CEO Mastah Digital Indonesia Jadi Fasilitator Pelatihan Digital Marketing bagi Warga Binaan Lapas Cipinang

CEO Mastah Digital Indonesia Jadi Fasilitator Pelatihan Digital Marketing bagi Warga Binaan Lapas Cipinang

Jakarta, November 2023 — CEO Mastah Digital Indonesia Harseto didapuk menjadi fasilitator pelatihan digital marketing bagi 25 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Rabu (01/11).

Harseto menjabarkan, perkembangan zaman saat ini disebut oleh para ahli sebagai era industri 4.0. Itu artinya, teknologi digital adalah sebuah kepastian dan akan semakin sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi ia juga mengingatkan, rahasia dari proses transformasi digital bukan terletak pada kecanggihan teknologi semata.

“Semua kembali pada kualitas manusianya itu sendiri. Teknologi digital secanggih apa pun tidak akan berguna tanpa kemahiran dari individu yang mengelolanya,” ungkap dosen Kampus Bisnis Umar Usman tersebut.

Karena itulah, lanjut Harseto, siapapun bisa menerapkan teori-teori digital marketing. Bahkan mungkin orang awam atau yang lama telah mendekam di dalam penjara sekalipun.

“Saya dulu ini lulusan STM, mungkin sama seperti abang-abang. Dulu saya kerja manjat tower belasan sampai puluhan meter. Kemudian akhirnya saya banting setir ke dunia digital marketing. Saya mulai dari nol. Belajar, baca buku, ikut workshop, semuanya saya jalankan,” tuturnya.

Untuk diketahui, pelatihan digital marketing ini digelar oleh Lapas Kelas I Cipinang dengan dukungan dari 6 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Pelabuhan Indonesia, AirNav Indonesia, PT Wijaya Karya, PT Nindya Karya, PT Pembangunan Perumahan, dan PT ASDP Indonesia Ferry.

Menurut Kepala Lapas Kelas I Cipinang E.P. Prayer Manik, kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari komitmen BUMN dalam mendukung pengembangan komunitas dan membantu mempersiapkan warga binaan untuk kembali ke masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan CSR dari BUMN yang tergabung dalam program bertajuk PELITA WARNA yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kepribadian dan kemandirian warga binaan sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat serta dapat hidup secara wajar sebagai warga negara yang baik, taat hukum, bertanggung jawab, dan aktif berperan dalam pembangunan,” jelasnya.

Pelatihan difokuskan pada penguatan keterampilan dasar. Diharapkan warga binaan yang dalam beberapa bulan mendatang akan bebas dapat memahami kondisi dunia sekarang dan tertarik mempelajari digital marketing.

“Ketika nanti abang-abang dan bapak-bapak sudah bebas, bolehlah ketemu saya kalau mau belajar lagi tentang digital marketing,” pungkas Harseto.

Strategi Funneling untuk Bisnis yang Sukses

Strategi Funneling untuk Bisnis yang Sukses

Bayangkan di tangan Anda terdapat sebuah pipa atau corong. Kemudian Anda menuangkan minyak ke suatu wadah melalui corong tersebut.

Minyak tersebut tentu perlahan mengalir dari ujung corong dengan penampang besar ke ujung satunya lagi yang berpenampang lebih kecil, hingga masuk ke wadah tersebut.

Begitulah cara Funneling atau Sales Funnel bekerja untuk bisnis Anda.

Strategi funneling merupakan cara untuk memecah customer journey, mulai dari calon pelanggan mengenal produk Anda sampai mereka memutuskan untuk membeli.

Mula-mula, calon pelanggan akan dikumpulkan sebanyak-banyaknya pada ujung corong berpenampang besar.

Dari kumpulan calon pelanggan tersebut, tidak semuanya pasti membeli produk Anda, kan?

Melalui sejumlah langkah lain, calon-calon pelanggan tersebut akhirnya “tereliminasi” sehingga Anda memperoleh sekumpulan orang yang benar-benar menjadi customer.

Perhatikan gambar di bawah ini:

apa itu funneling

Sales Funnel atau bisa diartikan sebagai Saluran Penjualan terbukti berhasil meningkatkan penjualan berbagai perusahaan dan brand di seluruh dunia. Mulai dari UMKM maupun korporasi besar.

Untuk menerapkan strategi ini, setidaknya Anda harus menjalankan 4 tahap yang dikenal dengan AIDA: Awareness, Interest, Decision, Action.

A for Awareness (Kesadaran)

Ini adalah momen untuk menarik perhatian calon buyer. Misalnya, menulis blog dan mengembangkannya lewat teknik SEO, berbagi konten di media sosial, upload video di Youtube dan TikTok, atau pasang iklan di billboard.

Buatlah content marketing yang mengundang rasa penasaran manusia.

Dengan demikian, orang-orang mulai mengenal siapa Anda dan produk atau jasa apa yang ditawarkan.

I for Interest (Ketertarikan)

Ketika calon buyer masuk ke tahap ini, mereka akan mulai mencari lebih jauh mengenai brand Anda, membandingkan dengan toko sebelah, serta menunggu penawaran atau diskon tertentu.

Inilah saat yang tepat untuk menggiring mereka dengan konten-konten edukasi.

Tujuannya bukan langsung jualan. Melainkan, menaikkan kepercayaan mereka terhadap Anda, membantu konsumen membuat keputusan yang tepat, dan perlahan meyakinkan orang-orang tersebut bahwa Anda adalah solusi bagi permasalahan mereka.

D for Desire (Keinginan)

Pada tahap ini, konsumen sudah siap membeli produk Anda.

Meskipun terkadang, Anda bukanlah pilihan satu-satunya. Mereka bisa saja juga masih mempertimbangkan brand lain.

Karenanya, berikanlah penawaran terbaik bagi mereka. Contohnya, flash sale, gratis ongkir, bonus produk serupa, atau bundling produk dengan harga lebih murah.

Peran customer service cukup penting di sini. Ingat, produk Anda mungkin bagus, namun calon buyer tetap bisa kehilangan minat apabila tidak dilayani dengan baik.

