan oleh Pemerintah Indonesia.

Salah satu yang bisa dilakukan para pebisnis ialah dengan menghadirkan pengalaman berbelanja bernuansa unik dan baru.

TikTok Shop terbukti berhasil, kata Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya Arin Setyowati, karena memadukan hiburan bermedia sosial dengan kemudahan dan kecepatan dalam berbelanja.

Algoritma TikTok Shop menyajikan konten yang sesuai preferensi konsumen, diikuti pola tampilan produk yang juga sesuai keinginan pelanggan.

Social commerce akan menjadi tren digital marketing di masa mendatang. Tentu ini akan menciptakan persaingan yang lebih kompleks di pasar digital.

“Sehingga sudah seharusnya para pedagang, baik di pasar tradisional maupun digital harus bersiap untuk meningkatkan kapasitas diri dan bisnisnya dalam hal literasi digital dan perkembangan perilaku konsumen. Agar pedagang mampu menyediakan dan melayani kebutuhan konsumen secara tepat dan cepat,” paparnya.

5 Tren Digital Marketing di Tahun 2024, Pengusaha Wajib Tahu!

5 Tren Digital Marketing di Tahun 2024, Pengusaha Wajib Tahu!

Halo, para pebisnis!

Kita sudah sampai di tahun baru. Berapa banyak target penjualan yang berhasil tercapai? Mana strategi yang perlu dikembangkan? Bagian apa saja yang harus diperbaiki?

Dengan berakhirnya tahun 2023, selain mengevaluasi kinerja perusahaan, ini juga waktu yang tepat untuk meninjau tren digital marketing yang akan terbentuk di tahun mendatang.

Memahami tren yang berkembang tentunya berguna untuk merancang strategi penjualan sehingga Anda tetap menjadi yang terdepan dalam menjawab kebutuhan konsumen.

Berikut ini 5 tren digital marketing di tahun 2023 yang wajib diketahui oleh para pengusaha!

1. Peningkatan Penggunaan Video

Video terus menjadi elemen kunci dalam strategi pemasaran digital.

Di Amerika Serikat sendiri, mengacu data eMarketer, pertumbuhan konten berbasis video berpotensi naik 4,7 persen pada 2024. Konten tersebut termasuk video pendek, video berdurasi panjang, hingga iklan yang tayang di televisi.

Di antara jenis format video yang ada, konten seperti TikTok, YouTube Shorts, maupun Instagram Reels masih menjadi primadona.

Riset yang dilakukan oleh HubSpot terhadap 550 brand global menunjukkan, sebanyak 88 persen perusahaan memiliki tim video creator yang dedicated.

Baik brand B2C maupun B2B mengaku, video pendek (short-form video) menghasilkan ROI yang lebih besar. Bahkan jenis video ini juga lebih efektif dalam mendatangkan lead customer, menciptakan engagement yang lebih tinggi, lebih sering ditonton, serta menghasilkan clickthrough rate yang lebih besar.

2. Manfaatkan TikTok dan Ekosistem Meta

Bukan rahasia lagi kalau anak Gen Z dan Milenial itu suka banget berselancar di media sosial.

Kedua generasi tersebut pastinya merupakan pangsa pasar yang potensial di tahun-tahun mendatang. Karena itulah, Anda perlu tahu di mana tempat mereka berkumpul.

Survei dari GWI, perusahaan riset audiens global, mencatat bahwa Instagram menjadi media sosial yang paling banyak diakses oleh TikTok. Diikuti oleh TikTok dan Snapchat di bawahnya.

Data yang dirilis per 25 Juli 2023 itu mengungkap bahwa Facebook menempati posisi pertama sebagai media sosial yang paling sering digunakan kalangan Milenal, disusul oleh Instagram dan TikTok.

Platform TikTok diprediksi akan terus mengalami lonjakan pengguna.

Di samping memberikan kepuasan instan dalam bentuk “snackable video” berdurasi pendek, algoritma TikTok juga menawarkan konten yang related dengan jejak digital para penggunanya.

3. Kebangkitan AI

Anda mungkin sudah tidak asing dengan tools, seperti ChatGPT, Bard, Dall-e, dan sebagainya.

Teknologi AI (artificial intelligence/kecerdasan buatan) akan semakin banyak kita temukan, bahkan dalam kegiatan digital marketing. Mengintegrasikan AI dengan strategi pemasaran disinyalir menjadi tren yang berkembang pada 2024.

Contohnya, kini muncul Chatbot berbasis gambar AI yang sangat menyerupai manusia.

Mereka menjawab pertanyaan pelanggan dengan natural, memberikan respons secara instan dan efisien, hingga memberikan rekomendasi yang disesuaikan secara personal menurut riwayat pembelian dan preferensi customer.

Beberapa AI juga dibekali kemampuan menganalisis dan memprediksi.

Tools AI dengan keahlian tersebut dapat membantu Anda membuat keputusan bisnis maupun merancang strategi marketing berdasarkan data secara real-time.

4. Pencarian Suara (Voice Search)

Salah satu tren yang diperkirakan berkembang cukup signifikan ialah munculnya pencarian suara (voice search). Hal tu akan berdampak pada strategi SEO yang Anda gunakan.

Seiring semakin populernya voice assistant, seperti Siri dan Alexa, perusahaan harus menyesuaikan optimasi SEO mereka demi menjawab pertanyaan berbasis suara.

Ini artinya, Anda perlu berfokus pula pada kata kunci yang panjang (long-tail keyword) dan memastikan bahasa yang dipakai ramah terhadap penelusuran melalui suara.

Daripada sekadar mengoptimasi kata kunci “merek jilbab”, lebih baik kembangkan menjadi “merek jilbab segi empat yang bagus”.

Google sendiri mengatakan, hasil dari voice search memiliki akurasi mencapai 95 persen. Membuat website Anda cocok terhadap pencarian lewat suara sangat penting di masa depan.

5. Social Commerce

Para pedagang di Tanah Abang dibuat “menderita” oleh tren yang satu ini.

Social Commerce atau Perdagangan Sosial mengintegrasikan platform media sosial dengan fungsi e-Commerce. Hasilnya, pengguna dapat membeli barang langsung dari aplikasi media sosial tersebut, tanpa harus membuka aplikasi lain.

Tren inilah yang sempat diterapkan oleh TikTok sehingga dimusuhi banyak pedagang. Strategi mereka benar-benar mengevolusi cara orang berbelanja dan mendefinisikan ulang pola interaksi antara pelanggan dengan produk kita.

Walau terjadi pro-kontra, Social Commerce tetap mempunyai potensi yang besar apabila bisa dimanfaatkan dengan baik.

***

Pada dasarnya, tren digital marketing yang berkembang merupakan akumulasi dari semangat untuk membuat produk yang lebih baik, memasarkannya dengan strategi yang tepat, serta meningkatkan customer experience.

Bersiaplah menyambut tren tersebut dan beradaptasilah dengan cepat!