A for Action (Tindakan)

Hore! Konsumen tampaknya sudah benar-benar percaya pada Anda. Mereka pun memutuskan untuk membeli. Setidaknya, untuk sekali mencicipi produk Anda.

Tapi bagaimanapun, mereka telah menjadi bagian dari ekosistem bisnis kita.

Dengan kata lain, kini saatnya mengembangkan strategi retensi agar pelanggan betah berlama-lama dengan produk Anda, siap membeli untuk ke sekian kalinya, bahkan menjadi brand evangelis yang senang membagikan testimoni positifnya ke mana-mana.

10 Tips Social Media Marketing ala Neil Patel untuk Bisnis Restoran

10 Tips Social Media Marketing ala Neil Patel untuk Bisnis Restoran

Bisnis makanan hampir tidak ada matinya, bahkan ketika badai pandemi Covid-19 datang menghantam.

Selama manusia butuh makan, selama itu pula bisnis ini berkembang.

Memang, berjuta restoran dan tempat makan yang akhirnya tutup. Terlebih, ketika pemerintah memberlakukan kebijakan PSBB dan PPKM.

Namun, tidak sedikit pula yang masih bertahan.

Sebagian besar di antaranya, segera beradaptasi dengan keadaan, lalu on boarding ke digital. Baik itu mendaftar sebagai merchant marketplace, bikin website, tampil di maps Google My Business, dan tentu saja eksis di media sosial.

Marketing di media sosial punya segudang manfaat bagi bisnis restoran kita. Berikut ini ada 10 tips Social Media Marketing ala Neil Patel demi meningkatkan traffic dan penjualan di tempat makan kamu.

Check this out!

  1. Ciptakan Brand Voice yang Konsisten

Bikin konten yang serius di Instagram, terus upload tweet video lucu?

Sebaiknya jangan, deh. Kamu malah bisa bikin konsumen bingung. Mereka nanti bakalan bertanya, “Ini beneran restoran yang sama, kan?”

Branding yang konsisten di beragam platform media sosial, kata Neil, berpotensi melejitkan omsetmu.

Bagaimana cara memastikan brand voice kita seragam di semua media?

  • Punya semacam panduan mengenai style marketing kita
  • Posting gambar dengan tema warna yang sama
  • Buat caption dengan tone yang konsisten
  1. Optimasi Bio di Semua Platform

Bayangkan, kamu mengerjakan seluruh hal secara baik.

Mulai dari memilih foto yang high resolution, memakai hashtag, serta menulis caption yang menarik.

Calon konsumen pun mulai berdatangan. Tapi, kok mereka tidak menemukan nomor telepon yang bisa dihubungi atau informasi mengenai lokasi restoran kamu?

Coba cek poin-poin berikut untuk melengkapi bio kamu di semua platform media sosial!

  • Nomor telepon/Whatsapp
  • Alamat email
  • Lokasi restoran
  • Maps atau petunjuk menuju lokasi tersebut
  • Deskripsi singkat mengenai restoran dan tempat makan kamu
  1. Gunakan Tools untuk Monitoring

Apa ya yang dikatakan kompetitor mengenai masakan kita?

Bagaimana ya testimoni dari para konsumen?

Mengetahui ulasan dan apa yang dibicarakan mengenai bisnis kita tentu dapat menjadi feedback yang berharga. Kita bisa mengevaluasi strategi yang selama ini diterapkan.

Ada banyak tools gratis maupun berbayar untuk membantu kamu tracking semua hal tersebut di media sosial, di antaranya:

  • Hootsuite
  • Google Alerts
  • Talkwalker
  • Reputology
  1. Bikin Konten ‘Behind the Scene’

Konten ‘Di balik layar’ kurang lebih menceritakan isi dapurmu. Dengan berbagi hal ini, audiens akan merasa lebih dekat dengan kita.

Sebuah studi terhadap lebih dari 10 ribu responden menunjukkan, 55 persen di antaranya mengakui bahwa cerita lebih bersifat persuasif dibandingkan data dan fakta.

Jadi, bisakah kamu mengunggah foto para staf yang sedang bekerja? Bisakah kamu membagikan cerita-cerita seru mengenai proses memasak dan menghidangkan makanan?

Ingat, orang-orang memakai media sosial untuk mencari hiburan. Pastikan strategi marketing kita menjawab keinginan mereka.

  1. Promosikan Menu Baru

Social media merupakan tempat yang ideal untuk meluncurkan menu baru.

Orang-orang mencintai novelty, mereka begitu mendambakan sesuatu yang baru.

Setiap kali kamu ingin mengenalkan menu anyar, tampilkan dia di media sosial. Manfaatkan kebaruan ini sebagai focal point dalam marketing kamu.

  1. Posting Aktivitas Para Pegawai

Masih dalam tema ‘Behind the Scene’, kamu bisa mendedikasikan sebuah postingan untuk memberikan highlight bagi para pegawai.

Ada beberapa cara untuk melakukan ini, misalnya:

  • Mengunggah foto karyawan ketika mereka meraih sesuatu, seperti lulus kuliah, menikah, melahirkan anak, dan sebagainya
  • Menceritakan profil mereka. Siapa namanya, apa yang dikerjakan, dan bagaimana konsumen dapat mendukung kehidupannya.
  • Memperkenalkan dan membubuhkan tanda selamat datang bagi pegawai baru
  1. Bagikan ‘User-Generated Content/Konten Buatan Pengguna’

Umumnya, orang-orang suka bercerita mengenai pengalamannya. Apabila mereka menampilkannya di media sosial, share itu!

Posting ulang di Instagram kita.

Teknik ini gratis, loh. Tapi impact-nya luar biasa. Testimoni positif tersebut akan meroketkan trust masyarakat dan berpeluang menarik lebih banyak pelanggan baru.

  1. Berinteraksi dengan Audiens

Kebanyakan tim marketing pasti senang sekali menjawab komentar positif di media sosial. Sebaliknya, kita sering mengabaikan respons negatif.

Ini bisa dimengerti.

Kita tetap punya dua pilihan: menghapus komentar tersebut atau justru menanggapinya dengan elegan.

Terkadang, review negatif sekalipun dapat menjadi sesuatu yang baik. Ketika kamu meresponsnya dengan cantik, orang akan melihat bahwa restoran kita tidak lari dari masalah.

Kita peduli terhadap pelanggan.

Kita memahami keluhan mereka, dan berusaha memperbaiki serta menghadirkan solusi terbaik.

Image tempat makan kita pun tetap terjaga, sembari masalah konsumen terselesaikan.

Win-win solution, bukan?

  1. Kolaborasi Bareng Influencer

Influencer, baik yang mikro ataupun yang sudah besar, memiliki audiens yang siap mencicipi makanan kesukaan idola mereka.

Jangan sia-siakan kesempatan!

Jika kamu belum pernah mengambil strategi ini, mungkin ini beberapa tips yang dapat dicoba agar bisa berkolaborasi dengan influencer:

  • Tawarkan santapan gratis yang “dibayar” dengan review di media sosial
  • Berikan kupon diskon untuk setiap konsumen yang berhasil mereka bawa
  • Jadikan mereka sponsor dengan bayaran tertentu untuk membuat konten khusus di feed Instagram
  1. Jangan Takut Memanfaatkan Iklan Berbayar

Pertimbangkanlah untuk menggunakan iklan berbayar demi mengoptimalkan social media marketing. Kalau punya dana lebih, tidak ada salahnya sedikit berinvestasi.

Facebook, Instagram, TikTok, dan platform lain biasanya menawarkan tools untuk promosi berbayar. Bukan hanya meningkatkan pendapatan, kamu juga bisa memperoleh data mengenai target pasar, behavior, minat, hingga kontak Whatsapp mereka.

***

Teruslah belajar dan mencoba.

Kegiatan marketing bukanlah aktivitas yang dijalankan di atas satu teori. Kita harus terus memperbarui strategi seiring algoritma platform tersebut yang tidak berhenti berubah. Apalagi, persaingan bisnis makanan terbilang cukup ketat.

Terlambat beradaptasi, restoran kita bisa mati!

5 Tips Sederhana agar Tetap Produktif Meski Bekerja dari Rumah

5 Tips Sederhana agar Tetap Produktif Meski Bekerja dari Rumah

Kata siapa bekerja di rumah itu enak?

Bagi sebagian orang, tetap produktif selama berada di rumah tidaklah mudah. Terkadang, ada saja urusan domestik yang perlu dituntaskan. Mulai dari cucian hingga piring-piring kotor. Belum lagi jika punya anak-anak kecil.

Ada nggak sih cara khusus untuk mengoptimalkan produktivitas di rumah seraya mengatur work-life balance yang tepat?

Demi menjawab pertanyaan tersebut, kami telah menyiapkan 5 tips simpel berikut supaya kamu tetap produktif selama working for home!

  1. Tidur Lebih Banyak

Loh, kok malah disuruh tidur?

Bekerja di rumah bukan berarti wajib on 24 jam. Kamu tetap harus menggunakan pola bekerja selama 8 jam setiap hari, kemudian tidur 7-9 jam di waktu malam. Boleh juga ditambah tidur siang sekitar 15-20 menit.

Pola ini akan membantu menjaga ritme tubuh. Tidur ibarat ramuan ajaib yang dapat meremajakan kulit dan pikiran. Otak yang segar tentunya lebih memberikan energi untuk menyelesaikan pekerjaan.

  1. Penuhi Nutrisi Tubuh

Walaupun penggila sains, Thomas A. Edison bukan hanya berkutat pada penemuan ilmiah. Dia juga menaruh perhatian pada bidang nutrisi dan kesehatan.

Pada 1903, Edison pernah berujar, “Dokter di masa depan tidak akan memberikan obat. Tetapi mereka akan menganjurkan pasiennya untuk mulai peduli pada tubuh, melakukan diet, serta menemukan penyebab dan metode pencegahan penyakit tertentu.”

Apa yang diserap tubuh memainkan peran besar pada apa yang kita rasakan sepanjang hari.

Dibandingkan cuma rasa, pilihlah santapan yang mendukung kesehatan. Misalnya makanan yang mengandung serotonin tinggi, seperti telur, tahu, ikan salmon dan kacang-kacangan. Serotonin merupakan enzim yang memproduksi perasaan bahagia.

Memenuhi tubuh dengan asupan yang tepat akan menjaga produktivitas kita dalam jangka lama.

  1. Yuk, Olahraga!

Selain mampu mengurangi berat badan dan memperbesar massa otot, olahraga juga punya segudang manfaat bagi kesehatan mental dan emosi kita.

Olahraga seperti bersepeda, lari, atau renang bisa membantu mengatasi depresi maupun kekhawatiran berlebih. Kegiatan-kegiatan tersebut turut meningkatkan aktivitas di frontal lobe, yakni bagian otak yang terasosiakan dengan perasaan positif dan proses kognitif.

Gerakan tertentu bahkan membantu tubuh memproduksi protein Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Jenis protein ini berperan dalam kemampuan belajar dan mengingat hal baru.

  1. Bikin Jadwal

Bekerja dari rumah memiliki banyak kemewahan dibandingkan di kantor. Karenanya, kita mudah sekali terjebak pada mindset “fleksibel”.

Waktunya kerja, dipakai istirahat. Saatnya istirahat, malah bekerja.

Saat bekerja secara remote, aturlah jadwal kapan dan bagaimana kamu mengerjakan setiap tugas. Tentukan jam berapa mulai dan berhenti bekerja.

Jadwal yang tepat akan menciptakan batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan harianmu.

  1. Teknik Manajemen Waktu

Kita sering menyalakan alarm untuk bangun tidur atau memasak. Tetapi kita hampir tidak pernah mengeset timers pada pekerjaan.

Manfaatkanlah teknik manajemen waktu demi membuat diri lebih disiplin di rumah. Contohnya, Teknik Pomodoro.

James Cirillo, si penemu teknik ini, memecah waktu pekerjaan menjadi periode-periode kecil.

Periode pertama, fokus bekerja selama 25 menit tanpa melakukan aktivitas lain. Kemudian, break singkat selama 5 menit. Begitu seterusnya. Kamu boleh berhenti sejenak lebih lama hanya pada 3 periode terakhir.

Teknik ini terbukti dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan dengan menghilangkan apa pun yang mengalihkan fokus kita untuk jangka waktu yang lebih lama.

***

Kunci paling penting dari produktivitas adalah menjauhkan segala macam distraksi. Tidak mudah, memang. Namun, semoga 5 tips sederhana di atas dapat membantu menjaga ritme kerjamu.

Menyelami 7P Marketing Mix, Pengusaha Wajib Tahu!

Menyelami 7P Marketing Mix, Pengusaha Wajib Tahu!

Sebagai orang yang terjun di dunia marketing, kita tentu tahu, meremehkan kekuatan dari planning adalah bentuk kebodohan yang nyata.

Begitu pula ketika hendak memasarkan suatu produk atau jasa.

Umumnya, kita harus menyepakati goal yang akan dicapai, mengidentifikasi pasar, lalu membuat sejumlah strategi.

Blueprint yang dipakai setiap bisnis bisa saja berbeda. Tergantung industrinya masing-masing.

Tapi, ada satu konsep planning marketing yang nggak ada matinya sampai sekarang.

Ialah… Marketing Mix.

Marketing Mix, Apa sih Itu?

Konsep Marketing Mix awalnya dikembangkan oleh Profesor Neil H. Borden yang menguraikan skema eksekutif bisnis milik James Culliton.

Selanjutnya Jerome McCarthy memasukkan empat komponen spesifik dalam konsep tersebut: Product, Place, Price, and Promotion. Kita mengenalnya dengan istilah 4P, tercantum dalam buku Jerome berjudul Basic Marketing: A Managerial Approach yang terbit pada 1960.

Pada 1981, dua akademisi modern Booms dan Bitner menuangkan tiga faktor tambahan, yaitu: Physical Evidence, People, dan Process.

Lengkap sudah konsep yang disebut 7P Marketing Mix.

7p marketing mix

 

  1. Product (Produk)

Poin product mereferensikan segala sesuatu yang kamu jual, baik produk, jasa, maupun pengalaman. Penting untuk menghadirkan produk berkualitas secara fungsi dan tampilan demi menjawab kebutuhan pelanggan.

  1. Place (Tempat)

Di mana kamu akan menjual produk atau jasa tersebut?

Place tidak hanya berbicara mengenai lokasi fisik. Tetapi juga bisa berarti website, media sosial, brosur, katalog, dan sebagainya. Dibandingkan ‘tempat’, lebih tepat menyebut place dengan ‘kanal distribusi’.

  1. Price (Harga)

Harga yang kamu tentukan harus merefleksikan keuntungan bisnis dan value yang diperoleh pelanggan.

Tidak selamanya harga yang murah dengan diskon yang beragam pasti laku di pasaran. Semua tergantung siapa target pasar serta seperti apa brand bisnis kamu.

  1. Promotion (Promosi)

Promosi. Di sinilah kita, orang-orang marketing, memfokuskan dirinya. Baik itu melalui direct marketing, public relation, iklan, atau membuat konten di media sosial.

Dengan promosi, kita berusaha menyampaikan pesan kepada konsumen. Mengapa mereka harus memilih kita dibandingkan kompetitor? Bagaimana produk dan jasa kita menjawab permasalahan mereka?

Aktivitas itulah yang kemudian akan menghasilkan penjualan, meningkatkan brand awareness, serta menaikkan pendapatan bisnis.

  1. Physical Evidence (Bukti Fisik)

Istilah physical evidence bukan sekadar merujuk pada bukti penjualan semata. Namun, seluruh aspek yang menunjukkan eksistensi bisnis kita.

Misalnya, website, media sosial, logo, jingle, dekorasi ruangan, bentuk packaging pada produk, kurir internal, dan masih banyak lagi.

Konsumen membutuhkan ini untuk menumbuhkan kepercayaan pada bisnis kamu. Dengan demikian, mereka bisa berbelanja secara aman dan nyaman.

  1. People (SDM)

People, dalam Marketing Mix, berarti adalah semua orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung pada bisnis kita.

Termasuk para sales, tim marketing, divisi manajemen, HRD, desainer grafis, copywriter, customer service, dan sebagainya.

Pastikan untuk melatih mereka dengan baik sehingga mereka bekerja secara profesional dan tampak ramah di depan konsumen.

Orang-orang tersebut, meskipun berada di balik layar, akan merepresentasikan bisnis kita. Karenanya, segala tindakan mereka sangat berpengaruh pada brand reputation dan kepuasan pelanggan.

  1. Process (Proses)

Kamu sudah punya produk dan target pasar, lalu bagaimana cara mengantarkannya kepada pembeli?

Di sinilah yang dimaksud dengan poin process.

Unsur ini mencakup dari calon pelanggan mengenal siapa kita dan apa produk yang ditawarkan. Kemudian mereka mencari tahu lebih dalam mengenai brand kita. Selanjutnya menghubungi customer service, bertanya-tanya, sampai pada tahap transaksi.

Tidak cukup demikian, kita juga memastikan produk diterima dengan baik oleh pelanggan.

Tugas kita ialah mengevaluasi setiap tahapan tersebut sehingga meminimalkan komplain dari pelanggan. Rasa puas dari konsumen merupakan prioritas utama sejak before sales, saat terjadinya sales, dan after sales.

***

Gagal merencanakan, bisa bermakna merencanakan kegagalan. Sangat penting bagi tim pemasaran untuk mengatur strategi dahulu sebelum mereka mempromosikan produknya.

Dengan 7P Marketing Mix ini, setidaknya kita memiliki guideline untuk merencanakan taktik yang efektif demi mencapai goal dalam bisnis.

Siapkan bolpoin kamu, dan ceklis satu per satu poin di atas!

5 Tools SEO Gratis untuk Riset Kata Kunci, Cocok buat Pemula!

5 Tools SEO Gratis untuk Riset Kata Kunci, Cocok buat Pemula!

Kata kunci atau keyword ibarat nyawa bagi optimasi SEO (search engine optimization). Dengan kata kunci yang tepat, SEO pun dapat hidup dan mampu mendorong halaman website kita ke page one Google.

Bagaimana mencari keyword yang cocok?

Berikut ini Mastah.id akan merekomendasikan 5 tools gratis yang bisa membantu kamu menemukan kata kunci yang tepat. Yuk, simak!

  1. Google Keyword Planner

Riset kata kunci nggak mungkin lepas dari tool paling populer ini. Bukan hanya gratis, Google Keyword Planner juga mudah digunakan. Cocok sekali buat kamu yang baru pertama kali bermain SEO.

Hasil yang keluar pun sangat memuaskan. Kamu dapat melihat volume pencarian kata kunci tertentu dalam satu bulan maupun tingkat kesulitan kompetisinya. Jika sudah pernah beriklan di Google Ads, data yang muncul biasanya jauh lebih detail lagi.

  1. SEMRush

Tool SEO gratis selanjutnya datang dari perusahaan asal Massachusetts, Amerika Serikat.

Saat mengetikkan kata kunci di Keyword Overview, kita akan diperlihatkan berbagai informasi seputar jumlah pencarian, keyword difficulty (KD), cost-per-click (CPC), variasi kata kunci, hingga pertanyaan terkait.

Menariknya, SEMRush pun memiliki fitur Keyword Gap. Ketika kamu memasukkan website kompetitor, SEMRush akan mengaudit kata kunci yang sering dipakai oleh situs tersebut.

  1. Ubersuggest

Pakarnya pakar SEO, Neil Patel, turut menghadirkan salah satu tools SEO gratis terbaik di dunia. Ubersuggest namanya.

Fitur di dalam tool ini terbilang lengkap. Mulai dari nilai performa domain, laporan kinerja SEO dari masing-masing halaman website, rekomendasi keyword, bahkan data backlink dari situs tertentu. Lumayan buat belajar strategi SEO dari kompetitor, hehe.

  1. Ahrefs Keyword Generator

Tools satu ini merupakan pesaing apple-to-apple dengan SEMRush. Kamu bisa memperoleh hasil analisis suatu kata kunci dan website secara mendalam. Selain volume pencarian, Ahrefs juga menawarkan 100 kata kunci rekomendasi yang dapat dipakai untuk menentukan long-tail keyword.

  1. KWFinder

Apabila kamu masih awam atau termasuk orang yang nggak mau ribet terhadap teknik SEO, maka KWFinder adalah pilihan yang tepat.

Tools ini meyakini bahwa SEO bukanlah rocket science. Tidak perlu terlalu menjadi ahli untuk memahami bagaimana SEO bekerja. Yang terpenting, teruslah konsisten membuat tulisan dengan kata kunci yang persaingannya rendah, tetapi mempunyai pencarian yang tinggi.

Karena itu, tampilan platform ini pun cukup sederhana. Tinggal masukkan kata kunci tertentu, KWFinder akan segera memberikan rekomendasi untukmu.

Nggak selamanya yang gratis itu murahan, 5 tools SEO berikut ini berhasil membuktikannya. Selamat mencoba!

4 Elemen Landing Page Sederhana

4 Elemen Landing Page Sederhana

Banyak orang menyangka, bisnis itu wajib punya website.

Nggak salah, sih. Dengan website, kita bukan sekadar jualan produk, melainkan bisa sekaligus mengedukasi dan memperoleh data calon pembeli.

Tapi biasanya bikin website itu lama dan butuh biaya banyak.

Karenanya, para pebisnis mulai beralih dari membuat website, jadi “hanya” membangun Landing Page atau halaman penjualan (Sales Page).

Landing Page punya banyak keunggulan tersendiri. Di antaranya proses pembuatan yang relatif mudah dan cepat, semua informasi produk dapat disajikan dalam satu halaman, serta wadah yang tepat ketika menjalankan Facebook dan Instagram ads.

Hmmm…

Bagaimana ya membuat landing page yang baik itu?

Setidaknya ada 4 elemen dasar yang harus ada dalam landing page bisnis kamu. Berikut ulasannya!

Bagian #1: Apa

Di bagian ini, utarakan siapa kamu dan produk atau jasa yang ditawarkan.

Berikan penjelasan secara lugas. Bila perlu, tambahkan foto produk.

Awali bagian dengan memberi Headline, lalu sambung dengan sub-headline.

Bentuk headline bisa bermacam-macam. Misalnya, memakai format pertanyaan:

Apakah Anda mau menurunkan berat badan dalam 7 hari?

Apakah Anda siap menjadi jutawan hanya dengan 3 langkah berikut?

Kamu juga bisa mencoba format pernyataan (statement), bercerita, maupun bentuk lain yang menerangkan nama dari produk kita.

Bagian #2: Kenapa

Selanjutnya, jabarkan mengapa orang-orang harus membeli produk atau jasa yang kamu tawarkan.

Pada bagian ini, kamu bisa bercerita mengenai:

  • Fitur-fitur yang terdapat di produk tersebut.
  • Kualitas produk yang dijual.
  • Kenapa produk kamu lebih unggul dibandingkan kompetitor.
  • Dampak bagi konsumen setelah membeli produk kamu.
  • Masalah apa yang dapat diselesaikan melalui produk itu.

Fitur dan manfaat produk, itu intinya.

Bagian #3: Harus

Biasanya, bagian ini disebut juga dengan OFFER.

Mereka yang sudah paham mengapa harus membeli produk kamu, pasti mau tahu dong berapa biaya yang akan dikeluarkan.

So, pertajamlah bagian ini.

Dengan begitu, pelanggan semakin paham konsekuensi yang diperoleh ketika mereka “berkorban” sesuatu bagi bisnismu.

Contohnya:

  • Kalau kamu jualan, pelanggan wajib tahu ada uang yang mesti dikucurkan.
  • Kalau kamu menawarkan lead magnet, pelanggan tahu bahwa mereka harus menyerahkan alamat email.
  • Kalau kamu meminta orang untuk instal aplikasi, pelanggan sadar bahwa mereka akan mengeluarkan kuota dan melakukan sign up.

Bentuk dari Offer ini juga bermacam-macam, antara lain:

  • Harga coret-coret
  • Garansi
  • Bonus
  • Paket bundling
  • Testimonial
  • Scarcity (diskon berakhir pada tanggal sekian, senin harga naik, stok tinggal X, dan sebagainya)

Nggak ada bonus dan garansi? Minimal banget kamu mencantumkan harga.

Bagian #4: Bagaimana

Sudah tahu produk beserta keunggulannya.

Sudah tahu harga dan penawaran bonusnya.

Kemudian apa?

Jangan lupa bikin CTA alias Call-to-Action.

Jelaskan dengan singkat dan mudah bagaimana pelanggan dapat memperoleh produk kamu. Contohnya:

  • Buatkan tombol “order” yang terhubung dengan CS melalui Whatsapp
  • Ajak pelanggan mengisi form, dan sediakan form untuk mengisi nama dan alamat email

Dengan empat komposisi di atas, kamu sudah bisa membuat landing page yang simpel dan menjual. Agar semakin banyak trafik yang masuk, iklankan lewat Mastah.id yuuk.

Strategi Hero-Hub-Hygiene untuk Membuat Content Marketing yang Ngangenin

Strategi Hero-Hub-Hygiene untuk Membuat Content Marketing yang Ngangenin

Bingung bagaimana membuat content marketing yang dilirik banyak orang dan selalu ditunggu kehadirannya?

Sekitar tahun 2013, Google memperkenalkan sebuah strategi untuk mengembangkan channel Youtube yang sukses menggaet penonton.

Strategi tersebut dikenal dengan konsep Hero, Hub, dan Hygiene.

Meski awalnya diterapkan dalam pembuatan video Youtube, strategi ini kemudian banyak diimplementasikan pada beragam jenis content marketing.

Tidak terbatas pada konten video.

Tidak terbatas pada satu macam platform.

Hero, Hub, Hygiene Model

Dalam menjalankan strategi ini, seorang creator harus membuat tiga jenis konten yang berbeda.

Masing-masing konten memiliki goal yang berbeda pula.

Ketika ketiganya dikombinasikan, content marketing yang kamu buat akan bekerja optimal untuk menjangkau audiens sebanyak-banyaknya, menjaga engagement dengan para follower, serta memperoleh penggemar baru.

Alhasil, konsep yang dirilis Google dalam The Youtube Creator Playbook for Brands ini bukan hanya dipakai demi membuat konten yang viral. Namun, juga bisa dimanfaatkan untuk membangun komunitas dan teknik pemasaran jangka panjang.

HERO CONTENT

Konten Hero ibarat sebuah panggung besar.

Tipe konten ini ditujukan untuk meraup penonton dalam jumlah besar. Dia harus sesuatu yang luar biasa. Menggebrak. Menarik masyarakat untuk melihat dan membicarakannya.

Seringkali, menciptakan konten Hero memerlukan sumber daya yang banyak. Baik waktu, tenaga, maupun pendanaan. Konten ini butuh direncanakan secara masak.

Tidak harus mahal, tapi berpotensi viral.

Karenanya, Hero content biasanya hanya muncul satu atau dua kali setahun.

Contoh konten Hero yang terkenal ialah proyek gila Red Bull yang mengirim Felix Baumgartnet ke luar angkasa. Dalam video di bawah ini, Felix lalu lompat ke Bumi hingga memecahkan rekor untuk terjun bebas tertinggi di dunia.

Aksi di luar nalar tersebut berhasil ditonton oleh lebih dari 45 juta viewers.

HUB CONTENT

Sesuai namanya, ini adalah konten penghubung.

Konten yang merawat interaksi dengan followers kita.

Hub content umumnya dibuat secara reguler, misalnya setiap pekan atau bahkan setiap hari. Orang-orang senantiasa menantikan ‘episode’ selanjutnya.

Berbeda dengan Hero content, jenis konten ini tidak bertujuan untuk viral atau merangkul massa dalam jumlah besar. Konten Hub berfungsi untuk menjaga hubungan dengan para penggemar.

Contohnya, kamu bisa membuat serial drama, tutorial make-up harian, bincang santai mingguan, dan masih banyak lagi.

Channel Nussa Official yang bercerita tentang kehidupan Nussa dan Rara adalah contoh Hub content yang tayang pekanan, yakni setiap hari Jumat jam 04.30 WIB.

HYGIENE CONTENT

Jika konten Hub adalah sesuatu yang BOOM, konten Hub menceritakan sesuatu, maka konten Hygiene berperan untuk menjawab pertanyaan.

Konten ini berupaya melayani orang-orang yang sedang mencari sesuatu.

Bentuknya beragam. Bisa video, blog, maupun infografis.

Hygiene content biasanya diproduksi lebih sering dibandingkan konten Hub. Frekuensi pembuatannya mirip dengan konten Hub.

Di sini, kamu bisa berbagi tips mengenai berternak lele, panduan membuat iklan di Facebook dan Instagram, maupun cara memilih jodoh dalam Islam. Sesuaikan saja dengan niche produkmu.

Kanal aquinaldoadrian berikut merupakan contoh bagaimana membuat Hygiene content. Di dalamnya berisikan video-video mengenai outift yang biasa dicari kalangan milenial.

MENGGABUNGKAN KONTEN 3H

Bisakah ketiganya dikombinasikan?

Tentu sangat bisa. Ketiga konten tersebut justru saling melengkapi untuk menggaet audiens, berinteraksi, sampai mereka menjadi konsumen loyal dari produk kita.

Contoh…

Rencanakan sebuah konten Hero berupa video iklan dengan konsep unik dan berpotensi viral.

Sembari menyiapkan konten tersebut, hadirkan konten Hub yang berbicara mengenai siapa kamu, apa yang dijual, manfaat dari produk, atau hal-hal yang menarik.

Luncurkan pula konten Hygiene untuk mengedukasi pelanggan. Kombinasikan bentuknya dalam format video, artikel blog, postingan di Instagram dan Facebook, atau konten TikTok. Berikan audiens serangkaian informasi bermanfaat yang tentunya masih relevan dengan niche bisnis kita.

Sudah dapat bayangan?

Semoga artikel ini bermanfaat dan selamat mencoba!

Facebook Ads 101: 20 Istilah dalam Facebook Ads yang Perlu Kamu Ketahui

Facebook Ads 101: 20 Istilah dalam Facebook Ads yang Perlu Kamu Ketahui

Ketika pertama kali bermain Facebook atau Instagram ads, sebagian orang langsung memutuskan mundur begitu saja. Mereka merasa asing dengan istilah-istilah yang ada di dalamnya.

Padahal kalau diteruskan sedikit lagi, istilah tersebut terasa biasa saja.

Kamu juga sedang belajar beriklan di Facebook?

Supaya tidak terlalu bingung, berikut kami jabarkan mengenai istilah-istilah dalam Facebook ads beserta pengertiannya.

A. Bagian Setting Awal

  1. Facebook Business Manager

Business Manager (BM) merupakan pusat pengelolaan iklan di Facebook. Seluruh aktivitas membuat iklan, mengukur metriks, pembayaran, dan sebagainya dilakukan dalam satu tempat sekaligus.

  1. Facebook Pixel

Pixel ialah kode tertentu yang berfungsi untuk merekam dan mengukur aktivitas audiens pada website yang diiklankan. Data yang disimpan dapat dikelola untuk membuat custom audience dan retargeting iklan.

  1. Campaign

Meski artinya sama-sama “iklan”, tetapi campaign berbeda dengan ads. Campaign ibarat struktur iklan di dalam Facebook yang mencakup adset dan ad. Setiap campaign dibedakan berdasarkan objective atau tujuan dari iklan kita.

  1. Adset

Setelah menentukan campaign, selanjutnya kamu akan membuat Adset. Yakni struktur Facebook ads yang berisi dari satu atau sekumpulan ad. Di sini, kamu dapat menentukan jadwal, rincian penargetan, hingga penempatan iklan.

  1. Ad

Ad merupakan materi iklan yang akan ditampilkan melalui Facebook ads. Kamu akan diminta memuat konten berupa foto, gambar atau video. Kemudian dilengkapi dengan headline atau judul, deskripsi atau copywriting iklan, serta website atau alamat url.

Inilah struktur paling penting dalam proses pembuatan Facebook maupun Instagram ads.

  1. Objective

Sesuai namanya, objective adalah tujuan dari iklan atau campaign kita. Facebook menawarkan beberapa pilihan objective. Misalnya, untuk meningkatkan engagement, memperbanyak traffic website, atau menaikkan penjualan (conversions).

  1. Custom Audience

Custom audience merupakan kelompok audiens yang terbagi dalam kategori berbeda.

Ada kelompok yang pernah mengunjungi landing page kita. Ada kelompok orang-orang yang memberikan like dan komentar pada materi iklan. Ada pula kelompok dari database kita sendiri berupa daftar nomor Whatsapp dan alamat email.

Nantinya, kita dapat beriklan dengan menyasar kelompok-kelompok tersebut tanpa perlu mengatur detail penargetan dari awal lagi.

B. Bagian Dashboard Iklan

  1. Dashboard

Dashboard atau dasbor merupakan tampilan visual dari data maupun informasi penting mengenai iklan kita. Data tersebut juga ikut disimpan dan dikelola. Dashboard Facebook ads disebut Ads Manager.

  1. Ads Manager

Istilah ini hanya nama lain dari dashboard Facebook ads. Di dalamnya berisi data seluruh campaign, adset, dan ad dari iklan kita. Kamu juga bisa melihat performa iklan berdasarkan impresinya, jangkauan, hasil, serta metriks lainnya.

  1. Impressions

Impressions adalah seberapa banyak iklan kita ditayangkan, meskipun dilihat oleh orang yang sama. Misalnya, saya melihat iklan A di beranda Facebook sebanyak 3 kali, maka impresi iklan A tersebut dihitung 3.

  1. Reach

Reach adalah seberapa luas jangkauan iklan kita berdasarkan pengguna Facebook yang melihatnya. Contoh, saya menemukan iklan A di beranda Facebook sebanyak 3 kali, maka reach iklan A tersebut tetap dihitung 1 karena akun yang melihat iklan itu hanya 1, yaitu saya.

  1. Results

Results bisa dibilang berapa banyak hasil yang didapatkan oleh iklan kita, sesuai dari objective yang dipilih.

Apabila objective-nya berupa traffic website, maka results akan menampilkan berapa banyak orang yang mengunjungi situs kita.

  1. Content Views

Metrik ini biasa dipakai untuk menunjukkan berapa banyak orang yang melihat website kita meskipun hanya sedetik.

Beberapa pakar Facebook ads terkadang lebih memilih Landing Page Views untuk mengetahui jumlah pengunjung website yang dihitung setelah website tersebut loading seutuhnya.

  1. CTR (click through rate)

CTR dapat diartikan sebagai rasio atau perbandingan antara berapa kali iklan tayang dengan jumlah orang yang mengeklik iklan tersebut.

Jika iklan kita dilihat 1.000 kali, dan diklik sebanyak 10 kali, maka CTR iklan tersebut adalah 10/1.000×100% = 1%

Umumnya, CTR yang bagus berada di atas 1%.

  1. CPR (cost per result)

CPR ialah perbandingan antara anggaran yang dihabiskan dengan nilai results.

  1. CPM (cost per millions)

CPM merupakan biaya per 1000 kali iklan tayang. Biasanya CPM yang bagus maksimal berada di angka Rp 50.000. Semakin murah CPM, maka kinerja iklan semakin dianggap baik.

CPM umumnya menjadi tolok ukur performa iklan. Apabila terlalu mahal, mungkin materi iklan perlu diubah. Baik dari segi konten maupun penargetan audiensnya.

C. Bagian Pengembangan

  1. Split Testing

Bikin iklan kok cuma satu?

Ya, tidak apa-apa. Kalau sudah level advance, biasanya satu campaign akan berisi beberapa adset. Lalu satu adset juga akan terdiri dari sejumlah ad berbeda. Ini yang disebut split testing, yaitu membuat variasi iklan untuk menganalisis model iklan mana yang winning atau bekerja optimal.

Split testing bisa dilakukan manual atau menggunakan fitur dari Business Manager.

  1. Scale Up

Istilah ini biasa diartikan dengan menambahkan budget atau anggaran karena iklan dinilai sebagai winning campaign. Dengan budget yang meningkat, diharapkan jangkauan dan hasil iklan pun turut melesat.

  1. Looaklike Audience (LLA)

Setelah menjalankan iklan sekali, kita dapat menerapkan LLA pada campaign berikutnya.

LLA merupakan target audience yang karakternya serupa dengan pelanggan kita. Data pelanggan tersebut dapat berasal dari iklan sebelumnya atau salah satu kelompok custom audience.

  1. Retargeting

Retargeting yaitu menargetkan kembali orang-orang yang pernah berinteraksi dengan iklan kita.

Contoh, sebelumnya kita menjalankan iklan video. Pada iklan berikutnya kita menargetkan lagi orang-orang yang pernah memutar video tersebut. Strategi ini biasa dipakai untuk mem-filter audiens, sehingga orang-orang yang dijangkau oleh iklan kita benar-benar sesuai dengan target market yang telah ditentukan.

***

Masih banyak lagi istilah di dalam Facebook ads. Seiring berjalannya waktu, kamu pasti akan memahaminya. Pelan-pelan saja. Dimulai dari mengenal 20 istilah di atas.

Ingat, manusia itu musuh dari sesuatu yang tidak diketahuinya. Kalau sudah tahu, bisa saja malah jadi sahabat!

Google Ads vs Facebook Ads; Mana yang Lebih Cocok untuk Produk Saya?

Google Ads vs Facebook Ads; Mana yang Lebih Cocok untuk Produk Saya?

Dalam dunia digital marketing, kita tentu mengenal dua metode paid marketing yang paling populer. Yaitu, Google Ads dan Facebook Ads.

Meskipun sama-sama iklan berbayar, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itulah, ada produk yang cocok diiklankan di Google, tapi kurang tepat di Facebook maupun Instagram. Begitu pula sebaliknya.

Bahkan ada pula produk yang bisa laku keras di kedua platform tersebut sekaligus.

Hmmm…

Produk saya lebih baik diiklankan di mana, ya? Yuk, kenali dulu 3 perbedaan Google ads dan Facebook ads berikut ini!

  1. Pedagang Pasar vs Penjual Sayur Keliling

Beriklan di Google ibarat berdagang di pasar. Kita membuka kios, menjajakan barang, lalu menunggu pembeli datang.

Mereka yang pergi ke pasar tentulah orang-orang yang serius mencari serta ingin membeli sesuatu.

Begitu pun di Google. Ketika seseorang mengetik kata kunci, search engine tersebut akan menampilkan website atau landing page yang kita iklankan. Tingkat closing di Google ads biasanya lebih tinggi karena mereka yang datang memang benar-benar sedang mencari atau membutuhkan produk yang dimaksud.

Sebaliknya, beriklan di Facebook mirip seperti penjual sayur keliling. Kita berjalan-jalan menawarkan barang dagangan, berharap orang-orang mengenal dan membeli produk kita.

Ada yang menolak?

Ya, wajar. Toh, tidak semua orang membutuhkan produk atau jasa kita. Karena itulah, penting untuk mengenali kampung mana saja yang dihuni banyak pembeli potensial. Tidak asal berkeliling ke semua jalan dan kompleks perumahan.

  1. Penayangan dan Metriks

Google beruntung karena ekosistemnya telah terbentuk secara matang. Iklan Anda bisa tampil di jaringan yang cukup luas. Bukan hanya di pencarian Google, melainkan juga merambah ke Youtube, Gmail, Maps, hingga aplikasi pihak ketiga.

Di samping, penargetan audiens dan laporan mengenai metriks iklan juga terbilang kompleks. Anda dapat memanfaatkan Google Keyword Planner dan Google Analytics untuk menemukan opsi target market yang lebih spesifik.

Adapun sistem trackingnya sudah terintegrasi dengan Google Tag Manager.

Dalam segi pelaporan, Facebook Ads pun menghadirkan pengukuran yang sama baiknya. Dashboard iklan Facebook telah menyediakan berbagai informasi mengenai impresi iklan, jangkaun, jumlah link click, biaya yang dikeluarkan, dan masih banyak lagi.

Sedangkan penayangan iklan tersebar di ekosistem yang terdapat dalam aplikasi Facebook dan Instagram.

  1. Tujuan Beriklan

Karena sifatnya yang rutin “berkeliling mencari konsumen”, Facebook Ads tepat digunakan untuk meningkatkan brand awareness dan mengedukasi calon pelanggan.

Apalagi jika produk Anda terbilang baru. Atau, belum banyak orang yang mengerti bahwa produk Anda menyelesaikan masalah mereka.

Tentu saja, Anda juga berpeluang memperoleh konversi dari Facebook Ads.

Berbeda dengan Facebook, Google Ads merupakan tempat untuk mendapatkan lead/kontak dan konversi secara langsung.

Cukup buatlah sebuah website, kemudian jalankan iklan. Sisanya, Anda menunggu orang datang setelah mereka mengetikkan keyword yang relevan dengan website tersebut.

Kesimpulan

Berdasarkan ulasan singkat di atas, sulit mengatakan mana yang lebih baik antara Google Ads dan Facebook Ads. Setiap platform memiliki keunikannya masing-masing.

Sebab itu, penting untuk Anda menjawab pertanyaan berikut sebelum memutuskan beriklan:

  • Apa tujuan dari iklan produk kita?
  • Target pembeli seperti apa yang kita tuju?
  • Seberapa besar anggaran iklan yang tersedia?

Dengan mempertimbangkan hal di atas, nantinya kita dapat menyimpulkan apakah akan beriklan di Google, di Facebook, atau keduanya sekaligus.

Nggak mau pusing memikirkan Google Ads atau Facebook Ads? Percayakan saja iklan Anda pada Mastah.id. Anda yang kembangkan produk, kami yang akan memasarkannya!